Date Minggu, 27 July 2014 | 02:14 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Dua Calon Kapolri Dimutasi

Minggu, 09-06-2013 | 06:02 WIB | 1710 klik

Jakarta, Padek—Dua pejabat namanya masuk bursa Kapolri dan Wakapolri versi Kompolnas masuk gerbong mutasi. Mereka adalah Kapolda Jabar Irjen Tubagus Anis Angka Wijaya dan Kapolda Kaltim Irjen Anas Yusuf yang ditarik ke Mabes Polri. Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen Hadiatmoko juga dimutasi dalam rangka pensiun.

Para perwira tinggi itu masuk gerbong mutasi polri lewat telegram bernomor ST/1194/VI/2013 tertanggal 7 Juni 2013. Setidaknya ada 76 nama perwira tinggi dan perwira menengah yang harus menanggalkan jabatan lamanya. Dari jumlah tersebut, ada 11 kapolda yang dimutasi.

Di antaranya, Kapolda Jatim, Jabar, Jateng, Sumut, Sulsel, Kaltim, Kalteng, Riau, Kepri, Jambi, dan Sulut. Tubagus yang masuk bursa Kapolri ditarik menjadi Kadiv TI. Sedangkan, Anas yang pernah menjadi ketua tim penjemput anggota DPR Muhammad Nazarudin di Kolombia ditarik menjadi Wakabareskrim.

Sementara itu, Hadiatmoko ditarik menjadi perwira tinggi Mabes Polri. Rekan seangkatan Kapolri Jenderal Timur Pradopo dan Wakapolri Komjen Nanan Soekarna itu akan pensiun pada 12 Oktober mendatang. Dia digantikan Kakorbrimob Irjen Unggung Cahyono.

Unggung bukanlah orang baru di Jatim. Pria kelahiran 9 April 1961 itu mengawali karirnya sebagai Danton K1 5111 Brimob Polda Jatim di Malang pada 1985. Pada periode 2002 sampai 2005, dia menjadi Kapolres Malang, dan setelahnya menjadi Kapolres Sidoarjo selama beberapa bulan.

Perwira tinggi lain yang terkena mutasi adalah Kadivhumas Irjen Suhardi Alius. Pria kelahiran 1962 itu mengisi jabatan Kapolda Jabar yang ditinggalkan Tubagus. Penggantinya adalah mantan Kapolwiltabes Surabaya yang saat ini menjabat Karowassidik Bareskrim Polri, Brigjen Ronny Franky Sompie.

Ronny dikenal sebagai perwira tinggi yang tegas dan lugas. Karena itu, oleh Kapolri dia dipercaya memegang jabatan Kepala Biro Pengawasan Penyidik Bareskrim untuk yang pertama kalinya. Sebelum dijabat Ronny, Biro itu belum ada. Dengan ditaruhnya Ronny sebagai juru bicara, jelas Polri melakukan pembaharuan di sisi komunikasi dengan masyarakat.

Mutasi para perwira tinggi tersebut memunculkan sejumlah spekulasi lain. Kepindahan Tubagus yang belum setahun menjabat sebagai Kapolda Jabar memunculkan dua spekulasi. Selain karena namanya masuk bursa calon Kapolri versi Kompolnas, dia juga dikaitkan dengan upaya perlindungan terhadap Susno Duadji.

Namun, spekulasi tersebut dibantah Mabes Polri. Kabagpenum Kombespol Agus Rianto mengatakan, mutasi kali ini merupakan bongkar pasang yang dilakukan secara reguler. Tidak ada kaitan dengan sanksi akibat kasus tertentu. Yang ada, justru promosi terhadap perwira berprestasi.

Agus mencontohkan mutasi Kapolda Kepri Brigjen Yotje Mende yang anak buahnya baru-baru ini mengungkap penyelundupan 162.500 butir ekstasi asal Malaysia. ”Dia berprestasi, dan layak mendapat promosi,” terangnya. Jabatan barunya adalah Kasespimti Sespim Lemdikpol Polri, yang artinya dia bakal mendapat kenaikan pangkat menjadi Irjen.

Yang jelas, tambah Agus, tidak ada yang istimewa dalam mutasi anggota Polri. Mutasi dilakukan dalam rangka penyegaran untuk menjaga agar roda organisasi tetap berjalan dinamis. Pihaknya berharap para pejabat baru itu bisa cepat beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga tidak mengganggu kinerja.

Secara terpisah, mutasi kali ini dinilai sangat berpengaruh pada peta calon Kapolri Agustus nanti oleh Indonesia Police Watch. Ketua Presidium IPW Neta Sanusi Pane menilai ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati dari mutasi kali ini.

”Perwira muda banyak yang jadi Kapolda, ini jelas antisipasi pemilu 2014,” ujar aktivis asal Medan itu. Kedua, dimunculkannya para perwira dari lembaga pendidikan Polri untuk menjabat Kapolda. Di sini, Kapolri sepertinya ingin balas jasa kepada mereka yang sudah sekian lama mengabdi di lembaga pendidikan sehingga diberi kesempatan untuk memegang jabatan strategis. Strategi ini juga untuk menepis asumsi bahwa lembaga pendidikan adalah ”tempat pembuangan”.

Ketiga, khusus untuk Jawa Barat, pergantiannya tergolong aneh karena Kapolda sebelumnya (Irjen Tubagus Anis) baru menjabat belum satu tahun, sejak 30 Oktober 2012. Bandingkan dengan Kapolda Sumatera Utara dan Jawa Timur yang sudah dua tahun lebih menjabat. (byu/rdl/jpnn)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA