Date Kamis, 31 July 2014 | 12:21 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Gempa Pesisir Selatan

Badrul Mustafa

Ketua Himpunan Ahli Geofisika Indonesia Sumbar

Gempa Pesisir Selatan

Hari Kamis (7/2) lalu, baru saja selesai azan subuh (pukul 05.12 WIB), warga Padang dikejutkan gempa yang agak kuat dirasakan, yang berlangsung singkat (3 sampai 4 detik). Data dari BMKG beberapa menit setelah itu menyebutkan bahwa lokasi episentrum gempa berada pada 56 km barat daya Pesisir Selatan dengan kedalaman pusat gempa yang sangat dangkal, yakni 10 km.

Sebetulnya, magnitudo gempa tersebut tidaklah terlalu besar, hanya 5,6 SR. Namun karena jaraknya yang sangat dekat dengan pantai barat Sumatera Barat, hanya 56 km, maka intensitas yang dirasakan cukup membuat warga sedikit panik dan banyak yang berlarian keluar rumah.

Dilihat dari posisi episentrum gempa tersebut yang terletak di Selat Mentawai antara Pulau Sipora dan Kabupaten Pesisir Selatan yang berada pada kedalaman hanya 10 km di bawah permukaan laut, maka dapat dipastikan bahwa gempa tersebut bukan produk dari subduksi (tumbukan) lempeng Indo-Australia dengan Eurasia, tapi berkemungkinan besar produk dari pergeseran pada patahan mendatar di selat tersebut. Lain halnya jika kedalaman gempanya lebih dari 60 km, maka ia merupakan produk dari subduksi ini. Sebab subduksi menyebabkan lempeng Indo-Australia menghunjam di bawah Mentawai-Sumatra-Kalimantan, sehingga bidang pergesekan yang merupakan tempat terjadinya akumulasi energi (yang juga berarti sumber gempa) miring. Artinya mulai dari palung di Samudera Hindia gempanya dangkal dan semakin ke arah Sumatera pusat gempanya semakin dalam. Di Selat Mentawai, antara pulau-pulau non-volkanik (mulai dari Simeulue, Nias, Mentawai sampai Enggano) dan pulau Sumatera, kedalaman pusat gempa akibat subduksi ini adalah sekitar 30 km sampai sekitar 80 km.

Dua setengah jam setelah gempa di pesisir Selatan, tepatnya pukul 07.41 WIB, kembali terjadi gempa di dekat kota Sibolga dengan M 5,3. Tapi dengan kedalaman 84 km di bawah permukaan laut, maka gempa ini merupakan produk dari subduksi. Jadi berbeda dengan gempa sebelumnya di Pesisir Selatan. Lalu apa dampak dari kedua gempa yang terjadi pada hari yang sama tersebut, terutama gempa yang di Pesisir Selatan terhadap kehidupan? Bagaimana kalau muncul gempa susulan yang lebih besar di sekitar tempat yang sama, apakah akan muncul tsunami? Ini pertanyaan yang sering muncul di tengah-tengah masyarakat.

Walaupun episentrum gempa di Pesisir Selatan itu berada di dasar laut, namun karena ia bukan di daerah megathrust, maka ia tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Bisa saja gempa ini merupakan gempa pendahuluan, yang akan diikuti oleh gempa utama, akan tetapi meskipun keluar gempa utama yang dari segi kekuatan memenuhi syarat untuk menimbulkan tsunami, maka tsunami insya Allah tidak akan timbul. Sebab gerakan batuan yang terjadi di daerah patahan geser adalah horizontal, sedangkan gerakan batuan akibat gempa di dasar laut yang memicu tsunami adalah vertikal, misalnya di daerah megathrust di mana di situ terdapat patahan tegak atau miring.

Kalau kita lihat data dari BMKG dan USGS, ternyata tanggal 31 Januari dan 2 Januari 2013 yang lalu serta 23 November 2012 telah terjadi gempa di tempat yang kurang lebih sama dengan Magnitudo 5,0. Hanya saja, ketiga gempa sebelumnya ini tidak terasa sampai ke Padang. Adanya gempa-gempa dengan waktu yang berdekatan ini dengan kekuatan sekitar 5 SR, maka penulis yakin bahwa di sini ada patahan mendatar (sesar transform).

Adanya sesar ini sebagai konsekuensi logis akibat tumbukan lempeng Indo-Australia yang oblique (menyerong) di depan Sumatera, sehingga menghasilkan patahan seperti patahan Sumatera (sesar Semangko) dan patahan Mentawai. Kedua patahan besar ini ditemukan tahun 1947 (sesar Semangko) dan 1990 (sesar Mentawai). Hanya saja, di dalam Selat Mentawai belum dilakukan survei seismik untuk memetakan struktur di dasar lautnya, sehingga keberadaan sesar-sesar yang sejajar dengan sesar semangko dan sesar Mentawai belum diketahui. Sebab kapal yang digunakan untuk penelitian sesar Mentawai dulu (KM Baruna Jaya) nampaknya tidak efektif digunakan di dalam selat. Dan untuk melakukan penelitian seismik di laut ini dibutuhkan biaya yang besar, sehingga biasanya Indonesia harus bekerjasama dengan negara lain seperti Perancis, Jepang, dll.

Pertanyaan lain yang juga sering muncul adalah, apakah ia (gempa akibat sesar geser di Selat Mentawai ini) dapat memicu atau mempercepat keluarnya energi di segmen Siberut yang tersimpan? Mengingat bahwa mekanisme terjadinya gempa di sesar geser ini berbeda dengan gempa di segmen Siberut yang merupakan produk dari subduksi, maka bisa dikatakan bahwa kecil kemungkinan ia dapat memicu keluarnya energi gempa yang tersimpan di segmen Siberut. Kalau akhirnya gempa besar di segmen Siberut ini keluar, ini memang sudah waktunya, karena ia sudah berada pada periode ulang 200-250 tahun sekali. Terakhir kali gempa yang terjadi di segmen ini adalah tahun 1797 dengan kekuatan 8,7 SR. Kala itu gempanya diikuti oleh tsunami yang sampai ke pesisir pantai Sumatera Barat. Di Padang gelombang tsunami masuk sampai sekitar satu kilometer ke darat.

Jadi, ancaman bencana alam geologis (gempa dan tsunami) yang terbesar tetap dari segmen Siberut. Sebab dari hasil analisa berbagai pakar, walaupun sejumlah gempa cukup besar di segmen ini sudah terjadi sejak 10 April 2005 sampai 30 september 2009, namun nampaknya energinya belum setara dengan yang biasanya terjadi sesuai periode ulangnya, seperti yang terakhir terjadi tahun 1797 dengan kekuatan 8,7 SR. Akan tetapi, tidak seorang pakar pun tahu kapan waktunya gempa besar tersebut keluar. Kita juga tidak tahu apakah energi yang tersimpan itu akan keluar dalam bentuk sebuah gempa sangat besar, atau ia keluar dalam bentuk sejumlah gempa yang tidak terlalu kuat. Kita juga tidak tahu apakah akan terjadi tsunami atau tidak, walaupun yang keluar adalah gempa besar. Sebab terjadi atau tidaknya tsunami dari segmen Siberut ini tergantung di mana episentrum gempanya. Kalau terjadi di selat antara Kepulauan Mentawai dan Sumatera, kecil kemungkinan tsunami akan terjadi. Begitu juga kalau episentrumnya di selat-selat sempit antar pulau-pulau di Kepulauan Mentawai itu, bila terjadi tsunami maka intensitasnya juga tidaklah besar, sebab rupture yang terjadi juga tidak besar, tidak seperti yang terjadi di Aceh yang sampai lebih dari 800 km.

Namun begitu, untuk keperluan mitigasi, agar risiko dapat dikurangi seminim mungkin, maka langkah safety harus diambil. Misalnya dengan menetapkan zona merah tsunami dilebihkan dari hasil perhitungan yang didapatkan para pakar. Dengan demikian, di dalam benak masyarakat akan muncul kearifan bahwa ia harus berupaya mengevakuasi diri dari zona merah dengan ketinggian yang direkomendasikan tersebut.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini dapat disampaikan sebagai berikut: gempa dangkal di Selat Mentawai kemungkinan disebabkan oleh aktivitas sesar geser, yang tidak berbahaya untuk kepulauan Mentawai maupun Pulau Sumatera. Ia juga tidak berpotensi tsunami. Namun gempa kuat dan dangkal di Kepulauan Mentawai sampai ke daerah palung sebelah barat kepulauan (Samudera Hindia) bisa berbahaya baik untuk Sumatera, terutama bagi Mentawai sendiri. Intensitas gempa ini akan tinggi di Mentawai dan menurun ke arah Sumatera. Ini berpotensi menimbulkan tsunami. Intensitas tsunami juga lebih tinggi di Mentawai daripada di Sumatera.

Untuk itu, kewaspadaan harus selalu ditingkatkan. Mitigasi harus dilakukan dengan sebaik-baiknya, misalnya dengan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi, terutama bagi masyarakat yang tinggal di Kepulauan Mentawai. Sebab daerah inilah yang memiliki kerentanan dan ancaman paling tinggi, baik dalam hal intensitas gempa maupun tsunami, lebih tinggi dibandingkan 6 kota dan kabupaten lainnya di pesisir Sumbar. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar