Date Kamis, 24 July 2014 | 09:33 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Pemkab Butuh Bantuan Provinsi dan Pusat

Pantai Sasak Harus Dipulihkan

Sabtu, 25-05-2013 | 13:07 WIB | 282 klik

Pasbar, Padek—Pantai Sasak hanya tinggal kenangan, kalau tidak dipulihkan dengan cara menata dan memperbaiki ancaman abrasi pantai. Karena kini semilirnya angin menghembus pohon cemara tidak maksimal lagi di pantai kebanggan warga Pasaman Barat ini. Pantai itu sudah habis terkikis ombak besar dan para nelayanpun menjadi merosot perekonomiannya.

Akibat terjangan ombak besar dari samudera itu, warga yang umumnya berprofesi sebagai nelayan di nagari Sasak ini menjadi korban abrasi pantai. Puluhan rumah penduduk di hondoh ombak, kuburan yang sudah puluhan tahunpun terbongkar dan porak-poranda. Pohon kelapa dan cemara tumbang. Peninggalan bangker atau lobang Jepangpun yang mengarah ke lautan samudera itu sudah terancam rusak dan sudah menganga di pantai sasak itu.

Kini, tinggal kenangan pahit bagi rakyat. Karena rakyat nelayan menjerit, harta benda hilang ditelan ombak, tanah kelahiran habis di rampas laut. Setelah bencana abrasi pantai berlangsung pemerintah daerah sudah pontang panting untuk mencari solusinya, bahkan anggaranpun disiapkan pemkab. Tapi apa daya Pemkab, itu saja belum cukup untuk mengatasi penderitaan berat warga tersebut.

“Ya, kita sudah maksimal berupaya membantu. Namun, musibah Sasak ini kita angkat bendera putih. Memohon setulus hati pihak pemeintah provinsi dan pusat turun tangan ke lokasi untuk membantu mereka yang sudah menderita tersebut,” kata Bupati Pasbar H Baharuddin R.

Menurutnya, jika pantai Sasak yang memiliki keindahan fantastis ini tidak dipertahankan keunikannya, maka kebanggaan pantai Pasbar, bahkan provinsi ini akan tinggal kenangan. Dan hanya bahan cerita sejarah untuk anak cucu dimasa mendatang. Sebenarnya sebagai bukti fakta kejadian itu, sudah diberitakan oleh media harian di Sumbar termasuk Padang Ekspres.

“Tolong kami pak, tiap hari kami cemas dan takut. Lihatlah gulungan ombak yang datang itu, seolah-olah akan mengahabisi kami saja di sini yang rumah kami tinggal beberapa jengkal lagi dari bibir laut,” kata Adi,37, salah seorang warga Sasak yang rumahnya sudah di pinggir laut kepada bupati dan rombongan.

Rasa perih yang tidak tertahankan bagi warga Sasak, sejak kejadian abrasi melanda daerah mereka sudah tercatat 300 pandam pekuburan yang telah dibongkar kembali. Selain pandam pekuburan yang terbongkar, ratusan rumah penduduk setempat juga sudah dibongkar dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Tentu saja semua itu membuat para warga tertekan dan merasa sedih.

“Semula kita sudah sangat harap, kalau wajah pantai sasak bisa sudah di poles menjadi objek wisata, yang akan mendatangkan keuntungan bagi masyarakat. Namun sayang di tengah semangat pemerintah daerah memoles nagari itu, ternyata abrasi pantai kembali lagi datang seminggu yang lalu. Akibatnya puluhan pandam pekuburan hancur dan porak poranda. Begitu juga halnya dengan puluhan rumah penduduk, sebut warga itu.

Camat Sasak Ranah Pasisie, Yaswarman, Walinagari Sasak, Arman, dan Jorong Pasalamo, Zuardi, juga menyampaikan hal yang sama. Mereka mengakui bagaimana beratnya penderitaan warga setempat, ketika bencana abrasi pantai datang melanda.

“Setiap kali bencana datang, kita bersama-sama dengan masyarakat menyaksikan derasnya ombak pantai menghantam pemukiman dan pandam pekuburan di Jorong Pasalamo ini. Jeritan hati warga setiap kejadian tidak dapat dibayangkan lagi. Dan semua itu sudah kita sampaikan kepada Pemda Pasbar. Namun karena keterbatasan kita hanya bisa memberikan bantuan untuk tanggap darurat,” sebutnya.

Buktinya , ketika abrasi pantai terjadi beberapa minggu lalu, Pemkab Pasbar melalui instansi terkait telah menyalurkan bantuan beras sekitar 2 ton lebih, mi instan,bantuan perbaikan rumah penduduk yang bakal dipindahkan dari kawasan bibir pantai sekitar 9 unit rumah.

Sementara untuk menghadapi kondisi rumah warga dan pasilitas umum yang tertimbun pasir, warga setempat beserta sejumlah instansi pemerintah melakukan goro di lokasi bencana.

“Supaya kejadian ini tidak terjadi lagi, harus dibuat penahan ombak. Kalau tidak, diyakini Nagari Sasak, akan dibelah ombak menjadi dua bagian,” ujarnya.(*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA