Date Rabu, 30 July 2014 | 09:56 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Tajuk Rencana

Mengkhianati Pluralisme

(*)

(*)

APA jadinya nasib timnas Perancis di Euro 2012 mendatang tanpa Patrice Evra yang lahir di Senegal serta Samir Nasri dan Karim Benzema yang sama-sama berdarah Aljazair, tiga pilar di masing-masing lini skuad asuhan Laurent Blanc tersebut? Benarkah Les Bleus –julukan timnas Perancis– bakal sukses menjuarai Piala Dunia 1998 dan Euro 2000 tanpa bantuan Marcel Desailly yang ayah-ibunya berasal dari Ghana, Zinedine Zidane yang orang tuanya berimigrasi dari Aljazair, dan Thierry Henry yang berakar dari Antilles?


Jangan lupakan juga, orang Perancis terakhir yang berjaya di arena Grand Slam tenis adalah Yanick Noah. Pria kulit hitam itu pula, dalam kapasitas sebagai kapten tak bermain, yang berada di belakang kejayaan tim Piala Davis dan Piala Fed Negeri Anggur tersebut.


Perlu diketahui juga, wakil Perancis di Eurovision –kontes menyanyi antarnegara Eropa yang sangat bergengsi– pada tahun ini adalah penyanyi berdarah Indonesia, Anggun. Sedangkan Rachida Dati yang keturunan Maroko pernah menjabat menteri kehakiman.


Dari olahraga, ke seni, hingga politik: sekelumit contoh tersebut memperlihatkan betapa multikulturalnya Perancis. Suatu kenyataan yang semestinya membuat negeri yang beribu kota di Paris tersebut bangga. Sebab, tak peduli apa latar belakangnya, mereka toh telah mengerek tinggi-tinggi tricolore (bendera nasional Perancis).


Jadi, sangat menyedihkan kalau kemudian hanya untuk kepentingan politik sesaat pluralisme yang membanggakan dan semestinya bisa dicontoh negara-negara lain tersebut dikhianati. Itulah tanda-tanda mengkhawatirkan yang kita tangkap dari Pemilihan Presiden Perancis 2012 yang telah menyelesaikan putaran pertama pada 22 April lalu.


Seperti diketahui, Ketua Partai Sosialis Francois Hollande (27,6 persen) dan incumbent Presiden Nicolas Sarkozy (26,2 persen) meraup suara terbanyak dalam putaran I dan berhak lolos ke putaran II. Raihan suara antar keduanya tak sampai terpaut 2 persen.


Nah, untuk mengejar ketertinggalan itu, menjelang putaran II pada 6 Mei mendatang, kencang berembus kabar bahwa Sarkozy mulai mendekati kaum ultranasionalis yang pada babak sebelumnya mencoblos Marine Le Pen, ketua Front Nasional. Padahal, platform Le Pen adalah antiimigran dan antimuslim.


Platform tersebut jelas-jelas mengkhianati slogan nasional Perancis: liberte, egalite, fraternite (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan).
Yang mengejutkan, dengan pengkhianatan yang terang benderang terhadap konstitusi dan cita-cita nasional tersebut, Le Pen bisa menduduki posisi ketiga pada putaran I lalu dengan raihan lebih dari 19 persen suara.


Yang lebih mengejutkan, Sarkozy kini berusaha merangkul para pemilih Le Pen itu. Apa boleh buat, itulah politik. Tak ada teman atau lawan abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Jadi, yang terpenting bagi Sarkozy sekarang hanyalah bagaimana agar kepentingannya untuk kembali berkuasa bisa terwujud.


Soal jalan yang ditempuh ternyata mengkhianati sendi dasar kehidupan berbangsa, itu nomor sekian. Karena itu, kita sungguh berharap para pemilik suara di Perancis bisa bijak memilih mana kandidat yang terbaik bagi negara mereka. Kandidat yang memegang teguh apa yang disuarakan tokoh egalitarianisme Voltaire sejak abad ke-18 lalu: semua manusia terlahir sama, dengan hidung dan sepuluh jari. (*)

Tajuk Rencana lainnya

Komentar