Date Kamis, 31 July 2014 | 14:23 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Banjir Padang

Badrul Mustafa

Dosen Unand dan Koordinator Tim Kerja API Perubahan Forum PRB Sumbar

Banjir Padang

Banjir adalah suatu keadaan dimana sungai ketika aliran airnya tidak tertampung oleh cekungan yang terbentuk oleh aliran air secara alamiah atau buatan manusia untuk mengalirkan air atau sedimen. Banjir disebabkan oleh berbagai faktor, terutama jumlah curah hujan yang tinggi dalam selang waktu yang pendek (harian) dan lebih banyak mengalir sebagai aliran permukaan (surface run-off). Pada umumnya banjir terjadi di dataran, atau hilir suatu DAS (Daerah Aliran Sungai).

Walau banjir bukanlah merupakan hal asing di Kota Padang, namun yang terjadi pada Kamis, 18 Oktober lalu adalah sebuah kejadian yang (agak) luar biasa. Dikatakan (agak) luar biasa karena dengan hujan yang berlangsung tidak terlalu lama (sekitar tiga jam) dengan intensitas tidak terlalu tinggi, tapi agak tinggi, maka hampir semua bagian di kota Padang terendam banjir. Di daerah-daerah langganan banjir, genangan air lebih tinggi lagi tentunya. Terlihatlah pemandangan umum dimana-mana yakni jalan yang terendam sehingga tidak nampak lagi batas antara jalan dan bandar/selokan, sepeda motor dan kendaraan roda empat yang mogok serta macet parah. Sore itu banyak pelajar dan warga kota lainnya menumpuk di pinggir-pinggir jalan raya berbasah-basah menunggu angkutan umum.

Selain curah hujan tinggi, ada beberapa faktor lagi yang menjadi penyebab banjir. Faktor-faktor tersebut antara lain: Pertama, degradasi vegetasi (pohon-pohon besar) di daerah hulu sungai sehingga surface run-off meningkat. Kedua, terjadi pendangkalan sungai akibat erosi dan sedimentasi, sehingga sungai meluap. Ketiga, tersumbatnya drainase di dalam kota oleh sampah serta dimensi drainase yang tidak memadai di beberapa komplek perumahan. Dimensi drainase tidak sesuai dengan jumlah unit rumah dan anggota masyarakat yang berada di tempat itu. Bahkan di beberapa tempat tidak terdapat saluran drainase di kiri dan kanan jalan, misalnya di Jalan Raya Andalas.

Persoalan degradasi vegetasi di hulu DAS sudah terbukti secara nyata seperti yang dilaporkan oleh berbagai media massa, setelah terjadinya galodo di Padang, 24 Juli lalu. Ketika daerah tangkapan hujan terbuka akibat ditebangnya pohon-pohon besar, maka waktu hujan turun hampir semuanya mengalir di permukaan tanpa banyak yang masuk ke dalam tanah melalui akar-akar tanaman. Selain jumlah air hujan yang mengalir sangat banyak, ia juga menimbulkan erosi (mengikis permukaan tanah yang dilalui). Mengatasi persoalan ini, tentu memerlukan waktu yang panjang, yakni melalui proyek reboisasi. Reboisasinya harus dilakukan sekarang, tanpa menunggu-nunggu lagi, yang hasilnya baru terasa setelah lebih dari lima tahun.

Pendangkalan sungai disebabkan terjadinya erosi di daerah hulu sungai, yang kemudian diendapkan di dasar sungai. Jumlah endapan ini semakin besar di daerah hilir (rendah). Selain itu perilaku masyarakat yang tinggal di pinggir-pinggir sungai yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah juga turut menjadi andil terjadinya pendangkalan ini. Bahkan sebagian sampah ini terus ke muara dan pantai Padang, sehingga Pantai Padang menjadi kotor. Beberapa waktu lalu terjadi “pertengkaran” antara Dinas Kebersihan Kota Padang dengan Dinas Pariwisata. Dinas Kebersihan menuduh objek wisata sebagai biang keladi yang menyebabkan Pantai Padang kotor. Padahal sumber utamanya adalah pembuangan sampah ke badan sungai yang dilakukan oleh warga yang tinggal di sepanjang pinggir sungai. Untuk mengatasi persoalan ini diperlukan dua tahap, yakni jangka pendek dan jangka menengah/panjang. Jangka pendek, yakni dengan melakukan normalisasi dan pengerukan dasar sungai. Untuk jangka panjang melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai agar mereka tidak lagi menjadikan badan sungai sebagai tempat membuang sampah. Setelah sosialisasi, langkah berikutnya adalah menyiapkan aturan dengan sanksi yang tegas untuk para pelanggar.

Persoalan drainase di kota Padang hampir sama dengan persoalan sungai. Selain keberadaan drainase absen di beberapa tempat/jalan, kondisi drainase itu sendiri sangat memprihatinkan karena minimnya perawatan. Banyak drainase sering mengalami pendangkalan (sebagian tersumbat) akibat sedimentasi. Ini lagi-lagi akibat sampah yang dibuang sembarangan. Kali ini warga kota punya andil untuk timbulnya sumbatan atau pendangkalan drainase ini. Sebab tidak sedikit warga kota yang membuang sampah ke jalan raya. Sampah-sampah di jalan raya ini, mulai bungkus permen, bungkus rokok, gelas dan botol plastik minuman, kaleng-kaleng minuman, bungkus makanan ringan, dan lain sebagainya oleh angin atau air hujan akan tersapu masuk ke dalam drainase sehingga terjadi pendangkalan dan penyumbatan. Untuk jangka pendek, dalam mengatasi persoalan ini selain melakukan pengerukan drainase dari sampah/sedimen, sudah seharusnya kembali diterapkan aturan dan sanksi yang tegas bagi warga kota yang membuang sampah ke jalan atau ke drainase.

Curah hujan tinggi merupakan faktor alamiah yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Namun faktor lainnya disebabkan oleh perilaku manusia, yang tentu bisa diantisipasi dengan melakukan upaya yang sistematis dan efektif.

Kita saat ini berada di bulan November. November sampai Maret biasanya di Indonesia merupakan musim hujan. Di Sumatera Barat puncaknya biasanya terjadi bulan November. Jadi, hujan yang menimbulkan banjir di banyak tempat di Kota Padang kemarin, itu baru permulaan. Terbukti lima hari berikutnya terulang kejadian yang sama. Artinya, kalau tidak ada usaha efektif yang dilakukan pemerintah dan warga kota dalam waktu dekat, maka banjir akan datang lagi secara beruntun di kota tercinta ini. Bahkan bisa saja dengan tinggi genangan yang lebih besar lagi, mengingat intensitas hujan di bulan November biasanya lebih tinggi dari bulan-bulan yang lain.

Selain itu, dampak dari pemanasan global adalah terjadinya perubahan iklim. Pemanasan global karena meningkatnya ERK (Efek Rumah Kaca) berakibat pada suhu bumi menjadi semakin panas. Akibatnya, air menjadi cepat menguap, membentuk awan, dan cepat turun menjadi hujan. Intensitas hujan yang meninggi dalam periode memendek menjadi salah satu penyebab timbulnya banjir. Pemanasan global dan perubahan iklim ini sudah menjadi pembicaraan para ilmuwan dan praktisi lingkungan hidup di mana-mana.

Banjir menimbulkan menimbulkan banyak kerugian. Komponen yang terancam adalah manusia, prasarana umum dan harta benda. Kerugian tersebut antara lain: terganggunya banyak aktivitas, kerugian material akibat rusaknya harta benda (perabot seperti lemari, sofa, pakaian, TV, kendaraan bermotor), bisa juga korban jiwa pada banjir besar (meninggal, hilang, luka-luka atau mengungsi), tersedotnya anggaran untuk pemulihan. Selain itu prasarana transportasi tergenang, rusak atau hanyut (jalan, jembatan, terminal, stasiun). Fasilitas sosial tergenang, rusak atau hanyut seperti sekolah, pasar, rumah ibadah, puskesmas, rumah sakit, dll. Begitu juga dengan fasilitas pemerintahan, industri-jasa dan berbagai fasilitas pelayanan publik tidak dapat memberikan layanan.

Di sektor pertanian, rusaknya sawah yang tergenang akan menyebabkan penurunan atau kehilangan produksi. Tambak, pekebunan, ladang, perikanan yang tergenang lebih dari tiga hari akan rusak atau turun/hilang produksinya. Rumah tinggal tergenang, rusak dan hanyut. Harta benda seperti modal-barang produksi dan perdagangan, kendaraan dan perabotan rumah tangga bisa tergenang, rusak atau hilang.

Karena demikian banyaknya kerugian yang telah dan akan timbul akibat banjir, maka semua kita harus menganggap serius masalah ini. Dengan demikian penanganannya juga mesti serius. Tidak boleh setengah-setengah. Langkah-langkah yang penulis kemukakan di atas tadi selayaknya dapat diaplikasikan. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar