Date Selasa, 29 July 2014 | 19:44 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Cucu Magek Dirih

Kantung Air di Gunung dan Perbukitan

H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Kantung Air di Gunung dan Perbukitan

PADA hari Senin, tanggal 4 Oktober 2010, kota Wasior dihantam banjir bandang. Wasior adalah pusat keramaian kabupaten Teluk Wondama, sebuah kabupaten baru pemekaran tahun 2002, di provinsi Papua Barat. Mencapai kota Wasior dari Manokwari, harus ditempuh dalam waktu satu jam dengan pesawat, delapan jam dengan kapal laut milik Pelni, dan 16 jam dengan kapal pelayaran rakyat.

Banjir bandang Wasior itu, menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan RI drg Tritarayati SH, menelan korban 29 orang tewas dan 103 lainnya dinyatakan hilang. Laporan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Penyehatan Lingkungan (P2PL) Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), menyebutkan bencana banjir Wasior menghanyutkan staf Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kantor Wilayah Kerja (wilker) KKP Wondama ke laut, mengakibatkan kerusakan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas Distrik Wasior, mess dokter/perawat dan rumah dinas dokter/paramedis/rumah Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Teluk Wondama rusak.

Pada hari Selasa, tanggal 24 Juli 2012, banjir bandang menghantam beberapa titik lokasi di Kota Padang, sekitar pukul 18.30 WIB, khususnya di sepanjang aliran Sungai Lubukkilangan dan Batang Kurannji meluap. Sebelum banjir terjadi, didahului hujan lebat melanda kota Padang selama tiga jam khususnya di sepanjang aliran sungai Batang Kuranji. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, peristiwa tersebut menelan korban delapan orang dilaporkan hilang. Enam orang hanyut terbawa banjir bandang, dua orang di atas perahu hilang di tengah laut, dan satu rumah di Ujung Tanah Lubuk Begalung hanyut. Wali Kota Padang, Fauzi Bahar, menyatakan bencana banjir Selasa 24 Juli 2012 melanda lima kecamatan di Kota Padang, diduga akibat aksi illegal logging (penebangan liar). Enam kecamatan itu, yakni, Pauh, Koto Tangah, Lubuk Kilangan, Lubuk Begalung, dan Bungus Teluk Kabung (Bungtekab).

Pada Rabu, 12 September 2012, banjir bandang kembali melanda kota Padang Provinsi Sumatera Barat, dan justru kembali melanda lokasi sama, sepanjang Batang Kurannji. Banjir dilaporkan terjadi di Kecamatan Pauh kota Padang merendam wilayah pada dua lokasi, yaitu di Kotopanjang dan Simpanggadut. Banjir terjadi sekitar pukul 16.23 WIB, Rabu (12/9) itu. Saat banjir sebagian cakrawala kota Padang memang mendung, tapi, banjir diperkirakan terjadi akibat hujan lebat di hulu Batang Kuranji. Yaitu, aliran Sungai Padang Janiah dan Padang Karuah. Sebelumnya, tim Sekretariat Bersama Pecinta Alam (Sekber Pencinta Alam Provinsi Sumatera Barat yang pernah melakukan ekspedisi ke bagian hulu Batang Janiah dan Padang Karuah menemukan sisa-sisa batu serta kayu bekas banjir bandang sebelumnya. Sisa material banjir bandang tersebut dikhawatirkan menimbulkan bencana baru, ternyata terbukti.

JAUH sebelumnya, di daerah Sumatera Barat, pernah terjadi galodo (banjir bandang bercampur lumpur dan bebatuan) di bebeapa nagari bagian timur Gunung Merapi pada/di sekitar tahun 1976. Yang paling parah, antara lain, nagari Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab dan juga nagari Salimpaung, Kecamatan Salimpaung, Kabupten Tanahdatar, provinsi Sumatera Barat Wilayah administasi Kabupaten Tanahdatar terdiri atas 14 Kecamatan dan 75 nagari. Peristiwa banjir bandang dari puncak/pinggang gunung Merapi tersebut membuat istilah bajir bandang dengan sebutan galodo. Yaitu, air bah yan bercampur lumpur, bebatuan, dan kayu besar-kecil. Saat itu jatuh korban jiwa, dan menimbulkan kerusakan yan luas seperti jalan/jembatan dan persawahan/ladang milik rakyat setempat.

Lalu, galodo kembali terjadi di Padanglaweh Malalo, Kabupaten Tanah Datar, tepatnya di Jorong Tangah Duo Puluah, Minggu, 26 Februari 2012 sekitar pukul 22.45 WIB yang bersumber dari Bukit Patahgigi. Galodo menghancurkan dua mushalla, jalan lingkar di Padangparak terputus, sekitar 25 ha sawah/15 ha kebun warga rusak terendam air yang bercampur batu-kayu, sebuah mobil Kijang kapsul tertimbun lumpur, dan sebanyak 26 kepala keluarga/KK (82 jiwa) diungsikan dari daerah yang diperkirakan akan terancam terkena hantaman apabila terjadi sewaktu-waktu banjir bandang susulan. Sebelumnya, hari Rabu, 21 Maret 2007, galodo merusak 20 ha sawah gagal panen (dua hari lagi akan dipanen) di Nagari Tambangan, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar. Galondo juga menghancurkan dua rumah dan 52 KK terpaksa diungsikan. Sebelum bencana galodo (6 Maret 2007), kabupaten Tanahdatar dihantam bencana gempa.

Sesungguhnya banjir bandang juga menimpa nagari-nagari di sebelah utara dan barat dari Gunung Merapi, kabupaten Agam. Hanya saja, kabarnya, ada kearifan lokal pada masyarakat sebelah utara dan baratlaut gunung Merapi, khususnya di sekitar IV Angkek Canduang, yang memiliki tradisi naik ke pinggang dan terus ke puncak gunung Merapi. Mereka dikabarkan membersihkan aliran air dari puncak gunung Merapi dari hambatan pepohonan yang tumbang dan melintan menyumbat saluran air. Hal yang konon kabarnya tidak terjadi pada pinggang dan bagian atas gunung Merapi sebelah timur kabupaten Tanahdatar. Sehinga tercipta kantung-kantung air yang setiap saat dapat menjadi banjir bandang dan atau galodo. Artinya, kantung-kantung air tersebut akan sampai saatnya akan penuh dan tidak dapat tertahan penyekatnya, lalu tumpah dan menimbulkan air bah (banjir bandang atau galodo).

BERBICARA dengan pejabat di lingkungan Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB), ketika pekan lalu Cucu Magek Dirih ke Jakarta untuk satu urusan, mendapat informasi yang cukup aneh dan unique. Terakhir, banjir bandang di daerah Ambon povinsi Maluku, misalnaya, yang juga terjadi banjir bandang. Penyebabnya adalah, karena kantung-kantung air di kawasan perbukitan di daerah itu pecah/jebol dan menimbulkan banjir bandang. Pihak BNPB meminta BNPB di provinsi Maluku, khususnya di Ambon, kepada gubernur dan muspida — khususnya kepada Komandan Resor Militer (Danrem) Maluku untuk siaga kalau-kalau kantung air yang sudah diketahui masih dapat setiap saat jebol dan menimbulkan kembali banjir bandang.

Rupa-rupanya, BNPB bersama berbagai pihak/instansi mendapatkan informasi, bahwa beberapa banjir bandang yang terjadi di beberapa tempat/lokasi yang cukup membuat heboh, seperti di kota Wasior, Kabupaten Telouk Wondama Provinsi Papua Barat dan atau di kota Padang Provinsi Sumatera Barat, lebih dikategorikan sebagai banjir bandang dan atau juga dapat disebut galodo karena bercampur lumpur/bebatuan/kayu. Dengan mudah, tudingan dari para berbagai pihak — termasuk juga dari para pejabat dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berorientasi kepada penyelamatan lingkungan, bahwa penyebab banjir-anjir bandang/galodo tersebut disebabkan kerusakan hutan di kawasan hutan di bagian hulu anak-anak sungai dan atau sungai akibat penebangan liar (illegal logging).

Mungkin saja, pada dasarnya, penyebab utama banjir bandang dan atau galodo tersebut memang adalah karena kerusakan kawasan hutan di bagian hulu sungai-sungai yang pada saat musim kemarau kering dan pada saat musim hujan banjir — bahkan hujan tidak sampai berhari-hari pun sudah langsung mengakibatkan banjir bandang dan atau galodo besar yan menelan korban jiwa dan menimbulkan korban harta benda serta infrastruktur yang dibangun pemerintah dengan amat mahal. Kemudian dapat dikatakan, bahwa banjir bandang dan atau galodo, rupa-rupanya, juga karena pengendalian hulu anak-panah sungai/sungai yang berada di pinggang/puncak gunung dan atau perbukitan yang tanpa diketahui terdapat kantung-kantung air/telaga yang terbentuk karena ada kayu atau runtuhan tanah yang menyumbat aliran air turun ke bawah.

Pada saatnya reruntuhan tanah dan atau tumpukan kekayuan yang menyekat yang menahan tidak kuat lagi, lalu jebol, air tumpah menimbulkan banjir bandang dan atau galodo yang dapat mengakibatkan bencana yang mengerikan. Survei yang dilakukan tenaga BNPB, konon menemukan kantung-kantung air di hulu Batang Kuranji dan hulu Lubukkilangan, dan atau di sungai Wasior, dan juga di Ambon. Sejak jauh hari, rupanya, hal serupa sudah diantisipasi dengan kearifan lokal masyarakat di bagian utara dan atau barat laut Gunung Merapi, misalnya. Hanya saja, seandainya tenaga yan melakukan survei dengan helikopter, misalnya, mendapatkan ada kantung-kantun air di pergunungan dan perbukitan kawasan hutan yang menjadi hulu dari anak-anak sungai atau sungai, apakah pemerintah sudah mempunyai cara untuk mengatasi agar kantung itu itu tidak menungu jebol dan membawa akibat mengerikan/menimbulkan korban!?

BAGI Cucu Magek Dirih, agaknya demikian pula halnya dengan sebagian besar kita yang peduli penyelamatan lingkungan dan atau bencana yang mengakibatkan bencana besar dan atau menelan korban jiwa/harra-benda/infrastruktur, mungkin terutama disebabkan kerusakan hutan. Sama ada kerusakan hutan karena kebijakan pengelolaan hutan yang mungkin belum sepenuhnya tepat dan atau karena kerusakan hutan oleh perusakan hutan atau penebang liar. Agaknya, cukup perlu mendapat perhatian bahwa banjir bandang dan atau galodo juga lebih disebabkan fenomena alam seperti terbentuk kantung-kantung air di kawasan hutan pada bagian hulu anak-anak sungai atau sungai di pinggang atau bagian puncak gunung atau kawasan perunungan/perbukitan. Masalahnya, hanya bagaimana menatasi kantung-kantung air tersebut tidak ditungu jebol sampai menimbulkan banjir bandang dan atau galodo!?***

H. Sutan Zaili Asril

Cucu Magek Dirih lainnya

Komentar