Date Kamis, 24 July 2014 | 15:24 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Membangun Akhlak Mulia, Puasalah!

Salmadanis

Guru Besar IAIN Imam Bonjol Padang

Membangun Akhlak  Mulia, Puasalah!

Membangun akhlak mulia adalah nilai-nilai murni dalam agama, memiliki tujuan yang sama, yaitu kedamaian dan antikekerasan, saling tolong-menolong dan memaafkan. Karena itu, semua agama yang ada di muka bumi ini mengajarkan kebaikan dan kedamaian hidup manusia. Budha mengajarkan kesederhanaan, Kristen mengajarkan cinta kasih, Konfusianisme mengajarkan kebijaksanaan, dan Islam mengajarkan kasih sayang bagi seluruh alam. Secara umum ajaran agama mengajarkan umatnya untuk saling menolong, memaafkan dan saling mencintai sesama manusia, wadah yang paling tepat adalah menunaikan ibadah Ramadhan secara maksimal

Ibadah puasa yang bila sudah masuk ke dalam diri manusia menjadi religiusitas, sangat besar perannya dalam usaha pembinaan karakter manusia. Itulah sebabnya dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia, ajaran agamalah yang banyak mengajar keutamaan merupakan semacam perwujudan cita-cita untuk mendapatkan orang yang jujur dan saleh di kemudian hari.

Karena melalui pintu agama manusia dapat berkarakter baik dan terpuji. Jika ingin membangun karakter bangsa ini tidak ada pilihan, kecuali melalui pintu agama. Agama telah menjadi ajaran yang pokok, baik dalam pendidikan keluarga di rumah, formal di sekolah maupun nonformal di masyarakat.

Masyarakat kita yang dikenal masyarakat religi sangat erat dengan nilai-nilai agama, tetapi beberapa pakar mengisyaratkan kekhawatiran merosotnya nilai-nilai luhur yang ada dalam masyarakat. Gejala ini ditunjukkan dengan beberapa tindakan yang bersifat antisosial. Bahkan Fromm, mensinyalir bahwa pada masyarakat sekarang ini semakin tidak mampu mencintai sesama manusia. Mereka keliru menginterpretasikan tentang kekayaan, dianggapnya bahwa orang kaya adalah yang memiliki banyak harta. Padahal seharusnya orang kaya, orang yang memberi banyak pada orang lain. Begitu juga pejabat dipahami selama ini adalah ogahan, padahal adalah pelayan sejati.

Dalam bahasa lain, dikatakan bahwa orang mempunyai orientasi hidup yang bermodus eksistensi pada to have dan bukannya to be. Peradaban modern sekarang ini digerakkan oleh jiwa dan semangat keserakahan, kesombongan, egoisme, hedonisme, dan ketidakpedulian akan kebutuhan, dan kesusahan sesama manusia, alam dan kehidupan di masa depan. Timbulnya kecenderungan pada sebagian kelompok masyarakat yang mulai lupa diri, tidak proporsional dan terlalu mementingkan diri dan lain sebagainya.

Ibadah puasa sebagai suatu sistem, di samping menyangkut masalah emosi keagamaan, dampak puasa pada seseorang yang penting pada “buah”-nya, yakni perilaku manusia. Karena puasa selalu mengajarkan nilai kebajikan, maka seharusnya orang yang taat menjalankan apa yang terkandung dalam bulan Ramadhan akan mempunyai pola perilaku yang menjiwai nilai manusia. Karena ajaran puasa itu selalu mengajarkan nilai kebajikan, maka seharusnya orang yang taat akan mempunyai pola perilaku yang menjiwai nilai humanitianisme, seperti tolong menolong, kasih sayang, hargai-menghargai, peduli sesama dan lainnya.

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa perilaku masyarakat adalah sebuah tindakan yang bertujuan untuk mensejahterakan orang lain dengan memperhatikan norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakat. Di antara perilaku tersebut adalah memaafkan kesalahan, tolong-menolong, kasih sayang dan cinta damai, mau mengeluarkan hartanya untuk membantu orang miskin. Ibadah puasa tidak menganjurkan saling memupuk prasangka buruk, saling menggunjing dan saling mencari kesalahan yang ujungnya adalah pembusukan nama baik seseorang. Padahal, sama-sama seakidah, sama-sama sebangsa, bahkan sama-sama sekantor dan sebagainya.

Secara general, semua ajaran agama melakukan puasa sesuai dengan caranya pula yang bertujuan untuk mengajarkan umatnya saling menolong. Misalnya, agama Yahudi mangajarkan: “Cintailah tetanggamu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri” (Leviticus 19:18). Dalam ajaran agama Kristiani disebutkan: “And as you wish that men would do to you, do so to them (Luke 6:31 dalam Schroeder et at, 1995).

Demikian juga dengan ajaran agama Islam, Allah berfirman: “Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa....”(QS: 5;2). Ayat lainnya juga Allah berfirman perumpamaan harta yang dikeluarkan di jalan Allah, serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bilir, pada setiap bulir seratus biji...”( QS: 2; 261). Begitu dalam hadis Rasulullah bersabda bahwa: “Hamba yang paling dicintai Allah adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain, dan amal yang paling baik adalah memasukkan rasa bahagia kepada mukmin, menutupi rasa lapar membebaskan kesulitan atau membayarkan utang.” (HR Muslim). Dalam hadis lain: Sesungguhnya Allah senantiasa menolong hambanya selama hambanya menolong orang lain (HR Muslim).

Dimaksudkan dengan akhlak mulia adalah lebih difokuskan pada kedamaian.Dalam menyebarkan ajaran Islam, para nabi itu menyebarkannya secara damai, diikuti para dai, mubalig, ustad dan ustazah, tanpa menyalahkan, tanpa memojokkan, bukan saling menghujat, apalagi mereka mengatakan bahwa ibadahnyalah yang paling baik dan sebagainya, kecuali bila sangat terpaksa, karena orang kafir melakukan tindakan ofensif. Mereka terpaksa melawannya dengan perang pula.

Di samping puasa yang sarat dengan pesan damai, ajaran puasa sangat ramah dan menghargai keanekaragaman sebagai realitas (hukum alam). Dalam hal ini, konsep rahmatan lilalamin, merupakan landasan kultural akhlakul karimah dalam ajaran Islam. Untuk menjalankan misi kemanusiaannya. Dapat dipahami ajaran Ramadhan melarang orang bergunjing, fitnah, mencari kesalahan orang lain, bila hal dilakukan juga terkesan puasanya hanya sekadar menahan lapar dan haus saja.

Maka misi universal ajaran puasa adalah untuk membawa rahmat bagi seluruh alam—rahmatan lil ‘alamin (Al Anbiya’ 21:107). Rahmat yang dijanjikan Islam adanya kedamaian yang memiliki dua implikasi. Pertama, perdamaian bukanlah sesuatu yang hadir tanpa keterlibatan manusia. Ia akan menjadi realita kehidupan kalau manusia berperan aktif dalam mewujudkan cita-cita dari nilai puasa itu. Kedua, kehidupan damai menurut ajaran puasa terbuka kepada semua individu, komunitas, ras, penganut agama, dan bangsa yang mendambakannya.

Para pakar dan praktisi resolusi konflik memahami perdamaian tidak hanya bebas dari peperangan, tapi juga meliputi adanya keadilan ekonomi, sosial, dan budaya, serta bebas dari diskriminasi ras, kelas, jenis kelamin, dan agama dan lainnya.

Tidak mungkin nilai puasa itu terwujud secara maksimal kecuali bersumber dari keyakinan yang fundamental bahwa Allah adalah baik dan terbaik untuk semua alam semesta, sehingga dalam ajaran puasa membuat orang sama-sama ke masjid, sama shalat, sama-sama berzakat, semua dilandasi keimanan. Itu pula sebabnya, puasa tertuju kepada orang yang beriman. Karena orang yang beriman hidup dalam damai sesama manusia.

Hubungan mesra dengan Allah sebagai sumber nilai-nilai kemanusiaan merupakan sumber ketenangan batin seseorang. Namun untuk menciptakan nilai-nilai akhlak mulia itu secara komprehensif, manusia juga harus mengolah lingkungan sosial dengan etika juga. Keinginan utama manusia kepada akhlak mulia adalah berhubugan erat dengan diri mereka sendiri dan keluarga mereka, keinginan untuk bermartabat dan adil, dan terpenuhi kehidupan material layak yang memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Sebaliknya, pertumpahan darah dan kekerasan, diskriminasi, dan ketidakadilan bertentangan dengan kehendak akhlak, menentang Allah dan primordial ilahi-kesadaran sifat manusia. Dengan demikian, ibadah puasa menciptakan kesadaran untuk tidak menindas dan menolak segala bentuk penindasan, kekerasan, sikap agresif; merupakan elemen penting untuk mewujudkan akhlak mulia. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar