Date Senin, 28 July 2014 | 11:13 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Peristiwa

Yul Hayati, Siswa SMK Genus Korban Ombak Pantai Gondoriah

Minta Tolong dalam Mimpi, Pergi untuk Selamanya

Sabtu, 11-05-2013 | 12:01 WIB | 707 klik
Minta Tolong dalam Mimpi, Pergi untuk Selamanya

Rumah duka Yul Hayati di Cingkariang Ateh

”Bang, tolong Yul naikkan ke atas Bang. Terimakasih ya, Bang”. Begitulah ungkapan Yul Hayati, 17, salah satu pelajar SMK Terpadu Gema Nusantara (SMK Genus) Bukittinggi yang tewas di Pantai Gondoriah, Pariaman, kepada teman kakaknya, Heru, 28, dalam mimpi beberapa hari sebelum kepergian korban untuk selamanya, Kamis (9/5).

Gadis yang pendiam, namun cukup berprestasi di sekolahnya itu, dikebumikan di kampung halamannya Cingkariang Ateh, Jorong Cingkariang, Kenagarian Cingkariang, Kabupaten Banuhampu, Kabupaten Agam, usai Jumat kemarin, setelah dishalatkan puluhan masyarakat di masjid yang tidak jauh dari rumahnya.

Saat pemakaman, bukan saja warga setempat yang terlibat, tapi juga pihak sekolah dan teman-teman korban di sekolah, sehingga ketika jenazah hendak dimasukkan ke liang lahat suasana haru yang diiringi isak tangis tidak bisa terbendung. Agar suasana tidak semakin larut, ibu korban, Yas, 48, yang saat itu ikut menyaksikan pemakaman anaknya, langsung dibimbing hingga ke rumah.

Di rumah, ternyata sejak jenazah korban tiba pukul 23.45 WIB, Kamis (9/5) masyarakat pun silih berganti berdatangan melakukan takziah ucapan belasungkawa hingga pukul 18.00 WIB, Jumat (10/5), termasuk Wali Kota Bukittinggi, Ismet Amzis yang mengirimkan karangan bunga. Pada umumnya warga, guru dan teman korban yang datang, mengaku tidak menyangka kepergian korban secepat itu.

Innalillah Wainna Ilahi Rojiun. Kita juga akan ke sana. Kapan dan dimana tempatnya, Allah-lah yang mengetahui.” Begitu kalimat jawaban yang didengar koran ini, ketika muncul pertanyaan kenapa korban yang begitu masih muda dan sehat walafiat, pergi untuk selama-lamanya.

Mengingat rumah korban cukup sederhana dan kecil, masyarakat yang melakukan takziah pun harus antre. Yang lelaki dilayani orangtua lelaki korban, Anis, 50 dan perempuan dilayani orangtua perempuan korban, Yas. Agar kedua pasangan yang mempunyai enam anak tersebut tidak larut dalam kesedihan, pada umumnya masyarakat yang melakukan takziah, memberikan siraman rohani kepada keduanya agar bersabar menerima musibah yang terjadi.

Anis mengatakan, baru pertama kali, Yul Hayati, diberikan izin untuk jalan-jalan bersama sekolah. Mulai SD hingga SMP dan SMK, Yun —panggilan akrab Yul Hayati— tidak pernah diizinkan jalan-jalan bersama sekolah. Tapi kali ini Yun bermohon agar diberikan izin karena sudah selesai ujian nasional (UN), sehingga kami memberikan izin. Namun kenyataannya, dia pergi untuk selamanya,” ujarnya.

Ketika Yun pergi jalan-jalan, tambah Anis, dia pun mengantarkan dari rumah hingga ke pinggir jalan raya dan naik kendaraan angkutan pedesaan (angdes) hingga sampai ke sekolah. “Sorenya sekitar pukul 17.00 WIB, saya menerima kabar dari gurunya, Yun pergi untuk selama-lamanya, sehingga saya dan keluarga sangat terenyuh,” jelasnya.

Teman dekat kakak korban Epi, Heru, mengatakan, beberapa hari sebelum kepergian korban untuk selama-lamanya, dia bermimpi korban minta tolong ketika menaiki tangga sebuah bangunan. Setelah saya tolong, korban langsung mengucapkan terimakasih.

“Bang, tolong Yun naikkan ke atas Bang. Terimakasih ya, Bang. Begitulah ucapan Yun kepada saya dalam mimpi. Ternyata mimpi tersebut memberikan makna bahwa Yun akan pergi selama-lamanya,” ujar Heru yang mengaku begitu akrab dengan keluarga korban.

Eni, tetangga korban, menyebutkan, korban sehari-hari dikenal pendiam, penurut dan berprestasi di sekolah. Namun ketika korban hendak pergi jalan-jalan bersama sekolah, orangtua korban tidak sanggup melarang, karena diharuskan membayar uang jalan-jalan ikut atau tidak ikut.

“Dengan pertimbangan korban tidak pernah pergi jalan-jalan bersama sekolah sejak SD hingga SMK, dan diharuskan pula membayarkan uang jalan-jalan, ikut atau tidak ikut, maka akhirnya orangtua korban terpaksa memberikan izin. Tapi yang terjadi malah korban pergi untuk selama-lamanya,” ujarnya sedih.

Sementara korban Afdhal, juga dimakamkan kemarin, di rumah duka di Pandai Sikek Koto Baru, kecamatan X Koto, kabupaten Tanah Datar. Sama dengan pemakaman Yul Hayati, pemakaman Afdhal juga diiringi isak tangis keluarga, guru, teman sekolah korban, kemarin (10/5). (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA