Date Kamis, 31 July 2014 | 22:33 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Internasional

Kesenian Minang jadi Pertunjukan Utama

Laporan Perjalanan Jurnalistik ke Tokyo (2)

Senin, 11-07-2011 | 11:35 WIB | 1218 klik
Laporan Perjalanan Jurnalistik ke Tokyo (2)

TARI GELOMBANG: Pembukaan festival Indonesia di Jepang, didahului penampilan gan

Tim kesenian dari Sumatera Barat diwakili ISI Padangpanjang benar-benar mendapat kehormatan dalam festival Indonesia di Tokyo Jepang, 8-9 Juli 2011 ini. Dalam penampilan perdananya sejak iven itu digelar oleh KBRI Indonesia di Tokyo, tim dari Sumatera mendapat kehormatan tampil pertama.


Sama halnya dengan Indonesia, Jepang juga menerapkan libur kantor pada Sabtu dan Minggu. Waktu liburan memang tak disia-siakan oleh masyarakat yang terkenal dengan disiplin dan kerja kerasnya itu. Berbeda dengan jam-jam kantor, di hari libur suasana jalan-jalan di Kota Jepang lebih padat dan ramai. Pada umumnya, bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki mobil, mereka memilih ke luar rumah menggunakan kendaraan pribadi. Sedangkan di hari hari biasa untuk kerja ke kantor, mereka cenderung menggunakan transportasi umum.


Pilihan menggunakan kendaraan umum sangat tepat, selain menghemat biaya untuk bayar tol dan beli BBM, aturan parkir kendaraan di Jepang sangat ketat dan terbatas. Di sisi lain transportasi di negara itu sudah sangat lengkap, baik kereta api maupun jalur bus. Seluruh pengguna jalan, mulai pejalan kaki, sepeda, sepeda motor, dan mobil sangat dijaga keselamatan mereka.


Jalan-jalan untuk pejalan kaki, pengendara sepeda sudah disediakan khusus, terpisah dengan jalur kendaraan bermotor. Tak ada kerisauan dan kekhawatiran ada pejalan kaki atau pendayung sepeda yang ditabrak kendaran. Meski hanya menggunakan sepeda, jangan coba-coba parkir sembarangan. Bila itu dilakukan, akan ada secarik kertas denda yang diselipkan di sepeda.


Rata-rata pengguna sepeda adalah pelajar, anak-anak dan orangtua. Tetapi ada pula sebagian remaja dan ABG. Tak ada kerisihan ataupun rasa malu bagi mereka bersepeda hilir mudik melintasi jalan-jalan di kota Tokyo. Jalur jalan sepeda sama mulusnya dengan jalan tol, diaspal dan dipagari besi agar tak berisiko bagi jalan bus.


Suasana ramai dengan pejalan kaki, bersepeda atau sekadar lari-lari pagi juga terasa Sabtu pagi di Taman Yoyogi, Tokyo Jepang. Salahsatu taman utama, penuh pepohonan dan beragam sarana olahraga. Letaknya di jantung kota Tokyo. Dari KBRI dibutuhkan perjalanan sekitar 8 km, dengan tarif tol 730 Yen atau sekitar Rp70 ribu.


Sejak pukul 8 pagi waktu Jepang, taman sudah penuh pengunjung. Ada yang berolahraga, jalan kaki, bersepeda, dan ada juga yang menyaksikan panitia dari staf Kedubes dan EO setempat merampungkan persiapan festival. Di tengah arena taman, pemerintah kota Tokyo menyediakan satu panggung utama, dengan luas sekitar 20 x 20 meter untuk berbagai pertunjukan. Indonesia juga memanfaatkan taman itu untuk iven tahunan Festival Indonesia.


Tahun ini, ISI Padangpanjang mendapat bagian untuk tampil. Dalam penampilan perdananya, ISI mendapat kesempatan tampil pertama. Sejumlah pergelaran tari, musik dan vokal dipersembahkan tim ISI Padangpanjang untuk ribuan pengunjung yang hadir.


Sebelum acara dibuka Dubes Indonesia untuk Jepang, M Lutfi, tim ISI menampilkan gandang tasa dan tari gelombang. Tepuk tangan tak henti-hentinya diberikan pengunjung, baik warga Indonesia yang bekerja di Jepang maupun warga asli sana. Selanjutnya, tari pasambahan dibawakan anak-anak Indonesia di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT).


Selain kesenian Minang dan Melayu, dalam festival dua hari itu juga ditampilkan tim kesenian dari Karang Asem Bali, kelompok band Chancuter dan artis Rio Febrian. Murid-murid SRIT, mulai dari SD sampai siswa SMA juga menampilkan berbagai kesenian tanah air. Selama sebulan murid yang umumnya anak para diplomat dan staf di KBRI itu digembleng khusus oleh pelatih yang didatangkan dari ISI Padangpanjang, S Loravianti.
Suasana di Taman Yoyogi semakin ramai ketika siang. Puluhan stand terpasang menyuguhkan produk-produk Indonesia. Mulai dari kuliner, pakaian dan pernak-pernik nusantara. Sayangnya, tak satupun ditempati dari Sumbar. “Produk-produk dari Sumbar tak ada. Kita sudah memberitahu sejak tahun lalu, tapi mungkin ada pertimbangan lain,” ujar Atase Pendidikan Indonesia di Jepang, Prof Edison Munaf yang menggawangi tim kesenian dari ISI Padangpanjang. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA