Date Jumat, 1 August 2014 | 10:43 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Kopi Minggu

Slogan Perubahan

Nashrian Bahzein

Wartawan Padang Ekspres

Slogan Perubahan

Bosan juga mendengar slogan-slogan perubahan di Republik ini. Sejak reformasi, kata-kata perubahan boleh jadi paling populer di ruang publik. Yang paling gemar mengucapkan kata-kata ini, ya siapa lagi kalau bukan para pemimpin dan calon pemimpin?!

Sedikit-sedikit perubahan. Ketika orang yang dipimpin sudah berubah, eh malah si pemimpin tadi yang belum berubah. Mereka asyik saja dengan gaya lamanya, memimpin perubahan dengan retorika. Memimpin perubahan dengan baliho, stiker dan iklan-iklan pencitraan. Wajar saja masyarakat era digital mulai imun dengan virus perubahan.

Seruan perubahan yang dikumandangkan oleh para umarah, hanya ditanggapi sinis umat. Mantra perubahan tidak sakral lagi. Ya, kehilangan greget dan daya magisnya di telinga masyarakat. Orasi yang berapi-api, meledak-ledak, berkobar-kobar hingga membara sekalipun, bila perlu dibumbui curahan hati yang mengiba, bukan jaminan bisa menggerakkan perubahan itu.

Coba simak, setiap ada suksesi kepemimpinan, tagline perubahan mendadak populer. Mulai dari suksesi kepemimpinan di sebuah organisasi hingga kepemimpinan tertinggi negara, semuanya latah hendak melakukan perubahan.

Nah, musim janji-janji perubahan itu kini bersemi di beberapa daerah di Sumbar, yang sebentar lagi memilih calon pemimpin. Rakyat Indonesia sudah hafal betul kurenah para pemimpinnya. Setiap kali pesta demokrasi digelar, banyak orang sekelas manager mengaku-ngaku pemimpin. Kapasitas hanya seorang politisi karbitan, pede habis bisa memimpin perubahan. Hanya pejabat pemerintah biasa, narsisnya minta ampun ingin mengubah daerah dengan air ludah dan baliho.

Tiga kali tertipu memilih pemimpin pascareformasi, sudah cukup bagi rakyat belajar dari perilaku para pemimpinnya. Keledai saja tidak mau terjerembab ke lubang yang sama dua kali, masak Anda mau? Ternyata, selama ini kita hanyalah memilih seorang pemimpi. Belum lekang baliho seruan perubahan pemimpin yang dipajang di pinggir-pinggir jalan, si pungguk belum juga melihat bulan hingga masa jabatan pemimpinnya berakhir.

***

Bila pemimpin dan calon pemimpin belum juga berubah, kita yang harus mengubah kurenah para pemimpin itu. Bolak balik ingin membangun sikap optimistis lewat pergantian pemimpin melalui pilkada, tetap saja rasa pesimis masyarakat lebih besar melihat realitas yang ada.

Pesimis pada perilaku elite-elite politik dan pemerintah, lebih pesimis lagi melihat gelombang permisivisme masyarakat kelas menengah terhadap persoalan daerah dan bangsa. Perubahan apa yang bisa diharapkan dari kultur sosial semacam itu?

Ketika penguasa dan politisi gagal membangun harapan dan perubahan, saatnya kekuatan masyarakat sipil di daerah terjaga dari tidur panjang. Sayangnya, gerakan perubahan dan pembaruan yang ditunggu-tunggu datang dari kaum menengah dan terdidik, ternyata kini sedang kecanduan facebook, twitter dan BBM di kantor-kantor, kampus, sekolah, pusat perbelanjaan dan di rumah-rumah.

Kicauan kelompok ini hanya nyaring di dunia maya, tapi sayup terdengar dalam dunia nyata. Kekuatannya belum terorganisir menjadi kelompok penekan dan penyeimbang terhadap penguasa. Penghuni facebook terbesar kedua dan twitter kelima terbesar di dunia saat ini, tak lebih seperti buih yang terombang-ambing oleh pembuat isu.

Penghuni dunia maya hanya sibuk bercurhat ria, gonta ganti foto narsis, main games, melihat-lihat akun orang lain, kirim-kiriman pesan, hingga chatting tak tentu arah. Candu baru kelompok potensial itu dilakukan jam-jam kerja, kuliah dan sekolah yang pada gilirannya menggerus etos kerja bangsa.

Tak heran, sikap apatis dan hilangnya budaya kritis kaum terpelajar yang direprestansikan lewat pengguna jejaring sosial itu, disusupi petualang politik dan pemburu kekuasaan untuk mencari simpatik. Alih-alih mengontrol kinerja penguasa dan calon pemimpin, malah pengguna jejaring sosial yang menjadi panggung pencitraan oleh elite-elite penguasa.

Kisah sukses gerakan sejuta dukungan facebookers terhadap Bibit-Chandra, pimpinan KPK periode lalu, sejatinya terus digalang kekuatan masyarakat sipil di daerah. Hiruk-pikuk kampanye antipolitisi busuk, pengusaha rakus dan penguasa garong di dunia maya, harus tetap melengking hingga ke ruang-ruang publik dan gedung-gedung pemerintah.

Empati dan simpati user jejaring sosial terhadap orang-orang tertindas dan terzalimi, sangat dibutuhkan Ranah Minang dan bangsa ini aksi nyatanya dalam kehidupan sehari-hari. Kisah sukses koin untuk Prita, sedianya terus bergulir ke daerah-daerah hingga kini.

***

Perubahan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah. Melainkan, sangat bergantung pada perubahan perilaku seluruh bangsa, kekuatan bangsa di luar pemerintah. Rendahnya kesadaran dan kepedulian semua elemen terhadap bangsa, dipengaruhi oleh persepsi seseorang terhadap bangsanya. Seperti apa persepsi diri kita sebagai bangsa, persepsi mengenai kehidupan lingkungan kita sebagai bangsa, begitulah cara kita memperlakukan bangsa ini.

Melihat cara wakil rakyat dan penguasa yang cenderung mementingkan diri sendiri dan kelompok, menegaskan persepsi mereka tercerabut dari kehidupan berbangsa. Manusia-manusia seperti itu belum merasa bagian dari bangsanya. Pemimpin semacam itu belum mengenali diri sendiri, lingkungan sekitar, regional dan global sebagai bangsa.

Mana mungkin bisa berharap terhadap pemimpin yang tidak merasa bagian dari bangsanya, untuk melakukan transformasi sosial yang menjadi esensi perubahan? Entah ini teori siapa, saya percaya hanya pemimpin yang merasa hidupnya bagian dari lingkungan masyarakat dan bangsanya, mengenali persoalan dan aspirasi masyarakatnya untuk melakukan perubahan.

Persepsi itu pula yang menggelayuti kelompok kelas menengah di Sumbar maupun rakyat Indonesia, yang merasa nyaman dengan kenikmatan pribadi, tanpa harus berkeringat dan berteriak lagi di ruang publik menyuarakan perubahan daerah dan bangsanya. Jarak penghuni dunia maya ini makin jauh saja dari dunia nyata. (*)

Kopi Minggu lainnya

Komentar