Date Kamis, 31 July 2014 | 02:11 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Kopi Minggu

Guru

Sukri Umar

Wartawan Padang Ekspres

Guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasihku

Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam

kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa


Lirik lagu karya Eyang Sartono di atas, sangat lekat pada kita bahkan sejak usia dini ketika menginjakan kaki di bangku sekolah. Kita menyanyikannya dengan penuh perasaan, karena begitu besar jasa guru terhadap anak didiknya. Baik dalam hal membaca, menulis, atau pun ilmu ilmu lainnya sesuai dengan kemampuan guru tersebut. Guru memang diidentikan dengan mereka yang mengajar di sekolah sekolah, berada di depan kelas memberikan pelajaran pada muridnya.

Tetapi guru bukan hanya mereka yang berseragam Korpri atau yang memiliki NIP (nomor induk pegawai). Mereka yang tidak memiliki NIP atau yang tidak punya gedung sekolah formal pun kita sebut sebagai guru.

Misalnya guru mengaji, guru beladiri serta guru guru lainnya yang tidak berpakaian seragam, tidak punya ruangan khusus dan juga tidak punya pendapatan khusus atas ilmu yang diberikannya.

Siapa pun yang memberikan ilmu sebenarnya menjadi seorang guru. Pengalaman pun kita sebut sebagai guru, karena ia memberikan pelajaran yang berarti bagi kehidupan seseorang.

Secara fisik guru adalah orang yang sangat dihargai bahkan sebagian orang menjadikan guru sebagai idolanya. Terkadang ada juga salah kaprah, menerima apapun yang diucapkan atau disampaikan gurunya, meski yang disampaikan itu keliru dan salah. Namun kepatuhan pada guru yang berlebihan dari waktu ke waktu mulai memudar. Kini demokrasi menerobos hingga ruang ruang kelas, guru sangat demokratis dengan muridnya sehingga berdialog dan adu argumen atas sebuah persoalan sudah menjadi hal biasa. Tak zamannya lagi guru memarahkan murid lantaran berdebat kebenaran teori pelajaran yang diberikan.

Dalam dunia pendidikan, dialog dan perdebatan antara seorang murid/siswa dengan gurunya sudah lumrah. Terkadang murid yang cerdas bisa menguasai materi melebihi gurunya. Siswa yang rajin membaca literatur serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan dengan beragam media, ia bisa saja melebihi kemampuan gurunya. Misalnya saja dalam dunia politik dan perkembangan sebuah kasus. Jika dibedah pada sebuah kelas belajar maka seorang murid bisa saja penguasaannya melebihi guru. Ia membaca media cetak, mendengarkan radio, menyaksikan televisi atau membaca literatur di buku dan di dunia maya.

Seorang guru tentu tidak mau malu muka di depan kelas karena menguasai materi yang minim. Seorang guru tidak mau kehilangan muka di depan kelas hanya karena tak menguasai materi pelajaran, tak menguasai informasi dan sebagainya. Seorang guru tak mau kehilangan muka di depan kelas hanya karena malas menambah wawasan, malas memperbaharui penguasaan materi dan malas membaca perkembangan yang terjadi di kelas dan di luar ruangan kelas. Justru itu tak zamannya lagi guru malas dari murid jika tak mau malu di depan kelas.

Guru memberikan pengetahuan yang baik pada murid, bukan pengetahuan sesat. Tak salah ada pepatah yang berbunyi ”guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Jika guru memberikan pelajaran yang salah sedikit saja, maka alamat buruk muridnya akan melakukan kesalahan yang lebih besar pula. Justru itu seorang guru harus mampu tampil sebagai tauladan dan contoh bagi murid muridnya.

Guru merupakan sosok yang menjadi panutan bagi siswanya, ia dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan yang selalu berkembang dan mengikuti kemajuan jaman. Sudah tidak waktunya lagi guru yang kaku, memiliki pengetahuan terbatas, dan tidak mau terbuka dengan kemajuan teknologi. Menurut UU No 14/2005 Tentang guru dan dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Penghargaan Buat Guru

Profesi guru dari dulu hingga sekarang sangatlah terhormat. Guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Ia telah memberikan ilmu, mengantar muridnya menjadi orang yang berilmu, berguna dan sukses di masa depannya. Secara estafet mulai dari tingkat dasar hingga tingkat atas guru telah melahirkan orang orang yang berguna. Seorang mantan murid yang berhasil tak mampu lagi berpikir seperti apa ucapan terima kasih yang mesti diberikan pada mantan mantan gurunya.

Murid yang sudah meninggalkan almamater puluhan tahun terkadang tak punya waktu mencari mantan guru yang mungkin sudah pensiun atau bahkan mencari pusaranya karena sudah meninggal dunia. Mungkin masih di suasana peringatan hari guru 25 November kita semua bisa menyanyikan lirik lagu yang barangkali di antara kita masih ada yang hafal.

Terima Kasih Guru

Terima Kasihku Ku Ucapkan,

Pada Guruku Yang Tulus

Ilmu Yang Berguna Slalu

Di Limpahkan

Untuk Bekalku Nanti

Setiap Hariku Di Bimbingnya

Agar Tumbuhlah Bakatku

Kan Ku Ingat Slalu Nasihat Guruku

Trima Kasihku Guruku

Sebenarnya pemerintah terus memberikan perhatian terhadap para guru, termasuk peningkatan kesejahterannya. Jika dulu guru sebagai profesi yang mulia tetapi kurang sejahtera maka kini guru sudah menjadi profesi yang diiringi dengan kesejahteraan. Tunjangan profesi yang diberikan negara telah merubah kehidupan guru. Jika dulu pemberi kredit takut berurusan dengan guru maka kini guru menjadi target utama yang cukup besar jumlahnya. Jika dulu guru hanya mampu memilik rumah di Perumnas, kini mereka bisa memilih kawasan yang lebih mahal. Jika dulu banyak guru yang ngojek dan berjualan di lingkungan sekolah untuk tambah pendapatan, kini guru sudah bisa hidup dengan layak.

Seperti apapun perubahan pendapatan dan kesejahteraan tentu saja di momentum suasana hari guru, para guru yang ada tidak lupa dengan tugas dan tanggung jawabnya mencerdaskan anak anak bangsa. Mulai dari guru yang mengajar di tingkat usia dini melalui program PAUDIN maupun yang mengajar di tingkat atas. Kesejahteraan yang meningkat adalah hak bagi guru guru kita yang telah memberikan kontribusi besar bagi keserdasan anak bangsa. Tetapi memberikan pelajaran terbaik bagi murid muridnya adalah kewajiban yang tak bisa ditawar tawar sebagai seorang guru.

Pada era modern sekarang ini, seorang guru harus mampu merajut kembali fitrah konsep tentang guru sejati yaitu seorang pendidik dan pengajar yang profesional dan berhati mulia. Konsep ini nampaknya sangat sederhana, tetapi memiliki tuntutan yang sangat berat dengan segala konsekuensinya. Untuk menjadi seorang guru yang profesional saja tidaklah mudah, apalagi juga sekaligus berhati mulia. Secara strategis guru memiliki fungsi dan peran yang sangat fleksibel, bahkan bersifat multifungsi. Di bidang pendidikan, khususnya di sekolah, seorang guru bukan hanya berfungsi dan berperan sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai pengganti orangtua bagi anak-anak. Di dalam kehidupan politik dan sosial, seorang guru sering dapat dimanfaatkan untuk aneka kepentingan. (*)

Kopi Minggu lainnya

Komentar