Date Rabu, 23 July 2014 | 21:11 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Tajuk Rencana

Air Mengalir tak Sampai Jauh

-

Air adalah sumber kehidupan. Apa jadinya kalau sumber air tak lagi menyentuh kehidupan. Itulah yang dialami masyarakat Kuranji, Koronggadang, Taratak paneh hingga Kalumbuk Kecamatan Kuranji, Padang. Pasalnya, aliran Batang Kuranji yang bersumber dari Bendungan Gunungnago Kelurahan Lambuangbukik, tak lagi bisa mengaliri bandar dan saluran irigasi sejak jebol Juli 2012 lalu. Hampir setahun, warga di sepanjang aliran sungai itu selalu kekeringan bila musim kemarau melanda. Setidaknya sejak bendungan itu jebol, sudah lebih tiga kali warga menderita kekeringan. Akibat bandar kering sumur warga juga kering, kolam ikan dan areal pertanian otomatis juga kering kerontang. Gagal panen padi dan ikan memukul ekonomi warga. Lebih dari itu, untuk kebutuhan sehari-hari, warga sangat kesulitan mengakses air bersih lantaran sumur kering.

Parahnya, untuk mandi, cuci, kakus terpaksa ke sungai Batang Kuranji. Bagi yang jauh dari sungai terpaksa numpang di rumah warga yang berlangganan air PDAM (itu kalau airnya lancar, sebab air PDAM juga sering macet atau mati).

Tiap kali kekeringan warga selalu menjerit. Ironisnya jeritan itu hanya didengar saja oleh pihak terkait yang (mungkin) tak pernah merasakan sengsaranya hidup kesulitan air.

Jeritan itu terhenti bila musim hujan datang. Ibaratnya, panas setahun hilang oleh hujan sehari. Warga pun bersuka cita menyambut hujan dan lupa dengan penderitaan saat musim kering.

Celakanya, pihak berkompeten pun iku-ikutan lupa dengan tugas dan kewajibannya. Hingga datang musim kemarau bulan ini yang sudah berjalan seminggu lebih.

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumbar Ali Musri mengatakan, usulan pembangunan permanen irigasi sebesar Rp32 miliar dari pemerintah pusat belum ada kepastian. Pemprov baru bisa melakukan perbaikan darurat dengan memasang tiga bak penampungan di bendungan yang jebol tersebut.

Bak penampungan ini tak bisa menampung air untuk dialirkan ke saluran irigasi dan bandar dekat pemukiman warga saat musim kemarau tiba. Itulah sebabnya sampai saat ini, bila tak turun hujan hingga seminggu, air tak lagi mengalir sampai jauh ke pemukiman warga dan areal pertanian.

Yang jadi pertanyaan kita, apakah tak ada upaya pihak terkait ini mendesak pemerintah pusat untuk segera merealisasikan dana perbaikan bendungan ini. Tidak bisakah diupayakan sumber dana lain dimanfaatkan untuk proyek ini?

Alasan Ali Musri bahwa warga kekeringan di hilir karena perilaku warga yang menghambat aliran air di hulu juga tak sepenuhnya benar. Sebab sebelum bendungan ini jebol meski air dihambat warga di hulu tapi masih ada mengalir sampai ke hilir meski debitnya kecil.

Begitulah, apakah jeritan warga di hilir kali ini juga masih tak mangkus dan hilang hingga datang musim hujan?

Ini sangat tergantung kepada perjuangan dan keseriusan pihak terkait termasuk para wakil rakyat baik di daerah maupun di pusat untuk memerjuangankannya. Mana janji-janji para pemimpin dan wakil rakyat saat kampanye dulu. Hingga kini rakyat masih menunggu. (*)

Tajuk Rencana lainnya

Komentar