Date Rabu, 30 July 2014 | 07:54 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Tajuk Rencana

Setelah 14 Tahun Reformasi

*

*

HARIini, 14 tahun yang lalu, Orde Baru tumbang ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Sebagian aktivis yang dulu menjadi motor gerakan reformasi 1998 kini menduduki posisi strategis di pemerintahan maupun di lingkaran kekuasaan.

Sebagian lagi aktif di partai politik. Namun, tidak sedikit yang bertahan di jalur parlemen jalanan, berkecimpung di LSM, maupun konsisten sebagai aktivis.

Para mahasiswa 1998 sebenarnya telah bersepakat bahwa tidak ada sosok yang ditokohkan dalam gerakan reformasi. Tidak seperti Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974 yang menokohkan Hariman Siregar. Aktivis 1998 saat itu bersepakat menghargai seluruh mahasiswa dan masyarakat yang turun ke jalan memperjuangkan reformasi. Menokohkan seorang atau beberapa aktivis sama saja dengan menafikan perjuangan mahasiswa dan masyarakat di seluruh kota di Indonesia yang sama-sama ”berkeringat” turun ke jalan.

Penokohan aktivis 1998 kala itu juga dikhawatirkan akan merusak tujuan gerakan reformasi itu sendiri. Apalagi, aktivis yang ditokohkan kemudian bersinggungan dengan kasus-kasus korupsi.

Buktinya, beberapa aktivis 1998 kini berurusan dengan masalah hukum. Di antara mereka, Anas Urbaningrum (ketua umum PB HMI 1997–1999) dan Rama Pratama (ketua umum Senat Mahasiswa UI 1997–1998).

Karena bersepakat tidak ada tokoh, gerakan reformasi 1998 disebut-sebut memberikan cek kosong kepada pemerintahan yang baru. Karena itu, ketika Soeharto benar-benar jatuh, mahasiswa yang masih larut dalam euforia kemenangan terkejut melihat para pemimpin negeri yang menjadi penerus Soeharto.

Indonesia sudah menjalani tiga kali pemilihan umum (pemilu) legislatif, dua kali pemilu presiden, dan setiap daerah rata-rata mengalami dua kali pemilihan kepala daerah (pilkada). Selama 14 tahun juga, rakyat Indonesia merasakan dipimpin oleh empat presiden.

Yakni, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan terakhir Susilo Bambang Yudhoyono. Semua pemimpin itu rasanya belum ada yang bisa mewujudkan angan-angan para mahasiswa pada 1998.

Pada saat yang sama, tidak sedikit pula kelompok masyarakat yang mulai merindukan zaman kepemimpinan Soeharto. Alasan mereka, setidaknya di zaman Soeharto murah pangan. Ungkapannyinyirbahwa zaman Soeharto lebih enak tidak bisa dianggap remeh. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat belum menemukan sosok pemimpin yang dianggap berhasil menghadirkan keadilan dan kemakmuran di negeri yang katanyagemah ripah loh jinawi(tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya) ini.

Tapi, apakah kita harus kembali ke zaman Orde Baru? Tentu tidak. Bangsa ini tidak boleh kembali ke zaman kepemimpinan yang otoriter. Justru kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun itulah yang meninabobokan rakyat sehingga kita secara tidak sadar telah tertinggal oleh Singapura, Malaysia, Thailand, maupun Vietnam. Kita harus yakin, di antara 237.641.326 penduduk Indonesia (berdasar Sensus 2012) akan lahir pemimpin yang memang pantas memimpin negara ini. Pasti ada.(*)

Tajuk Rencana lainnya

Komentar