Date Sabtu, 26 July 2014 | 18:09 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Pentingnya Sabar Menghadapi Musibah

Salmadanis

Guru Besar IAIN Imam Bonjol Padang

Pentingnya Sabar Menghadapi Musibah


Sabar secara etimologi berasal dari bahasa Arab shabaro berarti tabah hati, menahan dan mencegah, memaksa. Secara terminologi sabar adalah menahan diri untuk tetap mengerjakan sesuatu yang disukai Allah atau menghindarkan diri dari melakukan sesuatu yang dibenci oleh-Nya. Sabar merupakan term yang diadopsi dari bahasa Arab, as-sabr, yang berarti menahan.


Secara syar’i adalah menahan diri dalam tiga perkara; pertama, sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT. Ketaatan kepada Allah SWT dijalani dengan penuh perjuangan. Seseorang dapat menahan diri dari perkara-perkara yang diharamkan dan menahan diri dari takdir Allah SWT.


Sabar merupakan term yang diadopsi dari bahasa Arab, as-sabr, yang berarti menahan. Secara syar’i adalah menahan diri dalam tiga perkara; pertama, sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT. Ketaatan kepada Allah SWT dijalani dengan penuh perjuangan. Seseorang dapat menahan diri dari perkara-perkara yang diharamkan dan menahan diri dari takdir Allah SWT. Intinya, sabar ialah bertahan dalam mengerjakan sesuatu yang diperintahkan Allah dan menahan diri dari mengerjakan sesuatu yang dilarang oleh-Nya.


Jadi, sabar merupakan kelanjutan tangga spiritual atau stasiun rohani setelah melewati dengan selamat dan sukses pada makam syukur. Sabar merupakan kemampuan jiwa menahan nafsu dan marah terhadap suatu yang kedatangannya sangat dibenci, atau menahan nafsu atas kehilangan sesuatu yang dicinta, menahan untuk tidak mendekati sesuatu yang diharamkan. Kemampuan meredam kecenderungan seperti itu menjadi perisai menghadapi kelezatan dunia.


Orang-orang yang memiliki sifat sabar terlihat dari tiga karakteristik sekaligus tiga tingkatan kesabaran. Pertama, sabar atas kesusahan dalam menjalankan segala yang fardhu terhadap Allah. Tingkaran kesabaran ini dimiliki orang awam. Kedua, sabar dalam meninggalkan apa yang diharamkan Allah dan mudah dalam menjalani cobaan. Kesabaran seperti ini milik kelompok khusus, artinya pemahaman agamanya melebihi orang awam dan tidak terjebak dalam “agama doktrin”.


Ketiga, menikmati bala, petaka dan senang menerimanya. Tingkat sabar ini melebihi sabar yang dimiliki kelompok awam dan khusus. Mereka tidak menganggap ujian terhadapnya sebagai musibah dan petaka, tetapi bentuk kasih sayang Allah SWT padanya untuk dapat yang bersangkutan mengevaluasi dirinya.


Sabar merupakan sisi paling penting dalam memperbaiki kendala jiwa dan sabar pada hakikatnya merupakan bentuk keberanian dalam menghadapi kesulitan-kesulitan. Dengan sabar, seseorang memiliki pertahanan diri (self protection). Pada tingkat ini, sabar dikategorikan sebagai sumber ketenangan.


Sabar merupakan media ampuh dalam mengobati penyakit jiwa (penyakit rohaniah). Sabar merupakan proses pengosongan sekaligus pemenuhan jiwa. Pengosongan jiwa dari sifat permusuhan dan ketertarikan terhadap kecenderungan-kecenderungan syahwat, seperti banyak makan, bicara, tamak, bakhil dan sebagainya. Sabar jauh dari godaan jiwa sehingga orang sabar akan memperoleh ketenangan jiwa. Individu yang tertekan tidak begitu sabar, karena jiwanya tegang, bergejolak, ragu-ragu dan hidup dalam ketakutan.


Individu penyabar berpeluang besar memiliki hubungan baik dengan Allah SWT, terpelihara melalui kesabaran terhadap amanah-Nya, nikmat-Nya, ujian-Nya, ibadah dan sebagainya. Terpeliharanya hubungan baik dengan manusia teraktualisasi dalam kebaikan sosial, seperti kesabaran menerima realitas kehidupan, menahan diri untuk menggerogoti hak orang lain.


Al-Qusyairi mengklasifikasi kesabaran pada tiga tingkat. Pertama, sabar fi Allah, yaitu sabar menghadapi proses pengubahan akhlak yang tercela digantikan dengan akhlak yang terpuji dan sibuk dengan macam-macam ketaatan. Kedua, sabar bi Allah, yaitu sabar terhadap apa-apa yang mendatangi hati dari Allah. Ketiga, sabar ma’a Allah, yaitu sabar menghadapi demikian itu untuk membebaskan diri dari daya dan kekuatan.


Pada sisi lain, ulama mengklasifikasi sabar pada dua bagian; Pertama, bagian badaniah, seperti menanggung kesukaran atau kesusahan yang dirasakan badan dan tetap bertahan dengan kondisi demikian. Kedua, sabar dari nafsu syahwat perut dan kemaluan, atau dinamakan dengan ’iffah (pemeliharaan diri). Sekiranya seseorang mampu berlaku sabar pada kekayaan, dinamakan dengan mengekang diri, lawannya dinamakan sombong dengan kesenangan (al-bathar).


Kalau sabar pada peperangan dinamakan berani, lawannya pengecut. Kalau sabar itu dalam menahan amarah dinamakan lemah lembut, lawannya ialah al-tadzammur (pengutukan diri kepada yang sudah hilang). Kalau sabar itu pada suatu pergantian masa, maka dinamakan dengan lapang dada, lawannya mangkal hati dan sempit dada. Kalau sabar itu pada menahan diri dari kehidupan dunia, maka dinamakan dengan zuhud, lawannya lahap. Sekiranya seseorang mampu berlaku sabar pada musibah, maka dikatakan ia memiliki kesabaran, atau ia berada pada keadaan sabar, lawannya adalah gelisah dan keluh kesah.


Orang-orang yang memiliki kesabaran berpotensi meredam berbagai persolan rumit yang dihadapinya. Untuk mengantarkan pada tingkat kesabaran yang tepat, seseorang membutuhkan bantuan orang lain, sehingga kesabaran menjadi penghias dirinya.


Biasanya atasan atau pimpinan yang berjiwa agama memiliki peran dalam membantu mengembalikan kesadaran beragama juga kepada bawahannya, termasuk memupuk kesabaran. Selain itu, pimpinan atau atasan biasanya mempunyai tabiat yang mesti juga dipelajari bawahan, mempelajari tabiat pimpinan itupun juga termasuk dalam kategori sabar. Misalnya seorang anak, mereka punya gaya beda, makanya kita juga harus menghadapi dengan gaya beda pula. Jadi, sabar tidak hanya cukup menahan diri, juga perlu ilmu dalam menghadapi alam semesta ini.


Kesabaran itu juga memiliki tanda-tanda yang spesifik. Pertama, tidak pernah gelisah, resah dan mengeluh atas musibah yang dihadapi. Kedua, tetap optimis dan berbuat walau dipandang agak membosankan. Ketiga, mampu mengendalikan diri dalam berbagai situasi dan kondisi. Keempat, santun dan berlapang dada dalam menyikapi berbagai masalah yang menghadang. Kelima, meninggalkan syahwat. Keenam, rida dengan apa yang ditetapkan Allah, Rasul dan pemimpin. Ketujuh, memiliki keceriaan dalam menjalani hidup. Kedelapan, suka berbuat baik kepada orang lain. Kesembilan, menahan diri untuk tidak menyakiti hati orang lain. Kesepuluh, tidak gampang berputus asa.


Adapun buah dari kesabaran itu adalah: pertama, selalu disertai oleh Allah dalam berbagai situasi dan kondisi (QS. Al-Baqarah: 153). Kedua, selalu mendapatkan balasan yang lebih baik dari apa yang dikerjakan dengan penuh kesabaran (QS. An-Nahl: 96). Ketiga, diberikan kecukupan tanpa batas (QS. Az-Zumar: 10). Keempat, dinaungi 5.000 malaikat (QS. Ali Imran: 125). Kelima, diberkahi, disayangi dan diberi petunjuk (QS. Al-Baqarah: 157). Keenam, mendapat lisensi tentang kebenaran iman dan ketakwaannya di sisi Allah (QS. Al-Baqarah: 177). Ketujuh, lahirnya kepribadian yang mukhlis.


Sabar dapat diterapkan melalui berberapa langkah antara lain: pertama, menyadari dan memahami bidang kesabaran; apakah dalam ketaatan, dalam menghadapi musibah atau mengendalikan diri dalam proses tidak terjebak oleh kemasiatan. Kedua, memahami dan menyadari serta membina keyakinan betapa mulianya kepribadian orang yang sabar serta hasil yang diperoleh kalau mampu hidup dalam kesabaran (musibah yang datang sebagai ujian, teguran, serta pelipur dosa bagi orang mukmin). Sadarkan diri, mungkin hari ini sedang diuji, ditegur karena lalai, atau dibersihkan karena dosa.


Ketiga, tetap optimis dan yakin di balik kesulitan pasti ada kemudahan dan Allah bersama orang-orang yang sabar. Setiap orang yang beriman pasti akan diuji dengan berbagai ujian; kekhawatiran, kelaparan, keterbatasan diri, kekurangan harta dan kehilangan orang-orang yang dicintai, keterbatasan persedian stok makanan dan menerima perintah dan atau meninggal sesuatu yang dilarang oleh atasan dan sebagainya.


Keempat, tidak banyak mengeluh kepada atasan dan sesama manusia, dan cukup mengeluh hanya kepada Allah. Kelima, banyak belajar terhadap tipe-tipe orang dan jadikan keberhasilan orang-orang sukses terdahulu seperti menthala’ah qisasul anbiya’ dan orang-orang sukses yang sudah melewati kegetiran hidup dengan kesabaran. Keenam, selalu mengikutsertakan Allah dalam kehidupan. Ketujuh, senantisa menjadikan lafadz ya sabur ya syakur dijadikan bacaan dan kebiasaan sehingga seolah-olah serasi, segerak dengan gerakan napas dan gerak nadi sebagai antivirus kegelisahan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang sabar, amin. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar