Date Sabtu, 26 July 2014 | 22:10 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Semoga Menjadi Haji Mabrur

Indra Catri

Bupati Agam

Semoga Menjadi Haji Mabrur

Musim haji kembali tiba. Tidak berapa hari lagi tamu-tamu terpilih Allah akan segera berhimpun di Mekkah. Mereka sengaja berkunjung ke Baitullah: memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah karena diyakini sepenuhnya bahwa tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.


Mengerjakan haji sesungguhnya merupakan puncak pencapaian spiritual seorang muslim yang teruji mampu secara fisik maupun materi. Secara provokatif cendikiawan muslim Dr Ali Sariati dari Iran mengatakan bahwa ibadah haji adalah perjalanan suci yang penuh simbol.

Disusun dalam suatu skenario yang utuh sebagai rekonstruksi dari penegakan tauhid oleh para nabi dan rasul dari generasi ke generasi. Dalam pelaksanaannya jamaah haji akan bertindak sebagai aktor dengan memerankan Nabi Adam pada satu kesempatan dan menjadi Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail pada kesempatan lain.


Tidak hanya itu, para jamaah haji adalah tamu yang dimuliakan Allah. Selaku tuan rumah Allah berjanji akan mengabulkan permintaan tamu-Nya. Seseorang yang tengah menunaikan ibadah haji tidak hanya berkesempatan memintakan ampun atas dosa-dosanya, tetapi sekaligus bisa memohon keberkatan dan ampunan dosa bagi orang lain yang didoakan.


Betapa istimewanya ibadah haji. Menjadi impian setiap muslim sekaligus bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, agama, bangsa, dan negara. Oleh sebab itu kita selalu berharap, menyarankan, dan mengupayakan agar penyelenggaraan haji setiap tahunnya terus disempurnakan agar tidak terjebak ke dalam pencapaian simbol-simbol duniawi, seperti meraup keuntungan yang besar, mengejar ”status haji”’, atau menjadikannya sebagai perjalanan rekreasi religus.


Beruntunglah saudara-saudara kita yang pada tahun ini memperoleh kesempatan menunaikan ibadah haji. Sebagian yang lain menghadapi hambatan meskipun sangat berharap. Begitulah ibadah haji selalu penuh dengan cobaan dan tantangan baik dalam tahap persiapan, maupun saat pelaksanaan dan bahkan sekembalinya jamaah dari tanah suci.


Oleh sebab itu, bagi yang berkesempatan sudah sepatutnya mempersiapkan diri secara lebih sempurna. Diperlukan kesiapan fisik dan mental serta ketangguhan iman dalam menunaikannya. Sebagai tamu yang dimuliakan, harus tahu diri dan wajib mengikuti semua aturan serta tatakrama yang digariskan-Nya. Selama dalam perjalanan tidak boleh ada kesyirikan, kesombongan, serta tidak melakukan rafats, fusuq, dan jidal.


Ibadah ini dilaksanakan di negeri yang jauh di mana cuaca dan iklimnya berbeda dengan negeri kita. Tatakrama masyarakat di sana adakalanya tidak sama dengan kebiasaan kita di sini. Oleh karena itu, peliharalah kesehatan, jadwal dan menu makanan, serta tingkatkan kesabaran dalam keseharian. Bila menghadapi cobaan dan ujian, segeralah bertawakkal, beristighfar, dan berserah diri kepada Allah SWT.


Siapkan fisik dan mental, serta kuatkan hati dan teguhkan iman. Jangan ada lagi pikiran yang bercabang. Ketika niat telah dilafaskan dan ketika langkah telah diayunkan, maka titipkanlah semua yang ditinggalkan kepada Allah semata.


Berangkatlah dengan tenang, penuhilah seruan Allah, rebutlah kemenangan. Bila kelak kembali ke tanah air bawakan kami oleh-oleh yang istimewa, yaitu amalan soleh yang lebih sempurna sebagai cerminan dari hasil muktamar yang baru saja dilaksanakan dengan Sang Maha Pencipta.


Orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang ”tampil beda” dalam artian positif, karena itulah haji yang mabrur. Mereka akan selalu menjaga dirinya dariperbuatan maksiat dan dosa atau lebih lurus hidupnya dibanding sebelumnya. Semoga sekembali dari tanah suci nantinya semakin meningkat amal salehnya terutama berkaitan dengan sifat kedermawanan, kejujuran, keadilan, dan kerendahan hati.


Lebih jauh lagi, sebenarnya ibadah haji adalah jembatan yang bisa mengantarkan seseorang untuk menggali kecerdasan sosialnya melalui banyak ritual haji yang sarat dengan pesan kepedulian sosial. Kecerdasan sosial selanjutnya akan membentuk kesalehan sosial sesungguhnya saat ini sangat kita perlukan untuk mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat lebih baik, lebih santun, lebih bermartabat, dan lebih madani. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar