Date Jumat, 25 July 2014 | 03:01 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Ekonomi Bisnis

Penimbunan BBM masih Terjadi

Gaji Petugas SPBU di Bawah UMP

Rabu, 20-07-2011 | 12:07 WIB | 417 klik
Gaji Petugas SPBU di Bawah UMP

S Erlangga

Payakumbuh, Padek—Gaji yang diterima petugas stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Payakumbuh dan Limapuluh Kota ternyata belum manusiawi. Ini menandakan pemilik SPBU masih mementingkan untung besar tanpa memikirkan kesejahteraan karyawan.


Hasil penelusuran Padang Ekspres di semua SPBU menunjukkan, rata-rata petugas SPBU hanya digaji antara Rp450 ribu sampai Rp750 ribu setiap bulannya. Bila pun ada petugas yang bergaji Rp1 juta tiap bulan, jumlahnya tidak berapa orang dan masa tugasnya juga sudah belasan tahun.


Hasil penelusuran dan wawancara Padang Ekspres juga sesuai dengan data lapangan yang dikumpulkan jajaran Polsekta Payakumbuh, ketika melakukan pengawasan di sejumlah SPBU, sebagaimana perintah Kapolda Sumbar Brigjen Pol Wahyu Indra Pramugari dan Kapolres Payakumbuh AKBP S Erlangga.


“Sewaktu melakukan giat pengamanan di SPBU sesuai perintah Kapolda dan Kapolres, kita memang sempat bertanya-tanya kepada petugas. Ternyata gaji mereka hanya berada pada kisaran Rp450 ribu sampai Rp1 juta,” ujar Kapolsekta Payakumbuh AKP Eridal kepada Padang Ekspres, Selasa (19/7).


Gaji yang diterima petugas SPBU di Payakumbuh tersebut jelas saja tidak layak atau berada di bawah upah minimum provinsi. Sesuai Surat Keputusan (SK) Gubernur Sumbar Nomor 562-340-2010 tanggal 8 November 2010, Upah Minimum Provinsi Sumbar tahun 2011, Rp 1.055.000.


Sehingga jangan heran jika oknum petugas SPBU banyak yang terjebak praktik permainan minyak, termasuk melayani pemberi dengan jeriken. Sebab dengan melayani pembeli yang datang membawa, mereka bisa mendapatkan uang tips Rp5 ribu sampai Rp8 ribu per jeriken.


“Kalau hanya menerima gaji saja, anak-istri kami jelas tidak bisa makan, Pak. Makanya, biasanya teman-teman melayani pembelian lewat jeriken. Tapi sekarang, karena ada pengawasan polisi, kami pun tidak bisa melayani pembeli jeriken,” ujar sejumlah petugas SPBU yang meminta agar nama mereka tidak dituliskan.


Masih Terjadi
Terkait pendistribusian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, diduga kuat masih diwarnai praktik penimbunan. Namun modusnya bukan lagi melibatkan petugas SPBU ataupun oknum aparat penegak hukum, melainkan masyarakat umum.


Seorang informan Padang Ekspres yang membeli bensin di wilayah hukum Polres Payakumbuh, persisnya di SPBU Tabekpanjang, menemukan adanya kegiatan pengumpulan BBM dengan cara mengisi sepeda motor berbodi besar secara berulang-ulang.


“Di sebuah bengkel sekitar SPBU Tabekpanjang, terjadi giat pengumpulan BBB dengan cara mengisi honda Thunder secara berulang-ulang dan memindahkan ke dalam jeriken. Kemudian dijual ke pengecer dengan harga Rp7 ribu sampai Rp10 ribu per liter,” ujar sang informan.


Informan yang tercatat merupakan anggota salah satu Polsek di wilayah hukum Polres Limapuluh Kota tersebut, berharap Padang Ekspres dapat memberitakan fakta yang ditemukannya.


“Tulis sajalah beritanya, kapan perlu bikin nama saya. Sudah susah masyarakat di Mudiak (Kecamatan Guguak dan Suliki-red) karena bensin langka dan sudah susah pula kawan-kawan di Polres Payakumbuh menjaga SPBU, ternyata masih ada oknum warga bermain,” ujarnya.


Terpisah, Kapolres Payakumbuh AKBP S Erlangga melalui Kasat Serse AKP Jefrizal Jarun dan Kanit Buser Ipda Ismet berjanji akan segera melakukan penyidikan, terkait informasi dugaan penimbunan minyak, dengan modus mengisi bensin berulang-ulang di SPBU. “Nanti malam, kita bergerak,” ucap mereka. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA