Date Selasa, 29 July 2014 | 01:27 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Beredar Kabar Lutfhi Nikahi ABG

Rabu, 22-05-2013 | 10:39 WIB | 948 klik
Beredar Kabar Lutfhi Nikahi ABG

Darin Mumtazah dan Lut­hfi Hasan Ishaaq

Jakarta, Padek—Tersangka kasus suap pengaturan impor daging tampaknya pantas menyandang predikat Don Juan. Bagaimana tidak, ternyata bukan hanya Ahmad Fathanah yang dekat dan memiliki hubungan khusus dengan banyak perempuan. Hal hampir serupa ternyata juga dilakukan Luthfi Hasan Ishaaq (LHI).

LHI ternyata selama ini memiliki hubungan khusus dengan Darin Mumtazah. Anak baru gede (ABG) diketahui masih duduk di bangku kelas tiga sebuah SMA di Jakarta. Darin selama ini tinggal bersama kedua orangtuanya di Jalan Bhineka Raya 3 RT 10/RW 9 Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jawa Timur. Para tetangga Darin mengaku beberapa kali melihat LHI datang dan menginap di rumah tersebut.

“Bahkan satpam di kampung sini pernah mendengar LHI memanggil mama pada Darin,” ujar Emi, salah seorang tetangga yang membuka warung persis di samping rumah keluarga Darin. Pernyataan Emi itu juga diamini satpam kampung, Suyitno.

“Saya waktu itu sempat diminta memijat. Bapak itu (LHI) memanggil anak Pak Ziat (Darin) dengan kata mama,” papar Suyitno. Emi dan Suyitno mengaku baru mengetahui jika pria kerap datang ke rumah Darin itu LHI setelah kasus suap terungkap di media.

“Saya tahunya kalau itu pejabat partai ya setelah melihat berita-berita di televisi,” ucap Emi. Selama ini keluarga Darin memang tidak terlalu guyub dengan tetangga. “Mereka cenderung tertutup. Hanya sesekali saja Bu Umi (Ibunda Darin) keluar rumah dan menyapa warga,” lanjutnya. Saat keluar rumah itulah biasanya warga sedikit berbincang dengan Umi.

Cerita lainnya datang dari Ibu Hasan, tetangga depan Darin. Umi pada Bu Hasan menjawab pria yang sering datang itu merupakan orang dari kedutaan. “Tapi waktu itu saya sudah sangka kalau yang sering datang Pak Luthfi. Tapi berhubung yang ditanya menjawab begitu (orang kedutaan) ya sudah saya biarkan saja,” terangnya.

Ketua RT 10/RW 9, Lisan mengatakan, rumah dihuni keluarga Darin sebenarnya kontrakan. Rumah di pojokan yang cukup luas dan berlantai tiga itu, disewa dari seorang bernama Saut Situmorang. Rumah tersebut disewa setahun dengan harga sekitar Rp 75 juta. “Pak Saut dulunya orang sini, tapi sekarang pindah entah ke mana. Sejak delapan bulan lalu rumahnya disewakan ke Pak Ziat,” jelas pria yang biasa disapa Pak Dede itu.

Sebagai Ketua RT, Lisan mengaku belum mengantongi dokumen identitas penghuni rumah itu. “Sejak pertama kali mengontrak sudah saya mintai dokumen-dokumen identitas tapi jawabnya ntar-ntar terus,” paparnya. Sepengetahuan Lisan, rumah itu memang hanya dihuni tiga orang, yakni Ziat, Umi dan Darin. “Setahu saja anaknya cuma satu itu saja. Dan mereka ini secara postur dan wajah sepertinya keturunan Timur Tengah,” lanjut pria gundul itu.

Ditanya mengenai kabar apakah benar Darin telah dinikah siri dengan LHI yang kerap datang dan menginap di rumah tersebut, Lisan mengaku, belum bisa memastikan. “Kalau tetangga memang banyak dan sering melihat orang mirip LHI datang dan menginap, tapi kalau urusan keduanya sudah menikah saya belum bisa memastikan,” terangnya.

Jika mengacu pada rekaman pembicaraan antara Ahmad Fathanah dan LHI, bisa jadi memang kader PKS itu telah menikahi Darin. Sebab dalam pembicaraan itu, Fathanah menyebutkan LHI sudah ditunggu istri-istrinya. LHI kemudian bertanya, istri yang mana, Pustun atau Jawa Sarkiyah–Fathanah lantas menjawab Pustun.

Dalam referensi di Wikipedia, pustun berasal dari kata Pashtun. Kata itu bisa diartikan sebagai sebutan etnis Pakistan, Afghanistan, Iran atau daerah di Timur Tengah lainnya. Kata pustun biasanya juga digunakan untuk menyebut perempuan cantik dari kawasan tersebut. Darin sendiri saat ini tengah dalam pembicaraan karena beberapa kali mangkir dari panggilan KPK.

Istri Fathanah Main Film

Jika Darin tengah dalam pencarian banyak orang, berbeda lagi dengan istri Ahmad Fathanah, Sefti Sanustika. Perempuan 25 tahun itu kemarin melakoni syuting perdana FTV-nya di rumah mewah Jalan Sepat 77 Kebagusan. FTV bertema hidayah diberi judul Tobatnya sang Koruptor.

Di dalam film tersebut, Sefti memerankan lakon bernama Selvi. Cerita dalam film itu memang tak jauh dari kehidupannya selama ini. Film yang digarap MD Entertainment itu menceritakan kehidupan seorang biduan dangdut yang bernyanyi dari kampung ke kampung, dan kemudian bertemu seorang pengusaha bernama Fadilah.

Karakter Fadilah yang diperankan Dicky Wahyudi itu diceritakan mirip Fathanah. Fadilah melakukan sejumlah korupsi dan memiliki hubungan dengan banyak perempuan. “Ini bukan kisah nyata kok, cuma mirip-mirip,” ujar Sefti saat berada di ruang rias. Menurut Sefti, dia sudah izin Fathanah untuk menjalani kontrak FTV dan sinetron.

Saat ditanya apakah Fathanah tahu dengan cerita film itu, Sefti menjawab, “Bapak tidak tahu, tapi yang pasti beliau mendukung,” ujarnya. Biduan dangdut itu mengaku canggung menjalani syuting perdananya kemarin. “Ini kan pengalaman pertama saya. Maka dari itu saya nanti akan banyak belajar dari yang lebih senior,” ujar Sefti melirik pada Dicky.

Sita Rumah LHI

Di sisi lain, perburuan terhadap aset-aset Luthfi Hasan Ishaaq terus digeber. Kemarin, tim asset tracing KPK mengidentifikasi sebuah rumah di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, sebagai milik Luthfi. Upaya penyitaan pun dilakukan.

Rumah tersebut beralamat di Jalan Kebagusan Dalam I Nomor 44. Berdiri di atas lahan seluas 440 meter persegi, rumah bergaya townhouse itu kini menjadi target baru penyidik. Sebelumnya, penyidik KPK telah menyita enam mobil yang diduga terkait dengan Luthfi dari kantor DPP PKS di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.

“Rencananya hari ini (kemarin, red) mau disita,” terang Juru Bicara KPK Johan Budi. Penyitaan itu terkait sangkaan tindak pidana pencucian uang yang disematkan pada Luthfi.

Penyidik KPK tengah diburu waktu dalam hal penyitaan asset. Sebab, berkas Luthfi akan segera naik ke penuntutan. “Dalam pekan ini, tersangka LHI dan AF akan naik ke tahap penuntutan,” lanjut Johan. Keduanya bakal mengikuti jejak dua direktur PT Indoguna Utama, Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi yang lebih dahulu menjadi terdakwa.

Johan menegaskan, kasus dugaan suap kuota impor daging sapi masih akan dikembangkan. Bukan tidak mungkin aka nada tersangka baru. “Kuncinya, jika penyidik sudah menemukan dua alat bukti yang cukup,” ucapnya.

Kemarin, KPK kembali memeriksa Luthfi dan Fathanah sebagai tersangka. KPK juga menghadirkan dua saksi. Salah satunya adalah Komisaris PT Radina Niaga Mulia yang kini menjadi tersangka di Kejaksaan Agung, Elda Devianne Adiningrat. Elda menjadi tersangka kasus kredit fiktif Bank Jabar Banten (BJB) Cabang Surabaya yang menyeret nama Direktur PT Cipta Inti Permindo, Yudi Setiawan, sebagai tersangka utama.

Nama Yudi cukup sering dikait-kaitkan dengan PKS. Terlebih, sempat muncul isu jika dia berhasil membobol BJB atas bantuan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang notabene kader PKS. Yudi pun dikabarkan dekat dengan sejumlah petinggi partai berslogan “Bersih dan Peduli” itu.

Sementara itu, kode pustun yang disebut Luthfi dalam rekaman pembicaraan dengan Fathanah memunculkan nama baru di lingkaran perempuan dalam kasus tersebut. Dia adalah Darin Muntaza, siswi SMA yang tinggal di kawasan Cipinang, Jakarta Selatan. ABG tersebut sempat disebut-sebut sebagai istri siri Luthfi. (byu/gun/jpnn)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA