Date Selasa, 29 July 2014 | 01:27 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

13 Siswa Digelandang ke Mapolresta

Disdik Keluarkan Siswa Tawuran

Kamis, 14-07-2011 | 11:53 WIB | 1144 klik
Disdik Keluarkan Siswa Tawuran

Masih Pembinaan: Kapolresta Padang Kombes M Seno Putro melakukan pembinaan pada

Padang, Padek—Untuk ke-13 kalinya selama 2011 ini tawuran pelajar terjadi di Padang. Dendam lama selalu menjadi pemicu perkelahian. Meski begitu, Dinas Pendidikan (Disdik) dan pihak sekolah seperti tak berdaya mengatasi perilaku kenakalan remaja tersebut.


Informasi yang dihimpun Padang Ekspres di lapangan, kejadian berawal ketika siswa SMA Kosgoro sedang kongkow-kongkow sembari menunggu angkutan umum di Lapangan Imam Bonjol. Tanpa diduga, datang segerombolan siswa sekitar 20 orang menyerang mereka.


Terjadilah baku hantam, kejar-kejaran dan perang batu antara kedua kubu yang sudah musuh bebuyutan sejak lama itu. Menurut pengakuan siswa SMK Kosgoro yang tertangkap, mereka diserang oleh siswa gabungan dari SMKN 5 Padang, SMK Taman Siswa Padang.


Melihat kejadian itu, sejumlah anggota polantas, buser dan Samapta langsung membubarkan tawuran yang terjadi di depan Markas Polresta Padang itu. Polisi berhasil mengamankan 13 pelajar dan digelandang ke Mapolresta.


Siswa SMK Kosgoro, AR, 16, mengaku beberapa sekolah di Padang menjadi musuh bebuyutan dan mempunyai dendam lama satu sama lainnya. Kelompok yang tergabung dengan SMK Kosgoro, SMK Muhammadiyah, dan sekolah lainnya berlawanan dengan SMKN 5 Padang, SMK Taman Siswa dan sekolah lainnya. “Ini dendam lama dan buntut dari pemalakan kawan kami di Simpangaru,” ujar AR.


Di Mapolresta, mereka mendapatkan pembinaan oleh Satuan Binmas. Setelah diinterogasi, ternyata ada seorang siswa SMAN 4 ikut terjaring, yang tidak terlibat dalam tawuran itu.


Kapolresta Padang Kombes M Seno Putro mengatakan, karena masih di bawah umur dan tidak ditemukan bukti penganiayaan, hanya diberikan tindakan pembinaan.


Terancam Diberhentikan
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Padang, Bambang Sutrisno yang dihubungi Padang Ekspres tadi malam mengaku baru mengetahui aksi tawuran ini saat menonton televisi. Dia berjanji memberhentikan siswa yang terlibat tawuran. “Kita sudah keluarkan lima siswa yang mengarah pada tindakan criminal, seperti melakukan penganiayaan, penyerangan lebih dulu, dan membawa senjata tajam. Jika nanti terbukti dan tertangkap siswa yang melakukan penyerangan duluan, juga akan kita keluarkan,” ujar Bambang.


Sedangkan pengamat pendidikan dari UNP, Ali Zamar menilai, tawuran bisa diatasi setelah dicarikan solusi terhadap akar persoalannya. Tahun ajaran baru dan masa orientasi siswa (MOS) merupakan masa yang tepat untuk membina dan memutus mata rantai permusuhan antarsekolah yang sudah berurat berakar.


Orangtua sebagai yang paling bertanggung jawab terhadap anak, harus membuat surat pernyataan bahwa anaknya tidak akan terlibat tawuran. Jika terbukti, bersedia dihukum dan dikeluarkan dari sekolah. Kemudian, saat MOS dengan melakukan kegiatan MOS bersama dan menanamkan dalam benak mereka bahwa mereka adalah saudara.

“Saya yakin seniornya justru menanamkan bahwa ada sekolah-sekolah tertentu yang menjadi musuh mereka. Itu harus diputus mata rantainya, kalau perlu hapuskan MOS di sekolah itu kalau hanya untuk mengajar junior hal yang tidak baik,” ujar Pembantu Rektor III UNP ini. (a)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA