Date Kamis, 31 July 2014 | 08:18 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Hikmah Berkurban

Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Hikmah Berkurban

PENGURUS Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan tak mampu mengeluarkan kata-kata. Tak terasa air matanya mengalir ketika pasangan suami istri Yati, 55, dan Maman, 35, turun dari bajaj, lalu membopong dua ekor kambing untuk dijadikan hewan kurban Idul Adha di masjid itu.

Tentu saja Juanda, 50, salah seorang pengurus Masjid Al Ittihad, tak mampu menahan haru tangisnya. Yati dan Maman adalah pasangan suami istri yang sehari-hari berprofesi sebagai pemulung. Yati dan Maman tinggal di sebuah gubuk triplek berukuran 3 x 4 meter di kawasan tempat pembuangan sampah wilayah Tebet.

Tak ada barang berharga di gubug mereka, di sudut ruang teronggok sebuah televisi tua yang telah lama rusak.

Kondisi Yati dan Maman tentu sangat kontras dengan Masjid Ittihad yang berdiri kokoh dan megah di kawasan elite Tebet tersebut. Namun dua ekor kambing berwarna putih dan cokelat yang diserahkan pasangan suami istri ini, adalah kambing terbesar di antara kambing kurban yang ada di sana saat itu.

Menurut Yati dan Maman, keinginan untuk ikut berkurban telah lama ia impikan. Karena itu mereka menabung dengan menyisihkan sebagian penghasilan sebagai pemulung mereka yang tak seberapa jumlahnya. “Kami malu setiap tahun hanya menjadi penerima daging kurban,” ujar Yati. “Suatu saat kami juga ingin menjadi peserta kurban,” ujarnya.

Niat pasangan suami istri ini sering mendapat cemooh dari rekan-rekannya. “Kita ini pemulung sampah, miskin, gembel, jangan mimpilah,” begitu rekan-rekannya berkomentar. Namun Yati dan Maman tak patah semangat. Setelah berusah payah menabung selama tiga tahun, akhirnya mimpi mereka itu menjadi kenyataan, mereka akhirnya mampu membeli dua ekor kambing untuk dijadikan hewan kurban. Masing-masing dibeli seharga Rp 1 juta dan Rp 2 juta. Subhanallah....!

Hingga saat ini tak ada fakta yang menunjukkan bahwa berkurban, berinfak, berzakat dan bersedekah yang membuat seseorang menjadi fakir dan miskin, termasuk pemulung sekalipun. Yang terjadi justru banyak contoh membuktikan bahwa seseorang yang menyumbangkan hartanya atau berkurban secara ikhlas, semakin terbuka pintu rezeki baginya, semakin deras rezeki itu mengalir ke arahnya.

Chairul Tanjung adalah salah seorang pengusaha muda garda terdepan di Indonesia saat ini. Dalam usianya yang relatif masih muda (kini 50 tahun) ia telah menjadi pemilik sejumlah pabrik, Trans TV Group, Bank Mega, Carefur dan sejumlah perusahaan besar lainnya. Karyawannya saat ini berjumlah 35.000 orang lebih. Ia bercita-cita memiliki 150.000 karyawan. Ia seperti manusia bertangan emas dalam cerita dongeng. Apa yang dia sentuh seakan-akan langsung berubah menjadi emas. Perusahaan-perusahaan yang nyaris gulung tikar, setelah diambil alih Chairul Tanjung umumnya sukses ia perbaiki menjadi perusahaan penghasil “emas”.

Apa rahasia sukses Chairul Tanjung? Rahasia pertama menurut CT, begitu ia biasa dipanggil, adalah “bekerja keras dan sungguh-sungguh”, rahasia kedua adalah kepedulian sosial. Ia sangat yakin berkah dari Tuhan itu datang akibat amal dan kerja sosial yang ia lakukan. Karena itu, ia tak segan-segan memberikan bantuan, sumbangan, berkurban dan berbagai pekerjaan sosial sebagai pelengkap kerja keras yang ia lakukan. Sebuah yayasan ia dirikan khusus untuk menjalankan aktivitas sosialnya. Banyak contoh kisah sukses tokoh lain juga melakukan hal serupa.

Masyarakat Jepang juga memiliki dua kunci sukses dalam kehidupan mereka, yaitu bekerja keras dan bersungguh-sungguh, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Memberikan cendera mata, saling memberikan sesuatu serta saling tolong-menolong telah menjadi budaya masyarakat Jepang. Tentu saja budaya kerja keras mereka tidak diragukan lagi.

Sikap peduli dan berbagi dengan masyarakat sekitar kita juga bisa mencegah kejahatan dan kriminalitas. Kesenjangan sosial, jurang yang terlalu dalam antara si kaya dan si miskin, serta ketidakpedulian kita dengan lingkungan sekitar, cenderung memicu timbulnya kriminalitas. Bisa dipastikan perampokan, perkosaan, pembunuhan, salah satu penyebabnya adalah kecemburuan dan kesenjangan sosial.

Belajar dari berbagai pengalaman tersebut, mari jadikan Idul Adha sebagai momentum pengorbanan dan kepedulian sosial, pembuka pintu berkah, serta pembuka jalan menuju kehidupan yang damai, nyaman dan bahagia dunia dan akhirat bagi kita semua. Amin ya Rabbal Alamin. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar