Date Rabu, 30 July 2014 | 12:00 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Rindu Tradisi Leluhur, yang Tersisa hanya Apem Kuning

Menelusuri Sejarah Keturunan India di Pariaman

Kamis, 04-08-2011 | 14:21 WIB | 2577 klik
Menelusuri Sejarah Keturunan India di Pariaman

Orang Keling: Keluarga Ilyas, warga keturunan India di Pariaman.

Di dalam banyak buku sejarah, selalu disebutkan bahwa agama Islam di Indonesia dibawa oleh pedagang asal Gujarat India. Di Kota Pariaman, masuknya pedagang India sejak tahun 1500 an, mereka adalah warga India keturunan muslim. Bagaimana mereka hidup dan menjalankan ibadahnya di tengah lingkungan warga Pariaman.


Saat ini keturunan India di Kota Pariaman, hanya sekitar 15 KK saja, 10 tahun yang lalu jumlahnya mencapai 30 KK. Namun karena ingin penghidupan yang lebih baik, banyak keturunan India yang memutuskan merantau ke Padang dan Bukittinggi hingga luar Sumbar, sehingga jumlah warga keturunan India di Kota Pariaman terus berkurang setiap tahunnya. Sebagian besar yang tinggal di Kota Pariaman adalah lansia dan anak-anak.


Catatan tertua tentang Pariaman ditemukan oleh Tomec Pires (1446-1524), seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia. Ia mencatat telah ada lalu lintas perdagangan antara India dengan Pariaman, Tiku dan Barus.


Sebagai daerah yang terletak di pinggir pantai, Pariaman sudah menjadi tujuan perdagangan dan rebutan bangsa asing yang melakukan pelayaran kapal laut beberapa abad silam. Pelabuhan entreport Pariaman saat itu sangat maju. Dua tiga kapal Gujarat mengunjungi Pariaman setiap tahunnya membawa kain untuk penduduk asli dibarter dengan emas, gaharu, kapur barus, lilin dan madu.


Sehingga diperkirakan, sejak saat itu pulalah warga India mulai hadir di tengah Kota Pariaman, bahkan ada yang menikahi penduduk setempat dan membangun rumah tangga di Kota Tabuik itu. Umumnya mereka hidup di pinggiran pantai, seperti saat ini, sebagian besar keturunan India, bermukim di Kelurahan Lohong yang lebih terkenal dengan sebutan Kampuang Kaliang.


Bahkan menurut Ilyas,51, warga keturunan India di Pariaman, dari cerita yang ia dengar turun temurun dari neneknya bahwa warga turunan India, merupakan orang pertama yang menginjakkan kaki di Kota Pariaman. Kata Pariaman sendiri berasal dari kata “Paria” yaitu kasta terendah di India yang sebagian besar adalah muslim dan lebih senang berdagang dari satu negeri ke negeri lain.


Dan kata “Man” berarti adalah laki-laki, sehingga kata Pariaman, berarti adalah laki-laki asal Paria. Dengan demikian, warga keturunan India yang tersebar di seluruh Sumbar berasal dari Kota Pariaman. Bahkan konon kabarnya, warga India lah yang mengenalkan Islam, seperti yang terdapat dalam setiap buku pelajaran sejarah. Meski demikian, Ilyas sendiri tidak tahu pasti kebenaran cerita itu.


Ilyas sendiri merupakan warga keturunan India, dimana ibunya adalah warga keturunan India Pariaman sedangkan ayahnya, Nur Muhammad, warga India asli yang berdagang dari satu negara ke negara lain, dan akhirnya menikah dengan ibunya, Seuma,84,dan hidup menetap di Kota Pariaman.


Sang ayah pada zaman itu berhasil membangun perekonomian di Kota Pariaman, ia memiliki pabrik sabun da pabrik roti yang lokasinya masih berada di Kampuang Kaliang. Tidak salah masa itu, sebagian besar warga keturunan India hidup sejahtera.

Sisa-sisa kejayaan warga keturuna India masa lampau hingga kini masih terlihat, sebagian besar keluarga keturunan India tinggal dan hidup di rumah tua besar dengan desain bangunan khas tempo dulu, peninggalan nenek moyang mereka. Sayangnya satu rumah tua yang pertama kali di bangun warga keturunan India, hancur akibat gempa 30 September lalu. Rumah ini di masa lalu, adalah tempat berkumpulnya orang-orang India yang pertama menginjakan kaki ke Pariaman.


Meski populasi India di Pariaman cukup berpengaruh, namun sebagian besar warga keturunan India, tidak bisa berbahasa India.
Ilyas diantaranya, meski hingga akhir hayatnya, ayahnya dalam keseharian masih menggunakan India Tamil sebagai bahasa kesehariannya. Namun Ilyas sendiri tidak fasih berba hasa India, karena sedari kecil hidup dan bergaul dengan warga Pariaman.

“Tidak hanya saya, sebagian besar warga keturunan India di Kota Pariaman, tidak bisa menggunakan bahasa India. Paling hanya yang tua-tua saja, seperti ibu saya,” ujarnya.


Hal ini karena sebagian besar warga keturunan India, telah hidup menyatu dengan warga asli Pariaman, sehingga dari kecil yang mereka kenal hanya bahasa minangkabau. Kondisi ini juga warga keturunan India juga banyak yang menikah dengan warga Pariaman. Pembatasan menikah dengan sesama warga keturunan India, hanya bertahan hingga tahun 1970 an.


Menyatunya warga keturunan India dan Pariaman juga karena mereka beragama Islam, sehingga rasa persaudaraan menjadi lebih kuat. Warga Pariaman juga sering beribadah di masjid dibangun oleh warga keturunan India.


“Tidak salah juga keturunan kami lebih paham budaya dan bahasa Pariaman dibanding budaya leluhurnya,” ujar Gani,75, yang merupakan paman dari Ilyas. Gani bercerita, dahulunya budaya serak gulo yang biasa dilakukan pada saat peringatan Maulud Nabi juga dilakukan di Pariaman. Namun karena kehidupan perekonomian warga keturunan India di Pariaman, pas-pasan, makanya budaya tersebut hilang begitu saja.


Sebagian besar warga keturunan India. Jika mereka rindu menyaksikan budaya leluhurnya tersebut, mereka pergi ke Padang untuk merayakannya di Masjid Muhammadan di Pondok Padang. Dahulu juga, warga keturunan India, sangat piawai memainkan music ghazzal. Music khas India, yang dimainkan dengan alat armunium dan gendang yang dimainkan di atas kasur pada saat pernikahan.


“Sekarang juga tidak ada yang bisa memainkan ghazzal, seiring perkembangan zaman, orang lebih suka hiburan orgen tunggal,” ujar Gani, mantan pemain ghazzal. Satu-satunya tradisi India yang masih mereka lestarikan saat ini membuat dan menghidangkan makanan khas India, camilan apem kuning, pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Camilan sejenis kue apam dilengkapi saos kari ini, merupakan makanan yang wajib ada pada saat hari-hari besar.


Pengaruh budaya India juga sangat terasa di Pariaman, seperti makanan roti ade, idi apam dan apam bakuah yang terkenal dengan rasa dan aroma rempah, sudah menjadi makanan sehari-hari warga Pariaman. Bahkan banyak warga Pariaman yang juga piawai membuat camilan ini. Tradisi mmenggunakan inai dan mengenakan slayer (memakai gaun putih yang panjang) juga merupakan tradisi India. (***)


Perihal ini diakui oleh Ketua PKK Kelurahan Lohong Zahirma, ia yang sejak kecil di besarkan di kelurahan yang lebih sering di sebut kelurahan kampuang kaliang, merasa warga keturunan India, warga Pariaman pada umumnya. Selain dari bentuk fisik, berhidung mancung dengan postur tubuh tinggi besar, tidak ada yang membedakan warga India dan warga pariaman. Tidak salah warga keturunan India ini menyatu dan bisaditerima oleh warga Pariaman. (nia)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA