Date Jumat, 1 August 2014 | 16:49 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Cucu Magek Dirih

Perubahan dari dalam Diri

H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Perubahan dari dalam Diri

Di antara kegiatan manusia, khususnya kegiatan otak dan terlebih hati, yang sangat menguras energi adalah mendengki, bahkan dibandingkan dari ambisius dan tamak. Dengki artinya menaruh perasaan marah (karena benci dan tidak suka), karena perasaan iri hati yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain (ada istilah tak senang melihat keberuntungan oranglain/senang melihat orang gagal/tersungkur/bersalah). Hati merasa dengki dan atau mendengki, membenci perasaan karena iri hati pada orang lain/tetangga/teman sekerja—sebetulnya lebih baik energi digunakan secara positif/memilih berusaha menyamai. Kalau tamak dan ambisi pula dapat dipandang ”secara positif” karena kedua perasaan/sifat itu dapat menghasilkan/memberi hasil—hanya seringkali berlebihan dan mungkin merugikan orang lain.

Yang menjadi masalah, bilamana kedengkian/kebencian/keirihatian itu mengapung karena ketidakmampuan untuk berbuat sebaik/setingkat orang yang didengki (orang yang menjadi sasaran kebencian). Ada usaha memaksakan diri di atas keberdayaan menjadi tumbuh/berkembang dalam bentuk dengki/kebencian terhadap orang lain/tetangga/teman sekantor yang tampil lebih baik/lebih berhasil/lebih menghasilkan/lebih sukses. Maka bentuk penyaluran energi berupa kedengkian/kebencian karena tidak berdaya itu sangat menguras energi/sangat melelahkan. Sebetulnya, kita harus merasa kasihan kepada orang yang mendengki/membenci karena tidak dapat berbuat/menyalurkan energinya secara positif. Seringkali, orang yang marah karena mendengki/merasa iri hati putus asa, dan hanya dapat berharap orang yang didengkinya gagal/jatuh/hancur.

Pengalaman Cucu Magek Dirih, seringkali ia memperhatikan adalah banyak orang-orang yang begitu mendengki/beriri hati padanya, tapi, Cucu Magek Dirih pula mengabaikannya saja. Itu karena Cucu Magek Dirih menerapkan ajaran dari inyiaknya—dari falsafah silat tinggi luambek, bahwa tak semua serangan harus diterima/ditahankan, tapi, dibiarkan lewat—hal yang mungkin membuat orang yang bersangkutan menahankan hati/perasaan entah ke mana hendak dilepaskan/perasaan hendak ke mana dikatakan atau dicurhatkan. Jadi, dari pengalaman Cucu Magek Dirih, ia mengetahui ada orang yang berniat jahat/melakukan sesuatu yang jahat terhadapnya pun, maka ia memperlakukan seakan hal itu tidak ada—mengabaikannya/tidak dipikirkannya. Cucu Magek Dirih pun menerapkan ajaran inyiaknya, balas keburukan/niat jahat/perbuatan jahat orang kepada kita dengan bersikap baik/berbuat baik kepada yang bersangkutan—setidak-tidaknya memaafkan dengan ikhlas.

Bagi Cucu Magek Dirih, sebaiknya beban pikiran dan hati harus selalu diringankan. Cucu Magek Dirih mengatakan kepada istrinya bahwa tidak semua dimasukkan ke dalam pikiran dan tidak semua harus dirasa-rasakan karena hanya menguras energi secara tidak berguna. Jikalau semua hal dimasukkan ke dalam otak sementara luas areal/kapasitas muat otak tak mampu menampungnya—nanti otak akan penuh dan sampai meleleh keluar. Jikalau semua dimasukkan dalam perasaan sementara luas areal/kapasitas menampung hati tidak pula luas—nanti dada akan meledak sampai sakit hati/jantung kambuh pula. Orang yang memasukan semua ke dalam pikiran dan perasaannya, maka orang itu akan gelisah, tidak bisa tidur, dan membenci/mendengki/meirihati pada orang lain/tetangganya/teman sekerja di kantornya dan atau orang-orang di kantor/perusahaan pesaingnya.

AGAMA Islam sangat tegas dalam hal orang/setiap orang setiap kelompok berusaha untuk berubah. Perubahan yang paling penting adalah tingkat kendali diri, mengarahkan diri, dan mengerahkan diri, sehingga mampu menyalurkan energi secara positif (berjalan/bekerja di atas dan sesuai kodrat/takdir atau destination semampu/sedaya upaya/sesungguh-sungguh yang mungkin—sejujurnya saja pada diri sendiri/tidak karena hendak berlagak/agar diketahui dan dilihat orang lain) dan dapat menghasilkan secara lebih baik (kuantitas dan kualitas). Perubahan pula, bagi Cucu Magek Dirih diletakkannya pada perspektif bersyukur karena ada periode yang dipakai secara tentatif untuk mengevaluasi diri. Seperti halnya dengan bersyukur, maka perubahan ke arah/tingkat yang baik menjadi hal yang wajib pula.

Perubahan diri pula, dalam pandangan Cucu Magek Dirih, adalah berusaha mengeluarkan semua/segala hal dan sifat buruk dalam diri—pemikiran yang counter productive dan perasaan benci/dengki/iri hati dan atau pun mengulangi kesalahan—ibaratkan unta yang terperosok di lubang yang sama, dan atau berkutat pada posisi yang sama yang sudah sebetulnya diketahui salah/keliru/tidak berguna—apakah yang bersangkutan tdak mengetahui/menyadarinya, sehingga mereka tidak mau keluar dari lobang hitam/mengeluarkan semua dan segala hal yang buruk/tidak berguna dalam dirinya. Seperti itu Cucu Magek Dirih memahami ayat Al Quran ”tidak akan berubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu sendiri tidak berusaha untuk berubah”.

Berubah dari dalam diri sendiri memang terutama membersihkan hati dari segala/semua hal yang buruk/jahat/tidak berguna. Setidaknya, demikian Cucu Magek Dirih memahaminya. Bahwa, kisah Nabi Muhammad SAW yang dibedah malaikat saat ia masih kecil, maka malaikat mengeluarkan segala/semua hal dan sifat atau kecenderungan yang tidak baik dari dalam hati Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, malaikat memasukan sifat/kecenderungan hati yang baik ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Di antara sifat baik yang utama itu adalah shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Selain itu, Cucu Magek Dirih memahami pula al-asmau al-husna sebagai potensi/peluang dan juga energi positif.

Shiddiq artinya benar—mustahil Nabi Muhammad SAW berdusta. Artinya nabi dan rasul bersiafat benar, baik dalam tutur kata maupun perbuatannya, yakni sesuai dengan ajaran Allah SWT. Seperti disebutkan Allah dalam QS Maryam ayat 50. Kami menganugrahkan kepada mereka sebagian rahmat Kami, dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia. Lalu, amanah (dapat dipercaya/dapat diandalakan)—mustahil nabi Muhammad khianat (curang/culas atau sejenisnya). Artinya, para nabi dan rasul itu bersifat jujur pada saat menerima ajaran Allah SWT, dan memelihara keutuhannya, serta menyampaikannya kepada umat manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Mustahil mereka menyelewengkan atau berbuat curang atas ajaran Allah SWT.

Kemudian, tabligh (menyampaikan wahyu kepada umatnya—menyampaikan kebenaran atau ajakan kepada keluarga/sesama/masyarakat) untuk berbuat baik. Mustahil Nabi Muhammad SAW kitman (menyembunyikan wahyu). Artinya para nabi dan rasul itu pastilah menyampaikan seluruh ajaran Allah SWT sekalipun mengakibatkan jiwanya terancam. Seperti Allah menyebut pada QS Ali Imran ayat 20: Dan, katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan orang-orang yang ummi (buta huruf), sudahkah kamu masuk Islam? Jika mereka telah masuk Islam niscaya mereka mendapatkan petunjuk, dan bilamana mereka itu berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah SWT). Dan Allah selalu Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Lalu, fathanah (cerdas)—mustahil Nabi Muhammad SAW itu jahlun (bodoh). Artinya, para nabi dan rasul itu bijaksana dalam semua sikap, perkataan, dan perbuatannya atas dasar kecerdasannya. Dengan demikian mustahil mereka dapat/mudah dipengaruhi/diombang-ambingkan oleh orang lain.

MAKA berkaitan dengan perkisaran tahun yang secara kelaziman dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi diri sendiri, bersyukur, dan berubah—ke arah situasi/keadaan/posisi/tingkat yang lebih baik, maka di dalam perspektif dan pemahaman Cucu Magek Dirih, perubahan itu memang harus terutama dari dalam diri sendiri. Mengharapkan terjadi perubahan dari luar diri malah mungkin akan membawa pengaruh/dampak buruk. Katakan, ada perubahan secara evolutif (evolusi) dan atau perubahan pula secara demontrati dan atau revolutif (revolusi) akan memberikan sesuatu yang dominan yang mungkin bukan yang dicitakan/dipikirkan/diperhitungkan dan atau bukan yang dirasakan/diharapkan, misalnya. Bahkan, mungkin tidak mustahil perubahan ari uar diri merusak/menghancurkan hal baik yang sudah ada dalam diri.

Cucu Magek Dirih dapat sepaham/menerima analogi perubahan pada telur—dan telur yang ditetaskan. Dikatakan, bilamana telur ditekan dari luar—apalagi tekanan yang kuat/keras, maka mungkin telur itu akan pecah, dan kulit telur hancur serta isinya tumpah tak dapat digunakan. Sebaliknya, kalau telur itu dipecahkan dari dalam, tentu ibarat telur yang dieramkan induknya/ditetaskan, maka anak unggas itu sendiri yang memecahkan dinding kulit telur, dan akan ayam muncul/keluar. Ibaratnya, kalau telur dipecahakan dari dalam maka artinya muncul satu kehidupan baru. Lalu, apa mungkin, dalam perkisaran tahun kita mengevaluasi diri dan bersyukur serta berubah, maka kita seakan memperbaruhi hidup kita seakan kita memasuki satu kehidupan yang baru.

Mungkin perspektif/pemahaman Cucu Magek Dirih di atas tidak lazim dan tidak memberi pengaruh kepada kita—karena kita seringkali tahu tapi tidak mengamalkan/melembagakan/menjadi akhlak (perbuatan pikiran dan perbuatan hati). Karena itu, apakah kita memang mengetahui/menyadari hal buruk/tidak berguna dalam diri kita, dan bilamana kuta mengeyahui dan menyadarinya, kenapa pula kita tidak mau mengeluarkannya/berubah ke arah dan tingkat, serta situasi yang lebih baik. Siapa yang menolong kita untuk mengevaluasi diri/bersyukur/berubah? Sebagai orang beriman, tentulah kota akan menujuk pada diri kita sendiri, lalu bertanya/minta pandangan dan pendapat orang cerdas/pandai/berpengetahuan/berakhlak mulia—karena dalam pemahaman Islam tidak ada lagi nabi dan rasul sesudah Muhammad SAW. (*)

Cucu Magek Dirih lainnya

Komentar