Date Rabu, 30 July 2014 | 22:09 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Soputan Meletus, Empat Pesawat Tertahan

Senin, 04-07-2011 | 11:21 WIB | 182 klik

Manado, Padek—Gunung api Soputan di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara menunjukkan aktivitas hebat. Minggu (3/7) sekitar jam 00.24 WITA gunung yang masuk kategori gunung api terkatif di Indonesia itu, meletus dengan mengeluarkan awan panas.

Letusan mencapai ketinggian 750 meter dari bibir kawah. Pada letusan pertama, disertai api dengan ketinggian mencapai 250 meter. ”Tapi, statusnya masih siaga,” ujar Iing Kusnadi, Penanggung Jawab Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung Kawasan Sulut, kemarin.


Meletusnya Gunung Soputan, juga membuat pihak Angkasa Pura I menutup Bandara Sam Ratulangi Manado sejak pukul 12.00 WITA, karena semburan debu yang mengarah ke selatan menutupi kawasan bandara dan landasan, sehingga bisa mengancam keselamatan penerbangan. Humas Angkasa Pura I, Merpin Butarbutar mengakui ada empat pesawat yang masih tertahan di Bandara Sam Ratulangi, Manado, karena bandara ditutup. Keempat pesawat itu adalah Garuda dengan nomor penerbangan 601, Lion Air 775, Sriwijaya 269, dan Lion Air 749 jurusan Surabaya. Sementara itu, Batavia 635 terpaksa dialihkan.


Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Soputan, Sandly Manengkey menyebutkan, letusan gunung merapi Soputan kali ini masuk kategori besar. Tapi, jauh lebih besar letusan 6 Oktober 2008 lalu. ”Letusan tahun 2008 ada lebih dari 3 kali mengeluarkan awan panas. Dan itu merupakan ancaman bahaya paling tinggi,” tegas Manengkey. Dia menyebutkan, peningkatan aktivitas sudah mulai terjadi pada beberapa hari sebelumnya sehingga ditingkatkan dari level waspada ke siaga.


Puncak letusan paling besar terjadi pada jam 06.03 WITA. Gunung mengeluarkan asap dan kabut tebal dengan ketinggian mencapai 5.000 sampai 6.000 meter, disertai gemuruh dengan suara cukup besar hingga keluar awan panas, pasir, debu dan material lainnya dengan jarak luncur mencapai 6 kilo meter. Dalam semburan tersebut lanjut Manengkey, material abu atau pasir lebih mengarah ke arah barat dengan ampitudo 44 MM atau over skill atau masuk aktivitas terbesar. Namun, sekitar pukul 14.30 WITA, aktivitasnya berangsur menurun. Tapi status siaga masih ditetapkan petugas dan pemerintah.


Sementara itu aktivitas masyarakat di Desa Kota Menara, kecamatan Amurang Timur, dekat dengan kawasan gunung mulai terganggu. Masyarakat mulai merasakan susah bernafas dan tangan serta tubuh gatal-gatal. Meski letusan tak sebesar tahun sebelumnya, tapi kali ini ada yang besar, abu yang dikeluarkan ketika terkena di kulit langsung terasa gatal dan pandangan mata terasa pedih. (jpnn)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA