Date Selasa, 29 July 2014 | 01:26 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Kepedulian Sosial

Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Kepedulian Sosial

Seringkali hati saya miris saat berhenti di sejumlah perempatan jalan, termasuk di Kota Padang. Pemandangan serupa hampir setiap hari kita temukan di sana. Sejumlah ibu-ibu menggendong bayi, orang cacat bahkan anak-anak beumur sekitar 8 sampai 10 tahun yang seharusnya belajar di bangku kelas dua atau tiga sekolah dasar.

Mereka berasal dari latar belakang yang beragam, dan kondisi yang berbeda-beda, namun tujuan mereka sama, yaitu mengemis. Kadangkala hati saya menjadi mendua, di satu sisi kasihan dan ingin membantu mereka. Namun di sisi lain, apakah dengan memberikan sedikit uang kepada mereka akan dianggap sebagai reward (penghargaan) atau sebagai dukungan atas apa yang mereka lakukan?

Yang pasti jumlah pengemis dan anak jalanan yang beroperasi di perempatan jalan terus bertambah. Apakah ini disebabkan oleh pekerjaan mengemis dianggap sebagai sebuah peluang yang cukup baik untuk memperoleh nafkah, ataukah pekerjaan mengemis terpaksa mereka lakukan karena memang tidak ada pilihan lain?

Menurut saya muncul dan makin maraknya pengemis dan anak jalanan salah satu penyebabnya adalah sikap masyarakat yang semakin individualistis dan makin pupusnya kepedulian sosial di tengah masyarakat. Dulu hubungan kekerabatan dan kepedulian masyarakat sangat kuat, terutama di Sumatera Barat. Jika ada saudara, meskipun bukan kerabat dekat, mendapat kesulitan, maka pertolongan, simpati, cepat diberikan.

Dulu, ikatan sesama suku, ikatan satu kampung atau ikatan sesama kabupaten atau sama provinsi cukup kuat, saling membantu, kepedulian sangat tinggi. Kini, rasa kekeluargaan dan kepedulian tersebut jauh menipis. Definisi keluarga itu makin menyempit, yang dianggap kerabat dan keluarga hanya sebatas ayah, ibu dan anak. Gaya hidup semakin individual

Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri saat meresmikan program bedah rumah di Padang bulan lalu mengatakan, memang rasa kepedulian sosial masyarakat saat ini makin menipis. Jika ketemu seseorang ditabrak mobil misalnya, maka seseorang yang melihatnya akan berpikir, ah... biar saja, toh dia bukan keluarga saya, bukan anak saya. Jika seseorang kesulitan, tak punya makanan yang akan dia makan hari ini, tak ada masyarakat sekitarnya yang peduli, tak ada yang membantu. Hal ini merupakan salah satu alasan yang menyebabkan akhirnya mereka turun ke jalan menjadi pengemis.

Hal ini memang merupakan tanggung jawab pemerintah provinsi, kota dan kabupaten setempat untuk mengatasinya. Namun dalam praktiknya kemampuan pemerintah sangat terbatas. Jumlah pengemis dan anak jalanan terus meningkat dan banyak masalah-masalah lain yang juga harus diselesaikan.

Karena itu saya sependapat dengan Menteri Sosial Jufri Salim Segaf Al Jufri, persoalan tersebut muncul akibat kepedulian masyarakat yang semakin berkurang. Solusinya adalah menggalang dan memperkokoh kepedulian sosial, membangun semangat, kebersamaan, gotong royong, saling membantu dan saling peduli.

Pemerintah provinsi, kota dan kabupaten tentu harus bekerja keras dan memberikan perhatian serius untuk menyelesaikan masalah ini. Jika masyarakat juga ikut turun tangan secara serius tentu masalah ini bisa kita selesaikan dengan baik. Caranya adalah dengan meningkatkan kepedulian sosial, saling peduli, bergotong royong, saling membantu. Bukankah dalam agama Islam dan dalam agama apa pun telah lama mengajarkan hal-hal seperti ini?

Hal kedua, menurut saya, sebaiknya jangan memberikan sedekah di perempatan jalan atau perempatan jembatan, baiknya sedekah diberikan langsung di rumah bersangkutan. Dengan demikian, mereka tidak perlu lagi turun ke jalan, anak-anak bisa sekolah dan belajar di rumah tanpa harus menghabiskan waktu di jalanan. Mereka juga terhindar dari risiko kecelakaan di jalanan.

Jika kita sama-sama sepakat dan serius mengatasi masalah ini, saya yakin tidak ada lagi pengemis di jalanan, tidak ada lagi anak-anak kita yang tugas mereka seharusnya adalah belajar, namun terpaksa berkeliaran di jalanan. Saya yakin, tantu kita tidak ingin dan malu jika sanak kita, orang kampung kita atau kaum kita menjadi pengemis di jalanan. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar