Date Kamis, 24 July 2014 | 09:33 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Hujan Abu tak Timbulkan Kerusakan

Marapi Waspada, Warga Siaga

Jumat, 28-02-2014 | 10:58 WIB | 2959 klik
Marapi Waspada, Warga Siaga

Marapi Waspada

Padangpanjang, Padek—Penduduk di sekitar Gunung Marapi mulai meningkatkan kewaspadaan, menyusul semburan abu vulkanik selama 38 detik sehari sebelumnya. Walaupun sekejap, sejumlah tanaman hortikultura peladang gagal panen.

Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bukittinggi, kemarin (27/2), Gunung Marapi mengalami tiga kali letusan, lima kali gempa tremor, satu gempa vulkanik B, satu kali hembusan dan satu kali gempa tektonik jauh.

“Kita masih melakukan pengecekan informasi abu vulkanik letusan Gunung Marapi yang menghujani sejumlah daerah,” kata petugas PVMBG Bukittinggi, Warseno ketika ditemui Padang Ekspres di kantornya, kemarin.

Data sementara, daerah terparah dihujani abu vulkanik Marapi adalah Kecamatan X Koto dan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanahdatar. Meski begitu, pantauan Padang Ekspres di lapangan kemarin, tidak ada kerusakan berarti. Hanya beberapa hektare tanaman masyarakat yang rusak terpapar abu.

Nuraida, 65, misalnya. Ladang sayur bayam warga Nagari Batipuh Ateh, Kecamatan Batipuh ini, tidak seluruhnya bisa dipanen akibat tersapu abu.

”Abunya memang tipis, tapi daun bayam tidak segar lagi dan keras,” ungkap ibu beranak lima yang tengah menyiram sayurnya.

Sekretaris Camat Batipuh, Yetriwel ketika dikonfirmasi, mengaku belum ada menerima laporan masyarakat soal kerusakan ladang akibat terpaan abu vulkanik.

“Namun berdasarkan pantauan dan informasi warga, hampir seluruh kawasan terkena abu vulkanik. Mudah-mudahan tidak ada kerugian. Di Batipuh, ada 2 ribu hektare lahan pertanian masyarakat yang tersebar di delapan nagari,” ucap Yetriwel di ruangan kerjanya kemarin.

Guna mengantisipasi dampak terburuk, aparatur Camat Batipuh intensif menyerukan masyarakatnya meningkatkan kewaspadaan. “Kami juga sudah memperkuat koordinasi dengan pihak-pihak terkait sebelum diambil tindakan lebih lanjut terhadap keselamatan penduduk,” ujarnya.

Tindakan serupa dilakukan Wali Nagari Sabu, Kecamatan Batipuh, Sidi Mulie. Seluruh aparatur nagari aktif mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan, mengingat letusan Marapi bisa terjadi sewaktu-waktu.

Seperti letusan Rabu (26/2) lalu, tanpa diikuti tanda-tanda alam atau bunyi gemuruh. “Di samping itu, kita juga kesulitan memantau kondisi Gunung Marapi karena tertutup kabut asap,” ujar Sidi.

Wali Nagari Andaleh, Faizul Dt Rajo Mangkuto juga telah mengajak masyarakatnya selalu siaga. “Masyarakat kami membutuhkan bantuan masker untuk mengantisipasi gangguan pernapasan akibat kabut asap dan abu vulkanik,” jawab Faizul.

Selain dua kecamatan di Tanahdatar tersebut, beberapa permukiman warga di Padangpanjang juga dihujani abu vulkanik.

Sepanjang Februari 2014 ini, Gunung Marapi sudah mengalami 74 aktivitas. Dari jumlah tersebut, aktivitas letusan tercatat tiga kali di luar letusan pada Rabu (26/2). Selain itu, juga terjadi satu kali hembusan, satu kali tremor, sembilan kali gempa vulkanik dalam (VA), delapan kali gempa vulkanik dangkal (VB). Lalu, ada 48 kali gempa tektonik jauh, dan enam kali gempa tektonik lokal.

Kerinci Normal, Talang Sulit Dipantau

Bagaimana pula kondisi Gunung Kerinci? Sejauh ini, belum memperlihatkan tanda-tanda peningkatan aktivitas. Hembusan asap hitam atau bahan bahaya lainnya belum terlihat.

Petugas Pemantauan Gunung Kerinci, S Mamori menyebutkan, saat ini status Gunung Kerinci masih waspada sejak 9 September 2007. Namun begitu, aktivitas pendakian tetap dilarang karena kondisi cuaca belum membaik.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok Selatan, Hamudis mengimbau masyarakat tetap waspada mengingat kondisi cuaca di daerah itu memburuk akhir-akhir ini. “Kondisi ini dikhawatirkan bisa menimbulkan longsor, banjir dan penyakit,” jelas Hamudis.

Lain lagi kondisi Gunung Talang di Kabupaten Solok. Akhir-akhir ini sulit dipantau akibat tertutup kabut asap.

“Secara visual sepekan terakhir, saya tidak dapat memantau aktivitas Gunung Talang akibat kabut asap yang tebal,” kata Pengamat dan Pemantau Gunung Talang, Dalipa Marjusi kepada Padang Ekspres, kemarin. (wrd/a/r)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA