Date Selasa, 29 July 2014 | 05:31 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Kopi Minggu

Calon

Montosori

Wartawan Padang Ekspres

Calon

Pada 2013, tahun depan, ada empat wali kota yang habis masa jabatan (Padang, Padangpanjang, Sawahlunto, dan Pariaman). Untuk Kota Padang, Padangpanjang, dan Sawahlunto, wali kota yang sedang menjabat sekarang atau incumbent, tak bisa mencalonkan diri lagi. Soalnya mereka sudah dua periode menjadi wali kota. Tanpa incumbent atau petahana, pertarungan menjadi wali kota berikutnya tentu bakal lebih seru.

Sejauh ini, sejumlah nama kandidat atau yang berminat untuk berkompetisi sudah mulai kelihatan. Ada yang terang-terangan memasang baliho, ada juga yang tampil lewat media massa. Sejumlah lainnya diam-diam bersosialisasi ke tengah masyarakat, tapi tetap terbaca bahwa sasarannya adalah menjadi wali kota.

Tak ada yang salah dengan cara-cara yang mereka lakukan.

Justru masyarakat bisa terbantu: sejak dini mengetahui calon pemimpinnya.

Dari empat pemilihan wali kota 2013 itu, tentu saja Kota Padang yang paling “panas”. Bukan karena kota ini terletak di pinggir pantai, tapi karena Padang adalah kota besar yang menjadi Ibukota Provinsi Sumbar.

Oleh sebab itu, tak heran pemilihan wali kota Padang lebih banyak dibicarakan dibanding tiga pemilihan wali kota lainnya. Walau sebetulnya, bagi masyarakat masing-masing kota, tentu lebih peduli pada pergantian pemimpin di kotanya.

Menjelang pemilihan wali kota empat daerah itu, ada fenomena menarik yang bisa menjadi semacam rujukan bagi masyarakat pemilih. Yakni, pemilihan gubernur DKI Jakarta yang dimenangi oleh Joko Widodo alias Jokowi. Kenapa Jokowi menang sekalipun melawan incumbent yang menurut semua lembaga survei lebih unggul, sudah begitu banyak diulas. Dan, kenapa incumbent yang punya kekuatan ke dalam (birokrasi/PNS) didukung oleh partai besar yang sedang berkuasa pula, bisa kalah, juga sudah terungkap. Inti dari menangnya Jokowi dapat disimpulkan: Ketika masyarakat (mayoritas) telah menentukan, tak ada kekuatan yang bisa melawan.

Lalu, apakah di Padang, dan di tiga kota yang akan menyelenggarakan pemilihan wali kota sudah ada kandidat yang seperti Jokowi? Atau, bisakah muncul “Jokowi-Jokowi” ala Padang, Padangpanjang, Sawahlunto, dan Pariaman? Atau, jangan-jangan pemilih di empat kota itu, tak butuh orang seperti “Jokowi”? Ups, entahlah…Namun yang jelas, Padang dan tiga kota yang akan berganti pemimpin itu butuh wali kota yang lebih baik. Tentu, sedapat mungkin lebih baik dari yang akan digantikan.

Sejauh ini, sebetulnya opini masyarakat sudah berseliweran soal calon wali kota ini. Di Padang, misalnya, sederet nama sudah menjadi bahasan masyarakat. Walaupun sejauh ini baru sebatas di ruang-ruang publik yang bebas. Seperti di warung-warung, kafe, atau di tempat-tempat publik lainnya.

Paling tidak, berikut ini antara lain komentar warga, yang tentu saja bukan orang dekat atau pendukung si calon. “Si A, ah belum cocok jadi wali kota. Dia punya pengalaman apa?” “Si B, selama ini dia ada di mana. Lagi pula dia bisa apa?” “Si C, dia kan hanya pengalaman jadi pegawai perusahaan. Tahu apa soal kota ini?” “Si D, dulu dia pernah jadi pejabat, prestasinya apa? Kalaupun mau maju pakai partai apa?” “Si E, kalau dari partai mungkin sudah aman. Tapi dia kan pemain politik. Nanti semua dimainkan?” “Si F, apalagi. Tak punya modal apa-apa. Hanya nafsu.” “Si G, Si H, Si I, Si J, K……. Sama saja, tak ada hebatnya….”

Lalu, apakah ada calon yang dapat komentar baik atau sangat baik? Hmmm, sejauh yang saya dengar, belum. Termasuk untuk Padangpanjang, Sawahlunto, maupun Pariaman. Entah yang membaca tulisan ini. Jangan-jangan, sama juga dengan saya. Hanya mendengar kekurangan para calon saja. Belum kelebihan atau hebat sang calon. He he he...

Cuma, waktu masih ada, setidaknya setahun lagi. Kalaupun tak ada “satria piningit” yang akan muncul, paling tidak kandidat yang sudah disebut-sebut namanya sekarang bisa berubah. Syukur-syukur berubah total menjadi sangat baik, dan sangat hebat. Seterusnya, mendapat dukungan luas dari masyarakat. Apa bisa ya? “Bisa saja. Tapi saya ragu,” begitu tanggapan salah seorang kawan. Yang lain berujar, “Kalau tak ada yang lebih baik atau baik, ya harus tetap memilih. Meskipun yang buruk dari yang terburuk.” Yups, kita memang harus memilih. (*)

Kopi Minggu lainnya

Komentar