Date Jumat, 25 July 2014 | 03:01 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Tajuk Rencana

Pembiaran Kerusakan Jalan

(*)

(*)

PADA awalnya, hujan adalah berkah. Air yang dibawanya meluruhkan debu, menumbuhkan tanaman, dan menyejukkan udara. Namun, kelalaian manusia menjadikan hujan kini sebagai bencana.

Air pembawa kehidupan itu kini menjadi monster mematikan karena sekejap bisa menjadi air bah, banjir yang menggenangi kota, serta yang akhir-akhir membikin resah, memacetkan, dan merusak jalan-jalan di seluruh Nusantara.

Sangat mengenaskan menyaksikan kemacetan yang ditimbulkan hujan. Penumpukan kendaraan terjadi di mana-mana karena beberapa jalan berubah menjadi kubangan. Sementara itu, jalan yang kalis dari banjir penuh lubang dengan permukaan naik turun tak beraturan.


Tak terhitung kerugian waktu dan ekonomi yang harus ditanggung masyarakat gara-gara jalan yang selalu rusak setiap musim hujan. Padahal, semua sudah paham, ibarat tubuh, jalan adalah urat nadi penting perekonomian. Jika urat nadi tersumbat, tubuh tak berfungsi.


Bila jalan tersendat, perekonomian mati suri. Musim hujan datang berkali-kali, namun masalah yang sama tak kunjung teratasi. Masyarakat sudah frustrasi. Protes dengan menanam pohon pisang di jalan yang hancur dan ancaman mogok pengemudi angkutan umum adalah sebagian bentuk ungkapan rasa putus asa itu. Mereka sudah tak tahu lagi harus mengadu kepada siapa karena keluhan soal kehancuran jalan yang sudah menelan banyak korban tak pernah didengarkan pemerintah.


Penanganan selama ini cenderung tambal sulam dengan pendekatan proyek. Pemerintah karena alasan yang sulit dipahami juga tak pernah serius mengembangkan moda transportasi masal alternatif seperti kereta api untuk mengurangi beban moda jalan yang sudah demikian tak tertanggungkan.


Sementara itu, proyek infrastruktur jalan baru yang dilaksanakan tidak berpihak kepada kepentingan rakyat kecil. Pemerintah lebih memilih pembuatan jalan tol yang hanya untuk mobil. Sedangkan rakyat kecil dibiarkan merana, tidak terakomodasi sarana transportasi, dan banyak yang mati sia-sia karena kecelakaan saat mengendarai sepeda motor.


Korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia berdasar data Polri pada 2011 sudah lebih tinggi dariPada angka korban bencana alam, bahkan perang. Kecelakaan lalu lintas tahun lalu berjumlah 99.350 kasus dengan angka kematian 55.722 orang.

Artinya, setiap hari ada tujuh warga negara Indonesia yang tewas di jalanan. Jika mengingat bagaimana kualitas data formal di Indonesia, angka itu bisa dua hingga tiga kali lipatnya. Sungguh mengerikan.


Sukses atau gagalnya suatu pemerintahan semestinya juga diukur dari indikator kasatmata kemampuan penyediaan infrastruktur. Termasuk, bagaimana pemerintah menyediakan jalan yang mulus dan lancar. Sebab, kualitas infrastruktur berkaitan langsung dengan kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat.


Pemerintah boleh saja membusungkan dada dengan capaian ekonomi makro berupa pertumbuhan ekonomi 6,5 persen, bunga kredit dan inflasi terendah dalam sejarah, kurs rupiah tahan krisis, serta yang terbaru rating investment grade. Namun, semua itu tidak pernah membuat masyarakat bangga.

Sebab, di mata mereka, pemerintah sudah gagal menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya mudah: menyediakan jalan yang aman dan nyaman untuk mengantarkan mereka dari rumah ke tempat aktivitas, seperti kerja, belanja, dan sekolah. (*)

Tajuk Rencana lainnya

Komentar