Date Kamis, 31 July 2014 | 04:15 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Bahasa Emosi Rakyat, Siapa Peduli?

Yusrita Yanti

Dosen UBH/Kandidat Doktor Linguistik Terapan

Bahasa Emosi Rakyat, Siapa Peduli?

Ketika membaca sejumlah SMS bedah editorial Media Indonesia (MI) yang ditayangkan di Metro TV, rata-rata isi SMS tersebut mengungkapkan rasa ketidakpuasan terhadap sistem pemerintahan, fenomena sosial dan kepemimpinan yang ada di negara ini (Indonesia), kritikan tentang isu-isu hangat seperti korupsi, kasus Gayus, Bank Century, kasus hakim dan lain-lain sepertinya tak pernah tuntas.


Saya tergelitik mengutak-atik rangkaian kata dalam SMS tersebut, karena SMS tersebut menyiratkan emosi marah, kesal, sedih, kecewa. dan rasa galigaman atau geregetan melihat kasus-kasus yang terjadi cenderung tidak tuntas terselesaikan. Seperti benang kusut, jika ditarik atau dibetulkan tidak mudah atau sulit, ini membutuhkan keseriusan, komitmen dan perhatian fokus, serta konsentrasi tinggi. Jika tidak, hmm... sorak sorai pendapat, argumentasi, perdebatan, komentar, sindiran berkumandang seperti nyanyian pop yang enak didengar sifatnya bisa bertahan lama atau sementara sampai ada ’lagu’ baru atau lama-lama kemudian bisa lupa (?).


Itulah bahasa emosi, ungkapan rasa terhadap ketidakpuasan atas sistem pemerintahan dan fenomena yang terjadi. Semua urusan sepertinya cenderung berhubungan dengan ’uang’, duuh..! Bahkan, untuk memajukan sebuah daerah pun perlu ’uang’ berbicara. Apa pun, katanya, sudah terbiasa diukur dengan uang. Fenomena inilah yang membuat rakyat kecewa dan marah. Itulah yang tertuang dalam SMS tayangan bedah editorial MI.

Jika diperhatikan sejumlah SMS tersebut sangatlah menusuk hati, misalnya ”moralitas org INDO (tak terkecuali) udah jatuh karena uang adalah segala-galanya; DPR hanya kenal rakyat ketika pemilu, setelah itu mereka berteman dengan nafsu, kerakusan, ketamakan; Walau ngomong sampai berbusa tak mungkin ada perubahan, ekonomi rusak disebabkan pola instan para pejabat yang selalu ingin mengendorkan ikat pinggang membesarkan perut, sudah makan uang rakyat kok malah malas”.


Kata-kata rakus, tamak, moral orang Indonesia jatuh begitu menusuk, mengiris perasaan kita, itulah yang terlihat dari SMS tersebut, kata-kata vulgar dan tidak sopan dilontarkan untuk mengkritik pejabat tinggi pemerintah, malah mengatasnamakan orang Indonesia, etika sopan santun dilanggar, kecaman demi kecaman berkumandang terus tanpa henti. Setiap hari selalu ada cercaan buat pemerintah, buat pemimpin dan jajarannya. Ada apa dengan Indonesia? Sudah tidak adakah sikap ramah dan santun itu lagi?


Rasa hormat terhadap pemerintah, pejabat tinggi yang mengurus negara ini yang seharusnya dihormati, tidak lagi dilakukan. Sangat menyedihkan dan memprihatinkan! Itulah yang kita lihat dan rasakan sekarang, salah satu karakter respect (hormat) dari pilar-pilar karakter yang membangun bangsa ini tidak lagi dihiraukan. Program pembentukan karakter pun akan sia-sia jika sifat hormat tidak dikembangkan dalam kehidupan sosial, karena lingkungan tidak mendukung. Mau bagaimana? Pembentukan karakter akan terkalahkan oleh luapan emosi.


Secara pragmatis, wacana SMS tersebut penuh dengan muatan ’makna ilokusi’. Namun, karena daya pragmatis masyarakat kita atau yang membacanya masih cenderung tergolong rendah, maka SMS tadi cenderung dianggap biasa-biasa saja. Kepekaan terhadap fenomena yang terjadi boleh dikatakan tidak ada, sehingga SMS tadi pun berlalu begitu saja. Sama halnya dengan obrolan, komentar, pendapat para ahli/analis yang tertayang di media cetak maupun elektronik. Mereka hanya capek berbicara dan memberikan komentar, namun cenderung juga tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Lama-lama masyarakat seperti menonton opera komentar atau pertunjukan pendapat atau talk show yang berarti (maaf) talk hanya untuk show, yang tidak kalah topnya dengan acara OVJ (Opera Van Java, Sule dan kawan kawan).


Sebagai seorang linguis yang suka mengutak-atik wacana (discourse), kata-kata, saya hanya mengemukakan bahwa analisis terhadap SMS maupun tayangan komentar hendaknya dipahami secara mendalam apa maksud di balik itu, apa yang diharapkan, apa jalan keluarnya, semua harapan ditanggapi serius, kembalikan kepada karaker hati nurani. Para pemimpin maupun para anggota DPR yang cenderung dikritik habis-habisan tentu harusnya merenung dan mengambil sikap positif untuk kritikan yang ada. Jika benar ada, tentu melakukan suatu perubahan. Jangan hanya menganggap kata-kata vulgar tersebut sebagai hal yang biasa dan hanya sebagai penghias layar kaca atau kertas.


Perhatikan apa yang diinginkan rakyat, harapan untuk sebuah intropeksi diri yang diharapkan, terungkap dalam SMS tersebut contoh, ”Yang terutama bagi pemimpin adalah Jujur, Bersih, Idealis, Adil, Tegas, Berani dan Konsekuen,..”; ”Sudah makan uang rakyat, kok malah malas”. Banyak komentar yang mengandung letupan emosi dalam bahasa SMS yang begitu menyakitkan dan tidak sopan yang harusnya ini menjadi cambuk untuk mengubah sikap. Ada suatu peringatan untuk bersikap jujur, adil, idealis, tegas, berani dan konsekuen, dan kerja keras. Seharusnya, diperlukan suatu pemikiran kritis dan analis terhadap kritikan itu yang berdampak untuk perbaikan dan intropeksi diri.


Sedihnya, prinsip kesopanan dilanggar sudah tidak ada lagi rasa hormat kepada petinggi negara. Di sini yang lebih dipentingkan ’rasa’ atau ’emosi’, letupan emosi sebagai dampak ketidakpuasan (unsatisfactory effect) terhadap beberapa kasus yang tersendat dan yang belum tuntas. Misalnya, usaha pemberantasan korupsi yang dikritik mulai dari kata-kata sindiran halus/ironis, metaforis, sindiran kasar sampai ke yang kasar/vulgar, dan perilaku yang kurang sopan sampai ke perilaku buruk, demo yang brutal yang merusak. Akhirnya, menyebabkan kerugian fisik dan nonfisik yang berdampak kepada lajunya pertumbuhan ekonomi negara.


Lelah, capek akhirnya ada juga yang berkata ”lama-lama capek juga ya…ke luar negeri aja ah?” Wah, ini yang berbahaya, rasanya ada muncul sebuah ketakutan jika kita semua mulai merasa capek dengan situasi yang ada, hati nurani pun mulai tidak lagi berbisik tentang sesuatu, kebenaran, apalah jadinya negara kita ini? Jika semua mulai merasa cuek, tidak peduli, bosan, malah ada yang berpikiran sampai berbusa pun mulut situasi tidak akan berubah, maka collapse atau jatuhlah negara ini, Naudzubillah…!


Mudah-mudahan, masih banyak di antara kita yang masih peduli dengan bahasa emosi rakyat yang beredar dan didengar setiap saat. Mari kita analisis secara seksama apa maksud di balik itu. Mari disikapi secara positif, tidak dilawan secara negatif. Lakukan sikap inovatif tidak sikap reaktif. Sesungguhnya, bahasa emosi rakyat, berisikan suara hati yang mencerminkan nilai-nilai karakter yang begitu mulia yang akan menjadi pilar-pilar pembangunan bangsa dan negara Indonesia ini untuk lebih dicintai, maju dan bermartabat di mata rakyatnya dan dunia. Semoga..! (*)

Teras Utama lainnya

Komentar