Date Selasa, 29 July 2014 | 15:41 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Menariknya Pilkada Padang

Asrinaldi A

Dosen Ilmu Politik Unand

Menariknya  Pilkada Padang

Salah satu agenda penting bagi masyarakat Kota Padang setahun ke depan adalah pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah (pilkada). Atmosfernya mulai terasa dengan semakin banyaknya bakal calon yang mendeklarasikan dirinya siap memimpin Padang ke depan. Begitu juga dari kalangan partai mulai memantau dinamika dalam masyarakat untuk menemukan bakal calon yang akan diusung pada pilkada ke depan. Malah partai juga sudah membuat pemetaan dukungan masyarakat baik dengan menggunakan metode kalkulasi sederhana hingga survei terkait dukungan masyarakat kepada bakal calon yang akan didukung. Apa pun namanya, yang jelas semua ini bertujuan untuk menghitung peluang agar dapat memenangkan pilkada tersebut.

Pilkada tahun depan memang menarik untuk diikuti, tentu dengan beberapa alasan. Pertama, karena pilkada yang dilaksanakan tahun depan cenderung didominasi oleh wajah baru untuk bersaing menduduki jabatan wali kota dan wakil wali kota. Walaupun, dalam beberapa pertimbangan politik masih ada calon incumbent (petahana) yang diprediksi akan ikut dalam pesta demokrasi tersebut, yaitu wakil wali kota yang menjabat sekarang. Sedangkan, wali kota tidak dapat lagi mencalonkan diri karena sudah menjabat selama dua periode sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Menariknya justru dengan majunya wakil wali kota petahana sebagai wali kota pada pilkada tahun depan, namun persaingan tetap akan ketat di antara para kandidat tersebut. Mengapa? Kehadiran petahana justru tidak akan menutup peluang bagi kandidat baru untuk memenangkan pertarungan ini. Apalagi pengaruh wakil wali kota petahana tidaklah sekuat pengaruh seorang wali kota petahana yang tentu dengan leluasa dapat mengontrol sumber daya pemerintahan, apalagi untuk memenangkan kontestasi politik ini. Dalam realitanya, wali kota sekarang berbeda partai dengan wakilnya yang sudah tentu juga menyiapkan kader terbaiknya untuk bersaing dalam pilkada tersebut.

Perlu diingat, persaingan di antara partai ini akan semakin tajam. Sebab, kemenangan pada Pilkada 2013 ini adalah langkah strategis partai politik untuk memudahkan mesin politiknya bekerja untuk memenangkan pemilu legislatif tahun 2014. Sudah tentu, pilkada tahun depan ini menjadi ajang uji coba partai politik mengukur keampuhan strategi dan efektivitas mesin politiknya dalam masyarakat. Karenanya, partai politik berusaha mendapatkan bakal calon yang memiliki peluang besar untuk menang.

Lalu, bagaimana dengan kandidat lain di luar partai yang mengajukan diri sebagai calon wali kota? Di lihat dari kontestasi antarpartai politik yang tajam dengan segala strategi dan efektivitas mesin politiknya, maka sangat kecil peluang bagi calon independen memenangkan pilkada tersebut, kecuali memiliki mesin politik yang lebih hebat dibandingkan dengan yang dimiliki partai.

Alasan kedua, persaingan untuk menjadi orang nomor satu di Kota Padang ini semakin tajam rivalitasnya karena saat ini pemerintah bersama dengan DPR masih membahas revisi UU Pilkada ini. Dalam revisi tersebut diusulkan hanya wali kota saja yang dipilih langsung. Sementara, wakil wali kota adalah pejabat karir yang dipilih oleh wali kota yang menang dengan syarat-syarat tertentu. Jika disetujui, maka politisasi birokrasi yang selama ini dikhawatirkan akan semakin marak berlangsung. Jelasnya, jabatan wakil wali kota bisa menjadi tawaran yang mengoda bagi birokrat yang mau membantu memenangkan kandidat tertentu dalam pilkada tersebut.

Ketiga, walaupun belum terjadi perubahan yang signifikan dalam perilaku memilih masyarakat dalam mengikuti pilkada, namun keberadaan kelompok masyarakat sipil yang semakin nyata dapat menjadi faktor penentu pilihan masyarakat. Secara tidak langsung organisasi masyarakat sipil ini akan terus memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang makna pilihan rasional dalam pilkada. Apalagi dalam banyak kesempatan, organisasi masyarakat sipil terus mengampanyekan arti penting kehadiran pemimpin yang visioner dalam membangun Padang ke depan.

Dengan demikian, mau tidak mau, kandidat wali kota ke depan harus memahami realita ini jika ingin memenangkan pilkada. Hal ini tentu bukan pekerjaan mudah dilakukan oleh para calon. Sebab, organisasi masyarakat sipil juga memiliki rekam jejak terkait dengan eksistensi kandidat yang mengajukan diri menjadi wali kota Padang. Di sinilah akan nampak kejujuran calon wali kota tersebut dalam “menjual diri” melalui jargon politiknya yang diketengahkan ke publik.

Keempat, kampanye yang melibatkan calon wali kota Padang ini jelas akan dihiasi dengan visi, misi, program dan kegiatan yang dapat dinilai rasionalitas dan fisibilitasnya. Dari aspek inilah sebenarnya masyarakat dapat melihat bagaimana kelayakan seorang calon wali kota menyelesaikan kompleksitas kota. Dimulai dari upaya melanjutkan pekerjaan pemerintah dalam penanggulangan bencana yang masih belum tuntas, hingga membangun kembali perekonomian masyarakat Padang yang terseok-seok karena gempa. Belum lagi masalah penataan Padang menjadi kota yang layak huni, nyaman, aman dan bersih. Apalagi dengan ketersediaan fasilitas umum seperti pedestrian zone, penerangan dan infrastruktur lainnya yang masih minim dan kurang layak.

Tentunya masyarakat berharap, pilkada tahun depan dapat menghasilkan wali kota yang mau bekerja keras tidak hanya sekadar mengelola, tapi juga yang mau turun ke masyarakat. Kita tidak ingin terjebak untuk kesekian kalinya dengan lakonan demokrasi para calon wali kota yang pura-pura merakyat, namun sebenarnya memiliki agenda lain ketika berkuasa. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar