Date Jumat, 1 August 2014 | 02:36 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Ceritakan Pengalaman Gempa lewat Komik

29 Murid Perwakilan Belajar Mitigasi

Kamis, 23-06-2011 | 14:17 WIB | 197 klik

Mitigasi mestinya dikenalkan sejak dini. 29 pelajar perwakilan beberapa SD di Padang, memecah kebekuan pelajaran mitigasi yang belum juga dilekatkan pada kurikulum. Demi mudahnya memahami mitigasi, anak-anak itu dikenalkan lewat komik.


Siang kemarin (22/6), 29 murid perwakilan SD di Kelurahan Gunungsarik belajar mitigasi bencana di MIN Gunungsarik. Pembelajaran ini diselenggarakan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M).


Banyak cara untuk melatih kesigapan dalam menghadapi bencana seperti gempa, tsunami dan kebakaran. Salah satunya cara belajar dari pengalaman yang telah dirasakan.


Dengan mengusung tema pengurangan risiko bencana pada masyarakat berbasis kearifan lokal, murid SD ini disuruh menggambar dan membuat komik dinding. Setelah diberi penjelasan bagaimana cara membuat dan mengerjakannya, seluruh peserta serius menorehkan pensil di kertas yang telah disediakan panitia.


Rayhan Ramuja, seorang peserta, terlihat serius duduk di kursinya. Sambil memegang pensil yang baru dirautnya, murid SDN 02 Gunungsarik ini berusaha membuat gambar yang diingatnya sewaktu gempa. Kertas ukuran A4 yang digaris menjadi empat bagian itu, dalam waktu setengah jam sudah terisi penuh oleh gambar rumah, sawah, gunung, dan layangan. Rayhan juga menggambar dirinya yang sedang bermain bola bersama teman lainnya.


“Ini rumah saya,” katanya menjelaskan. “Di sini saya lagi bermain bola bersama teman-teman saat gempa besar mengguncang Padang,” ujarnya polos pada Padang Ekspres.


Peserta lainnya, Aidil Aziz T, juga membuat komik dinding yang menggambarkan dirinya sedang bermain layangan beserta teman lainnya. Saat gempa terjadi, dia hanya bisa duduk karena tidak bisa berlari. Di kolom berikutnya, murid SDN 29 Gunungsariak ini menggambarkan dia bertemu ibunya yang saat itu juga mencarinya.


“Kalau sekarang ada gempa, saya sudah tidak takut lagi Pak. Sudah tahu lari ke mana,” ujarnya karena sudah mengetahui pola mitigasi dari simulasi yang diadakan di sekolah beberapa waktu lalu.


Dengan media gambar seperti inilah, salah satu cara LP2M memberikan mitigasi bencana pada murid SD. Project officer DRR, Fatahuddin menjelaskan, cara ini mudah dicerna anak-anak. Jika diberikan pola orang dewasa, jutsru menambah trauma anak-anak. “Contohnya saja dengan membuat komik ini, tema dari komik adalah mitigasi bencana. Murid bisa menceritakan pengalamannya ketika gempa dua tahun lalu tapi menceritakan lewat gambar,” imbuhnya.


Fatah menambahkan, belajar dari tahun lalu, kelurahan ini dijadikan tempat mengungsi bagi masyarakat yang berada di pusat kota atau di pesisir pantai. Karena itu, dia melihat masyarakat di zona aman tsunami juga perlu diberikan pelatihan mitigasi agar bisa membantu masyarakat lain.


Khusus untuk murid SD, terutama di Gunungsarik, LP2M telah melakukan berbagai kegiatan mitigasi, seperti simulasi gempa. Pendamping Wilayah Gunungsariak LP2M, Puji menambahkan, LP2M juga membentuk komite siaga bencana Guningsarik bekerja sama dengan salah satu organisasi dari Swiss, HEKS.


Sampai saat ini ada enam wilayah dampingan, dua di Padang dan empat di Pariaman. Setiap wilayah pendamping memiliki komite siaga bencana, yang angotanya masyarakat sekitar dan diberi berbagai pelatihan mitigasi.


Jepang sudah membuktikan keberhasilan memperkenalkan mitigasi sejak dini. Sewaktu gempa mengguncang Negeri Matahari Terbit beberapa waktu lalu, tak ada kepanikan. Yang ada hanyalah ketertiban memasuki jalur evakuasi atau shelter yang telah disediakan. Rasanya, tak salah mencontoh sikap seperti itu. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA