Date Senin, 28 July 2014 | 13:14 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Peristiwa

Mengamuk di Balaikota, Kaca Pecah-Pecah

Dipukul Komandan, Satpol PP Melawan

Jumat, 07-06-2013 | 13:27 WIB | 655 klik

Payakumbuh, Padek— Belum tuntas kasus Wakapolres Bukittinggi menembak Bintara yang mengamuk karena tiga bulan tidak menerima gaji, bentrok sesama aparat pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, kembali terjadi di Sumbar.

Tiga hari lalu, persisnya Selasa (4/6) pagi, sejumlah personel Satpol PP Payakumbuh, mengamuk dan merusak aset pemerintah daerah. Praja wibawa itu mengamuk setelah dipukuli oleh komandan mereka, gara-gara tidak memasang atribut lengkap, sewaktu apel pagi.

Asisten I Setko Payakumbuh, Yoherman menyebut, insiden tersebut sebagai salah paham. “Memang ada salah paham, tapi sudah diselesaikan secara internal,” kata Yoherman ketika dikonfirmasi Padang Ekspres, Kamis (6/6) siang.

Informasi yang dihimpun Padang Ekspres di Balai Kota Payakumbuh, kawasan Bukiksibaluik, menyebutkan, insiden tersebut terjadi Selasa (4/6) lalu, saat apel pagi kedua.

Setiap pagi di hari kerja. Khusus personel Satpol PP, menjalani apel pagi sebanyak dua kali.

Dalam apel pertama, mereka bergabung dengan pegawai yang bertugas di satuan kerja lain. Sedangkan dalam apel kedua, personel Satpol PP hanya berkumpul sesama mereka, untuk membahas program harian, termasuk rencana penegakan Perda.

Setelah mengikuti apel pertama, Kasatpol PP Fauzi Firdaus yang baru pulang dinas luar daerah, langsung memimpin apel kedua. Mengawali apel, Fauzi menanyai Kasi Penyidik Bismar, tentang rencana kerja harian.

Bismar yang baru saja dipolisikan oleh seorang gadis asal Nagari Piobang atas kasus dugaan pornoaksi usia razia maksiat di Jalan Lingkar Utara, menjawab, tidak ada rencana kerja di hari tersebut.

Karena Bismar menyebut tidak ada, Fauzi diduga kesal. Kemudian, mengajukan pertanyaan serupa kepada Kasi Operasional Bafitri Andi. Oleh Bafitri, dijelaskanlah program harian.

Usai menyampaikan, Bafitri balik bertanya kepada Fauzi, apakah ada arahan atau informasi tambahan. Fauzi maju ke depan, sambil mempersilahkan Bafitri untuk mundur ke belakang.

Saat itulah, Fauzi yang berdisiplin tinggi, memeriksa kelengkapan atribut seluruh anggotanya. Sebanyak 5 personel Satpol PP, kedapatan tidak memakai kokarde. Yakni, Arianto, Fadli Kurniawan, Akhyanto, Con dan Joni.

Mereka dinilai tidak disiplin. Sehingga dihadiahi Fauzi dengan pukulan di bagian perut. Mendapat pukulan dari komandan, Arianto, Fadli, Akhyanto dan Con, hanya bisa diam. Tapi tidak dengan Joni.

Pegawai jago bela diri yang pernah terlibat salah-paham dengan mantan Wakil Wali Kota Syamsul Bahri pada 17 Desember 2009 itu, bertanya kepada Fauzi, kenapa dia dan teman-temannya dipukuli.

Ambo tanyoan, ba’a dek main-main tinju pak? Dijawek dek apak tuh, indak sanang ang? (Saya tanyakan, kenapa main pukul pak? Bapak itu menjawab, kamu tidak senang),” ucap Joni ketika dihubungi Padang Ekspres, Kamis sore.

Joni sendiri memang mengaku tidak terima dipukuli. Sebab, kesalahannya bersama teman-temannya, hanya karena tidak memakai kokarde. Sementara dalam aturan, kokarde tidak termasuk atribut Satpol PP.

“Kalau diberi sanksi fisik, saya terima. Tapi, kalau dipukuli, saya tidak bisa menerima,” ujar Joni.

Ringkas cerita, setelah pertanyaannya dijawab Kasatpol PP, Joni naik pitam. Ia sempat membuka baju dan menantang Kasatpol PP berduel. Tapi sejumlah temannya, terutama personel PSD (Provost Satpol PP), dengan cepat melerai.

Joni disuruh masuk ke Balai Kota dan duduk di meja piket yang berada di pintu masuk. Sedangkan Fauzi tetap melanjutkan apel kedua. Tidak lama, apel kedua itu pun dibubarkan. Setelah apel bubar, salah paham kembali terjadi.

“Usai apel, Kasatpol PP menunjuk saya yang berada di meja piket. Beliau bilang, saya tunggu kamu di lantai tiga. Karena emosi, saya langsung mengikuti beliau. Dan bertemu di depan ruang Adum, tapi dilerai teman-teman,” kata Joni.

Sementara beberapa anggota Satpol PP melerai Joni, anggota Satpol PP lain yang tadinya mendapat pukulan, mendukung aksi Joni, dengan ikut menyerang Fauzi. Mujur, Fauzi tidak terkena luapan emosi anak buahnya, karena Asisten I Yoherman cepat meredakan situasi.

“Pak Asisten I yang mendengar ada ribut-ribut keluar dari ruang kerjanya dan meminta kami bubar. Setelah itu, kami diminta turun ke bawah. Karena masih emosi, saya memang sempat menendang dan memukul apa yang dapat. Sehingga ada kaca yang pecah,” kata Joni apa adanya.

Usai insiden itu, Joni mengaku dipanggil Asisten I Yoherman dan disuruh meminta maaf. “Saya juga disuruh mengganti kaca yang pecah dengan uang saya sendiri. Hanya saja, kalau bisa bermohon, jangan hanya saya yang disalahkan. Evaluasi juga penyebab masalah ini,” kata Joni.

Di sisi lain, Fauzi Firdaus yang dikonfirmasi Padang Ekspres Kamis (6/6) siang, menegaskan, tindakannya semata-mata bersifat pembinaan. “Tapi, ada anggota yang salah paham. Sekarang, mereka sudah minta maaf. Persoalan ini sudah diselesaikan secara internal oleh Asisten I,” kata Fauzi Firdaus.

Asisten I Setdako Yoherman yang sedang berada di Bogor, meminta personel Satpol PP untuk menahan diri dan menghormati komandan. “Yang muda, mesti minta maaf. Yang tua, harus evaluasi,” ujar Yoherman. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA