Date Senin, 28 July 2014 | 11:12 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Ketika Pendekar Bule Belajar Silek

Diminati Dunia, Miskin Dukungan Daerah

Sabtu, 24-08-2013 | 11:33 WIB | 1700 klik
Diminati Dunia, Miskin Dukungan Daerah

Cormac MC, pesilat asal Finlandia, berduel dengan pesilat Sumbar.

Masyarakat Minang boleh berbangga, ilmu bela diri silek mendunia. Bila di negeri orang silek kian mendapat tempat di hati masyarakat dunia, di negeri asalnya malah meredup pamornya.

Matahari mulai condong ke ufuk barat. Namun , pria jangkung berkulit putih itu, masih bersemangat latihan, Kamis (22/8). Pakaian ala “pendekar Minang” serbahitam, tak kunjung lepas dari badannya sejak pagi. Sesekali, ia menyerobot dan ngotot ingin ikut bermain alat musik talempong, gendang, puput bansi.

Tak lama berselang, Cormac MC, si bule asal Finlandia ini pun membaur dengan sesamanya di pojok posko panitia, berdiskusi, dan bercengkerama dalam bahasa Inggris. Cormac MC sudah tiga hari berada di Talang Babungo mengikuti Minangkabau Silek Camp Festival dan Jambore International. Selama mengikuti iven ini, para pendekar bule ini diasuh pesilat asal Bukittinggi, Edwardo Guci.

“Saya datang ke sini (Talang Babungo) untuk menyaksikan atraksi silat oleh para pendekar Minang, sekaligus mempelajarinya bila diizinkan. Sebab, silat tradisi Minangkabau terlihat cukup bagus, gayanya klasik,” ujar Cormac menjawab Padang Ekspres, seusai penutupan Festival Silat Minangkabau di Gelanggang Bunian, Talang Babungo, Kabupaten Solok, Kamis (22/8).

Keinginan Cormac mempelajari silek tak main-main. Dia berangkat dari negaranya bermodalkan Rp 70 juta, demi mengunjungi sasana-sasana silat di Sumbar. Kegigihan Cormac berlatih silat, mulai memperlihatkan kemajuan.

Sekarang, pria mahir kick boxing itu, bisa memperagakan jurus-jurus silek Minang.

“Setelah beratraksi bersama puluhan pendekar lainnya di sini, rencana kami juga akan bertandang ke sejumlah sasana silek di beberapa daerah di Sumbar. Saya mau kok menjadi pendekar Minang,” imbuh Cormac senang.

Lain lagi pandangan Johnny, pesilat asal London. Silat Minang mengasyikkan baginya. Banyak hikmah bisa dipetik, di antaranya melatih kesabaran dan optimisme. Johnny bertekad mengajarkan silek pada anak-anak dan teman-temannya di London. “Di negeri saya tidak ada silat, yang ada kick boxing, karatek, kungfu, wushu. Makanya, saya ingin mempelajari seni bela diri tradisional asal Minang ini,” tutur Johnny.

Puncak pergelaran Festival Silek Minangkabau di Galanggang Aluang Bunian, Talang Babungo ini berlangsung Kamis (22/8). Wajar, seluruh pendekar utusan dari berbagai perguruan silat se-Sumbar dan mancanegara menampilkan kebolehannya di atas panggung. Seusai acara puncak, para pesilat dunia dan lokal ini anjangsana ke beberapa sasana silek di nagari-nagari di Kabupaten Solok. Kunjungan perdana, dipusatkan di tiga tempat sasana silek di Nagari Talang Babungo. Setelah itu, baru ke nagari lainnya.

Kunjungan ke sasana-sasana perguruan silat, menurut Ketua Panitia Jufrizal, bertujuan menjalin hubungan persaudaraan, sekaligus uji coba kebolehan pertanda komunitas silek Minang satu keluarga.

Kabupaten Solok sendiri memiliki 15 aliran silek. Seluruhnya tergabung dalam silek langkah ampek, dan langkah duo. Seperti aliran silek kurambik di Sasana Silek Nagari Talang Babungo.

“Kami ingin menjadikan Nagari Talang Babungo sebagai Kampung Pendekar Minangkabau, sehingga terlahir bibit-bibit baru untuk menghidupkan kembali marwah silek. Setelah sebelumnya, silat tradisi Minang kian menghilang hampir di seluruh daerah se-Sumbar,” tukas Jufrizal.

Selaku penggagas Minangkabau Silek Camp dan Festival Internasional, Jufrizal mengaku sempat berkecil hati. Sebab, jalannya festival nyaris tidak mendapat respons sebagaimana diharapkan dari Pemkab Solok, Pemprov Sumbar, serta dinas instansi terkait lainnya.

“Entah kenapa, acara ini berlangsung tanpa dukungan pemerintah. Sampai-sampai untuk menutupi rasa malu, 40 peserta di antaranya 15 dari Malaysia, 25 Thailand, terpaksa ditolak. Jujur, acara ini gaungnya saja yang besar berkat dukungan teman-teman pers. Kenyataannya di lapangan, justru bertolak belakang,” timpal Edwardo, pengasuh silek asal Bukittinggi.

Meski serbaterbatas, iven Minangkabau Silek Camp dan Festival tetap dilangsungkan hingga 29 Agustus mendatang. “Kami bertekad, acara ini dijadikan agenda tahunan,” pungkas Edwardo. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA