Date Rabu, 30 July 2014 | 22:09 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Opini

Ekonomi Kerakyatan dan Bank Sampah

DR H Indang Dewata MSi

Kepala Bapedalda Padang

Ekonomi kerakyatan adalah ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan masyarakat lokal dalam mempertahankan kehidupanya, kegiatan ekonomi kerakyatan tersebut dalam bentuk usaha yang dilakukan oleh rakyat kebanyakan dengan cara swadaya sendiri mengelola sumber daya ekonomi apa saja yang dapat diusahakan atau dikuasainya, seperti berdagang dan jualan koran, bengkel sepeda, tambal ban, jual baju bekas, jual kertas koran, botol plastik bekas, ban bekas dan lain-lainya.

Istilah ekonomi kerakyatan menjadi makin nampak oleh karena gagasan ini timbul dan berkembang sebagai upaya alternatif para ahli ekonomi Indonesia untuk menjawab kegagalan yang dialami oleh negara berkembang untuk mengejar pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju.

Permasalahan di Indonesia yang terjadi adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta merta dapat dinikmati oleh rakyat dilapisan masyarakat yang paling bawah hal ini dapat di ukur dengan angka kemiskinan tidak pernah dapat dan bisa terkikis walaupun berpuluh-puluh program yang tumpang tindih untuk pengentasan kemiskinan telah dimunculkan oleh pemerintah setempat, bahkan kesenjangan antara golongan ekonomi sikaya dengan simiskin makin melebar yang secara merata hampir terlihat di sejumlah kota-kota besar di Indonesia.


Melebarnya kesenjangan ini tak kunjung makin mengerucut, bahkan makin melebar karena arus demokrasi yang sudah tidak lurus dengan ditandai semakin meningkatnya program yang kegiatannya berprioritas sekitar orang dekat, sekitar kelompok, sekitar golongan, maka rakyat kecil yang tak punya akses tak tersentuh sama sekali. Salah satu solusi permasalahan ini yaitu melalui pengembangan ekonomi kerakyatan yaitu ekonomi yang tidak lagi berbasis kepada locomotive paradigm berupa dana-dana grand atau hibah yang tidak terukur, tetapi melalui pendekatan pengembangan foundation paradigm yang artinya pengembangan ekonomi rakyat tidak lagi bertumpu kepada uluran tangan pemerintah, modal asing, konglomerat tapi penguatan ekonomi masyarakat dengan mengembangkan sumber daya yang ada pada masyarakat itu sendiri, dan program ini telah membuktikan keampuhanya ketika para konglomerat berjatuhan ditimpa krisis dunia tetapi masyarakat dengan pola ekonomi kerakyatan tetap bertahan, malahan dapat menopang pertumbuhan ekonomi pemerintahan dari ancaman kelumpuhan.


Bank Sampah
Sampah adalah limbah padat yang berasal dari hasil sisa-sisa yang tak termanfaatkan oleh kegiatan manusia baik di perkotaan maupun perdesaan yang semakin begitu konsumtif. Menurut hitung-hitungan MENLH (2000) produksi sampah rata-rata diperkotaan mencapai 0,5 kg/orang/hari sampai 0,8 kg/orang/hari, dari konstanta tersebut maka sudah dapat diperkirakan berapa banyak volume sampah yang dihasilkan oleh sebuah kota setiap hari mengalikan dengan jumlah penduduk yang ada. Jumlah sampah setiap hari dan rata-rata yang terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya sekitar 60-70 persen, maka sisanya akan berakhir di tempat pembakaran atau sampah akan berada di sungai-sungai sambil menunggu musim hujan kemudian menjadi sumber penyebab banjir dan sumber penyebaran penyakit.

Salah satu cara mengubah perilaku masyarakat (social behavior) agar tidak membuang sampah ke sungai, selokan, membakar dengan cara penerapan strategi 3R (reuse, reduce dan recycle), namun konsep ini tidak berjalan dengan baik karena imej yang tertanam bagi masyarakat “sampah “ itu adalah barang tidak berharga, tidak bermanfaat, tidak mempunyai nilai ekonomi sehingga solusi yang paling mudah dan gampang adalah “ buang” atau asal tak berada dilingkungan sendiri. Image atau stigma ini diyakini dapat dirobah dengan menjadikan sampah menjadi berkah dengan upaya mengembangkan ekonomi kerakyatan diperkotaan melalui pengembangan Bank Sampah.

Pelaksanaan Bank sampah sesungguhnya mengandung potensi ekonomi (economic opportunity) kerakyatan yang cukup tinggi karena kegiatan bank sampah dapat memberikan out-put nyata bagi masyarakat dalam kesempatan kerja (job creation), penghasilan tambahan bagi pegawai bank sampah dan masyarakat penabung sampah (nasabah) dan yang paling terpenting lingkungan terjaga dengan baik terbebas dari sampah, penyakit malaria, sumber penyakit lainnya dan terbebas dari banjir/genangan serta tekanan volume sampah terhadap TPA semakin berkurang sehingga umur TPA bisa lebih panjang. Sebagai pembanding untuk kegiatan Bank sampah Barokah- Assalam di Komplek perumahan Dangau Teduh-Indarung Kota Padang, yang mempunyai nasabah sebanyak 44 KK telah berputar uang sebanyak lebih kurang 2 juta/bulan, kegiatan teller hanya dibuka selam 2 jam dalam seminggu yaitu Hari Sabtu dan Minggu dengan memperkerjakan sebanyak 5 orang tenaga kerja. Kegiatan ini dapat mengurangi volume sampah berupa botol plastik, kaca, kardus, koran bekas dan lain sebagainya yang dapat mengurangi sampah sampai 70-80 persen untuk tidak di buang ke TPA dan sampah telah dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi kerakyatan bagi masyarakat dalam bentuk tabungan Bank Sampah yang merupakan tambahan penghasilan.

Kegiatan yang sama juga telah dilaksanakan oleh Bank Sampah Hidayah di Bandarbuat dan Bank Sampah Sahabat Alam di Pangambiran kota Padang serta telah mengembangkan kegiatan Bank Sampah kearah Koperasi simpan-pinjam antar anggota. Namun demikian walaupun kegiatan ini telah bekembang dari paradigm foundation tentu dengan keterbatasan Sumber Dayamanusia (SDM) yang ada pada masyarakat maka sangat dibutuhkan bantuan pemerintah berupa pemberdayaan masyarakat dibidang management, pelatihan kreasi, penjagaan mutu serta menjembatani hasil kreasi dengan pasar dan diperlukan perhatian dunia usaha dalam frame Corporate Social Resposibilty (CSR) sesuai dengan semangat UU Nomor 32/2009 tentang Perlindungan Pengelolaan Lingkungan hidup melalui prinsip “polutant pay principle” yaitu pencemar wajib membayar, maka industri penghasil plastik, sampo, sabun mandi, kaleng, botol harus ikut mengsukseskan kegiataan perberdayaan ekonomi kemasyarakatan melalui Bank Sampah ini sebagai lambang tanggung jawab dunia usaha dalam pemulihan lingkungan yang telah dicemari.


Tujuan membangun Bank Sampah sebenarnya bukanlah Bank Sampah itu sendiri, tetapi adalah strategi dalam megembangkan dan membangun kepedulian masyarakat agar dapat “berteman” dengan sampah bukan “bermusuhan” dengan mengembangkan ekonomi kerakyatan berupa penjualan hasil sampah serta mengembangkan kerajinan kreatif dan inovatif berupa pemanfaatan sampah menjadi kerajinan tangan, pembuatan kompos, usaha tanaman hias dan manfaat lain yang mempunyai nilai ekonomi kreatif. Penciptaan keadaan ini diharapkan tidak hanya mengembangkan ekonomi kerakyatan yang kuat tetapi juga pembangunan lingkungan yang bersih dan hijau untuk menciptakan masyarakat yang sehat. (*)

Opini lainnya

Komentar