Date Kamis, 24 July 2014 | 11:27 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Opini

IAIN IB (belum) Siap Naik Kelas

Arjuna Nusantara

Pemimpin Redaksi Tabloid Mahasiswa Suara Kampus IAIN Imam Bonjol

Laksana semilir angin surga, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang akan berubah jadi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Sebuah proses yang dianggap tajir menuju lembaga pendidikan terbaik di masa depan.


Rektor IAIN Imam Bonjol (IB) selaku ketua Senat telah mengetuk palu menyetujui konversi IAIN Imam Bonjol menjadi UIN. Hampir semua anggota Senat mengeluarkan pendapat yang sifatnya menguatkan konversi IAIN IB menjadi UIN.

Intinya, agar tidak terjadi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum dan untuk menyiapkan lulusan (out put) yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan umat. Calon mahasiswa asal sekolah agama yang bercita-cita menjadi dokter atau ilmuwan lainnya, bisa diwujudkan di UIN.


(Sekadar) Menukar Baju
Sebelum nasi jadi bubur, coba pikirkan lagi konsep perubahan itu. Label universitas bukan jaminan meningkatkan kualitas. Buktinya, IPB dan ITB tetap jadi Perguruan Tinggi (PT) favorit sampai saat ini. Dengan nama institut, ITB dan IPB tak kalah dari UNJ, UPI dan universitas lainnya.


Apakah menukar baju, bisa merubah cara berpikir seseorang? Yang perlu dilakukan itu adalah memperbaiki sistim. Mulai dari sistim perkuliahan, sampai sistim pengelolaan kampus. Bagaimana menciptakan mahasiswa yang memiliki integritas yang kuat. Berprestasi dan diperhitungkan.


Apakah kita butuh penampilan dari pada pikiran? Apa benar jadi universitas bisa menambah kualitas! Bukankah untuk berkualitas tidak perlu universitas! Sekalipun jadi universitas, kalau tidak berkualitas, apa gunanya?


Kekhawatiran yang paling mendasar adalah kesiapan IAIN IB menghadapi perubahan itu. IAIN IB belum siap menjadi UIN melihat syarat sebuah IAIN menjadi UIN. IAIN IB belum mencapai jumlah mahasiswa 10 ribu. Menurut salah satu laporan suarakampus.com, Rektor baru menargetkan 10 ribu mahasiswa pada tahun 2012 ini.


Mungkinkah IAIN IB mengejar jumlah mahasiswa sebanyak itu di tahun 2012 ini? Melihat pertumbuhan jumlah mahasiswa lima tahun terakhir, jumlah 10 ribu tidak bisa terwujud.Memang, kecenderungan mahasiswa IAIN terus meningkat. Sejak 2006 hingga 2011. Hingga kini berjumlah total 7019. Dengan rincian2006-2007: 4.408, 2007-2008: 4929, 2008-2009: 5.618, 2009-2010: 6.585: dan 2010-2011: 6.731.


Mari kita lihat, apa yang akan dilakukan Rektor bersama timnya untuk mencapai angka 10 ribu. Dengan keadaan kampus yang masih jauh dari ideal seperti; birokrat Akama yang sering melontarkan kata kasar kepada mahasiswa; gedung perkuliahan yang sudah retak-retak akibat gempa; dan sulitnya cair dana kegiatan mahasiswa.


Calon mahasiswa yang cerdas, pasti bercita-cita menuntut ilmu di kampus yang ideal. Kuliah di kampus umum dianggap lebih menjanjikan peluang masa depan yang cerah. Meskipun belum kita temui kampus ideal itu di Sumbar, Setidaknya beberapa kampus lain lebih bagus dari IAIN IB secara fisik dan perkembangan akademiknya. Sehingga, mahasiswa IAIN adalah sisa-sisa atau korban SPMB/SNPTN. “Dari pada tidak kuliah, masuk saja di IAIN.”


UIN (Universitas Islam Ngimpi)

Selain mengejar jumlah mahasiswa, IAIN IB juga harus mempersiapkan fakultas eksak dan fakultas umum lainnya. Dalam perencanaan Rektor, yang akan dijadikan fakultas eksak itu adalah Program Studi (Prodi) Fisika, Matematika dan Biologi. Sementara, dari tiga Prodi itu, hanya Matematika yang sudah terakreditasi, itupun Akreditasi C. Di samping itu, yang akan dijadikan fakultas adalah Jurusan Psikologi Islam yang kini berada di Fakultas Ushuludin. Akreditasinya juga C.


Kini, Rektor hanya punya modal lahan 60,1 Ha di Aia Bangek, Lubuk Minturun, Padang. Sementara dalam target, lahan yang dibutuhkan sekitar 300 H. Proposal ke Islamic Development Bank (IDB) baru diajukan melalui Badan perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Belum ada modal fisik untuk UIN. Panitia harus hati-hati, kalau tidak hati-hati, UIN akan jadi singkatan dari “Universitas Islam Ngimpi”.


Di samping persyaratan itu, secara SDM, IAIN IB juga belum siap. Dengan kasus-kasus di atas, membutikan lemahnya SDM. Dilihat tenaga akademiknya, IAIN IB hanya memiliki 21 Profesor dan 58 Doktor dari 359 jumlah tenaga akademik keseluruhan. Dari jumlah itu, hanya lima persen yang rajin menulis, baik buku ataupun di surat kabar. Selebihnya Profesor/Doktor batang pisang. Usai menulis Disertasi/Tesis, mati.

Kalaulah surat edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi nomor 152/E/T/2012, tertanggal 27 Januari 2012 di berlakukan ke Dosen IAIN IB, para doktor dan Magisternya akan berguguran, apalagi dosen yang masih S1. Untunglah ketentuan itu untuk kelulusan setelah Agustus 2012. Dalam ketentuan itu, lulusan program sarjana harus menerbitkan makalah di jurnal ilmiah, program doktor di jurnal ilmiah nasional dan program doktor di jurnal ilmiah internasional.


UIN (Universitas Ini Naif)
Tenaga nonakademik tidak kalah bobroknya. Dari 128 tenaga non akademik institut, 41 orang tamatan SLTA, 33 PNS (Pegawai Negeri Sipil). Tamatan SLTP 6 orang, 5 PNS. Bahkan, ada yang hanya berpendidikan SD 4 orang. Dari jumlah tenaga yang berpendidikan SLTA ke bawah itu, hanya satu orang yang telah mengikuti pendidikan kedinasan. Begitu juga tenaga non akademik fakultas. Fakultas Adab memiliki 7 tenaga PNS tamatan SLTA dari jumlah 16.

Fakultas Dakwah memiliki 13 tenaga non akademik, 9 di antaranya tamatan SLTA, 7 orang PNS. Fakultas Syariah mempunyai 15 tenaga non akademik, 5 di antaranya tamatan SLTA. Fakultas Tarbiyah mempunyai 22 tenaga non akademik, 7 tamatan SLTA dan 1 SLTP. Di Fakultas Ushuludin, dari 13 tenaga non akademiknya, 4 orang tamatan SLTA, 1 orang tamatan SLTP dan 1 orang tamatan SD.


Melihat pendidikan tenaga non akademik yang rata-rata SLTA dan SLTP bahkan ada yang SD itu, wajarlah kalau pelayanan di Akademik Mahasiswa (Akama) masih jauh dari optimal. Tidak ada semangat pelayanan bank. Selain itu, pantas pegawai Bidang Rumah Tangga –yang mengurusi sarana kampus- tidak tahu apa itu hotspot. Memalukan. UIN akan menjadi “Universitas Islam Naif”.


UIN (Universitas Ini Ngeri)
Sekarang, infrastruktur rebah kuda. Dua tahun gempa 30 September 2009 berlalu, belum ada usaha renovasi gedung. Di penghujung 2011 kemarin, yang dibangun malah taman. Gedung yang tidak layak huni dibiarkan, tetap dihuni. Entah karena tidak mengerti ilmu konstruksi atau memang tidak peduli. Jika datang gempa setengah kekuatan gempa dua tahun lalu, maka gedung yang ada di IAIN rata dengan tanah. Mahasiswa jadi was-was belajar. UIN akan jadi “Universitas Islam Ngeri”.


Jangankan membangun gedung, kebersihan saja tidak terurus. Toilet mahasiswa tidak layak pakai, bak air kosong, WC rusak, bahkan toilet di Kantor Dekan pun rusak. Mau kemana mahasiswa buang hajat?


UIN (Universitas Islam Ngayal)
Bagaimana mau bicara kampus ideal. Kampus ideal itu ada mini market, ATM semua jenis bank, ada ruangan istirahat, kolam renang, lapangan golf, taman, WIFI per mahasiswa dengan kekuatan bandwich 2 GB. Tidak hanya itu, kampus ideal punya pustaka yang mengoleksi segala buku yang dibutuhkan mahasiswa; pustaka yang dilengkapi dengan ruang baca yang nyaman dan jaringan internet; pustaka yang didukung teknologi elektronik dan layanan prima; dan pustaka yang dekat dengan kafe. Perpustakaan IAIN IB hanya mengoleksi 104.271 eksemplar buku.


Kita tentu berharap UIN Imam Bonjol Padang lahir tidak cacat dan sonsang. Harapan banyak orang tentunya, lahir normal dan sehat! Tetapi jika tidak dengan kemampuan dan kerja lebih dari yang ada sekarang, maka harapan cacat lahir amat besar. UIN bisa berarti “Universitas Islam Ngayal”.


Pertanyaannya, apakah UIN menjamin masa depan mahasiswanya? Atau akan menambah angka pengangguran? Kalau jadi penggangguran, UIN berarti “Universitas Insyaallah Nganggur”. IAIN jadi UIN adalah harapan, bukan gagah-gagahan. Kalau gagah-gagahan, UIN akan jadi Universitas Ini Narsis (UIN juga). UIN launching, Rektor akan jadi orang terkenal, “Tokoh pendiri UIN Imam Bonjol”.


Terakhir, UIN Imam Bonjol Padang terasa bak cawan di tepi bibir. Entah manis entah pahit, semuanya ingin merasakan. Paling tidak mencicipi. Tetapi, ramuan dalam cawan itu kini sedang diaduk dalam gelas yang retak. Sementara, air di dalamnya hanya hangat-hangat kuku. (*)

Opini lainnya

Komentar