Date Sabtu, 26 July 2014 | 06:03 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Opini

Relasi Sehat Dokter-Pasien

Pribakti B

Dokter alumnus FK Unair

DI tengah maraknya rasa ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan dokter, tentu hubungan dokter dengan pasien sedikit banyak terpengaruh. Timbul pertanyaan: bagaimana hubungan yang ideal dan sehat antara dokter dan pasien?

Tidak mudah menjawabnya. Banyak dokter yang menganggap dirinya serbabisa, sementara pengetahuan pasien mengenai penyakitnya minim sekali. Akhirnya pasien hanya ”pasrah” di tangan dokter. Padahal, sebagai pasien, dia memiliki hak untuk menentukan dan memilih kesehatannya sendiri.

Harus diakui, dalam kenyataannya, ada dokter yang bijak dan ada dokter yang tidak bijak. Dokter yang tidak bijak biasanya akan mementingkan diri sendiri, memberikan resep yang mahal, menyuruh pasien melakukan pemeriksaan yang tidak perlu, dan yang tergawat melakukan malapraktik karena kurang ahli. Nah, dokter yang bijak harus memiliki empati, moral, etika, logika yang baik, ilmu yang luas, serta keterampilan mutakhir. Itulah dokter yang bijak dan tidak bijak.

Yang pasti, menurut Prof Suyunus dari Surabaya dalam orasi ilmiahnya, semua orang pintar dapat menjadi dokter, tetapi tidak semua orang pintar adalah orang baik, hanya orang pintar yang baik yang dapat menjadi dokter yang baik.

Mungkin Anda tidak setuju atau memiliki pendapat sendiri. Tetapi, kalimat tersebut mengandung makna yang penting pada pendidikan seorang dokter. Misalnya, tidak semua orang pintar adalah orang baik. Terlihat ada kebenaran pada kalimat tersebut. Kenyataannya, di negara ini banyak orang pintar, tetapi jahat. Orang-orang ini adalah para koruptor, para pemimpin yang ingkar janji, para eksekutif yang gemar memperkaya diri sendiri, dan lain sebagainya.

Lebih jauh, yang namanya pelayanan penyembuhan penyakit seyogianya berlangsung dalam suasana harmonis, kekeluargaan, dan membahagiakan. Ini bisa berlangsung apabila dokter bekerja dengan profesionalisme tinggi hingga mampu memuaskan pasien.

Sebab, salah satu aspek kepuasan pasien adalah pasien memperoleh haknya dan diberi kesempatan untuk melaksanakan kewajibannya. Itu hanya dapat dilakukan oleh dokter bijak.

Tentu saja, dalam hal ini saya tidak punya kapasitas memilah dan memilih siapa yang termasuk dokter bijakdan tidak bijak. Tetapi, tentu kita (dokter) semua harus berupaya meletakkan profesi kedokteran pada fungsi luhurnya di tengah pergeseran nilai dalam pelayanan kesehatan saat ini.

Bukan hal yang harus ditutup-tutupi memang, ada dokter yang berorientasi pada uang, bukan dokter yang tulus membantu menyembuhkan si sakit. Alasannya macam-macam. Misalnya, pendidikan kedokteran sekarang mahal dan lama. Disorientasi dalam praktik seperti ini mengakibatkan tidak sedikit dokter senior menjadi sangat diminati pasien sehingga mereka harus berpraktik sampai terkantukkantuk hingga dini hari. Padahal, pasien bisa dirujuk atau didelegasikan kepada dokter lain. Sebab, bukan tidak mungkin kondisi itu malah membuat dokter tidak bisa bekerja maksimal dan mengecewakan pasien.

Ada pula dokter yang gemar menggunakan peralatan kedokteran meski tidak pada tempatnya. Misalnya, untuk mendiagnosis batuk pilek ringan saja, dokter harus melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap. Keluhan pusing ditanggapi dengan perlunya pemeriksaan CT-scan. Di sinilah pasien harus pintar memilih dokter.

Celakanya, situasi yang kacau seperti ini direspons tidak proporsional oleh pengacara. Dengan dalih melindungi hak pasien, mereka serta-merta menuding kesalahan dokter. Asal tahu saja, tidak semua pengacara mampu memilah mana kesalahan dokter dan mana kegagalan atau komplikasi.

Beberapa pengacara tidak memiliki etika dan sering membujuk pasien untuk mengajukan tuntutan kepada dokter. Bahkan, ada pula yang janji tanpa bayaran bila kliennya kalah dalam pengadilan. Akhirnya apa yang terjadi? Banyak pasien yang mengajukan tuntutan hukum kepada dokter, sedangkan dokter tidak mau kalah, mereka bersikap defensif.

Jadi, tidak usah heran bila kini semakin banyak pasien yang lari berobat ke luar negeri karena tak lagi memercayai kompetensi dokter Indonesia. Hubungan dokter-pasien seperti inilah yang akan menimbulkan jarak psikologis antara dokter dan pasien. Seolah-olah ada dua pihak yang menandatangani kontrak perjanjian: pasien harus membayar dan dokter harus bekerja. Dengan demikian, terasa unsur bisnis yang kental. Akibat pola seperti ini, hubungan pasien dengan dokter sedikit terganggu. Masyarakat akan mudah tidak puas dan dokter tetap bersikap defensif.

Untuk itu, ke depan perlu dirumuskan suatu pola hubungan baru, yaitu pola kemitraan pasien dan dokter. Hubungan kemitraan yang dimaksud di sini adalah upaya bersama dokter dan pasien dalam penyembuhan penyakit. Sesungguhnya inilah hubungan ideal dokter dengan pasien. Sebab, dalam kondisi sakit, baik berat maupun ringan, baik fisik maupun mental, seorang pasien pasti butuh dokter.

Di lain sisi, jangan sampai Anda sebagai pasien malah disalahgunakan dokter yang tujuan utamanya adalah mencari uang tanpa memperhatikan kondisi pasien. Bagaimanapun, budaya saling menghargai mesti dikembangkan agar ada rasa saling percaya antara pasien dan dokter. (*)

Opini lainnya

Komentar