Date Jumat, 25 July 2014 | 15:56 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Puas Melihat Anjing Kesayangan Buas

Komunitas Berburu Babi Hutan di Solok

Kamis, 19-05-2011 | 13:11 WIB | 1721 klik
Komunitas Berburu Babi Hutan di Solok

JADI GAYA HIDUP: Wali Kota Solok Irzal Ilyas (pakai topi moris) bersama komunit


Tradisi buru babi di Solok bukan hanya sebagai tradisi, tapi sudah menjadi gaya hidup masyarakat. Karena sudah menjadi hobi, berburu babi hutan alias kandiak menyimpan berbagai cerita menarik bagi kaum pemburu.


Awalnya, tradisi baburu kandiak ini bertujuan mengusir babi hutan yang merusak ladang dan sawah petani di Ranah Minang. Tradisi ini menurut beberapa sumber, diperkirakan telah ada sejak seribu tahun lalu. Kebanyakan, para peburu kandiak berasal dari masyarakat di sepanjang gugusan Bukit Barisan.


Masyarakat Solok (Kota Solok, Kabupaten Solok dan Solok Selatan) merupakan daerah yang paling banyak memiliki peburu kandiak.
Di Solok, berburu babi hutan tidak sama dengan di daerah lain. Berburu di wilayah itu tidak dilakukan oleh manusia, melainkan oleh anjing yang dilatih oleh pemiliknya. Tidak sulit menemukan para pemilik anjing pemburu di daerah itu. Tradisi ini juga menjadi bagian dari kehidupan agraris di Ranah Minang. Sebagian orang Minang mewariskan tradisi tersebut karena mereka menggantungkan kehidupan dari hasil pertanian. Biasanya, saat memasuki masa panen, sawah para petani kerap diganggu babi-babi hutan. Gangguan ini jelas sangat merugikan.


Meski awalnya hanya untuk menjaga hasil panen, belakangan baburu kandiak menjadi hobi dan gaya hidup masyarakat. Tak mengherankan, kegiatan berburu babi berlangsung setiap minggu. Para pemilik anjing, biasanya sudah mengetahui lokasi yang akan dituju. Informasi itu berasal komunikasi dengan para peburu di kawasan lain.


Kegiatan ini diminati hampir seluruh kaum adam Solok. Mereka rela meluangkan waktunya bertandang ke daerah lain untuk berburu setiap akhir pekan.
Akhir April lalu, Padang Ekspres ikut berburu babi di Dilam, Kecamatan Bukit Sundi Kabupaten Solok. Buru babi kali ini cukup special. Acara dibuka seorang pemuka adat dengan sirih dan pinang. Ketika itu, para pehobi dan pemilik anjing secara sukarela mengumpulkan uang untuk konsumsi setelah acara baburu kandiak selesai.


Sisa dari dana yang terkumpul tersebut, akan diberikan kepada petani yang sawahnya rusak karena dilewati anjing peburu. Uang itu juga akan digunakan untuk mengobati anjing kalau ada yang terluka saat berburu.


Kemudian, para peburu berada di pinggiran hutan. Mereka segera menelusuri tempat yang diduga banyak babi hutan yang jaraknya bisa mencapai beberapa kilometer. Setiba di lokasi, mereka menyempatkan diri memberi makan ataupun suplemen kepada anjingnya. Para peburu lalu mengatur posisi dan lokasi berburu sesuai hasil pelacakan beberapa hari sebelumnya.


Lalu, mereka menyebar sesuai kelompok masing-masing. Satu kelompok biasanya terdiri dari 10 hingga 15 orang. Agar perburuan berjalan lancar dan tak salah arah, seorang ditunjuk menjadi penuntun yang mengetahui seluk beluk kawasan tersebut.


Sesaat kemudian, suara pekikan sahut-menyahut terdengar. Itu isyarat babi hutan ada terdeteksi. Bila babi hutan yang menjadi buruan semakin dekat, teriakan para pemilik anjing pun semakin lantang.
Tak lama berselang, seekor babi hutan telah terlihat. Para peburu langsung melepas anjing-anjingnya. Babi hutan yang lari ketar-ketir dikejar anjing peburu akhirnya kehabisan napas dan terkepung. Anjing-anjing tersebut menyerang dengan ganas hingga babi tidak berdaya. Para pemilik anjing cukup menyaksikan dari jauh anjing kesayangannya berpesta pora melumat daging babi. “Disinilah kepuasan bagi seirang peburu,” imbuh Andri, salah seorang peburu.


Setelah mendapatkan satu buruan, anjing-anjing itu akan mencari babi hutan kembali. Terkadang, babi liar yang hendak ditangkap cukup banyak. Maka, para pemilik anjing akan menggantung babi yang sudah tak berdaya di atas pohon. Mereka lalu melanjutkan perburuan.


Tak semua anjing mempunyai keahlian yang sama. Bagi anjing yang baru pertama kali berburu, pemiliknya akan memberikan tetesan darah babi ke hidungnya. Ini dilakukan agar si anjing memiliki insting kuat terhadap buruannya. Dalam satu kali perburuan, anjing-anjing ini biasanya mampu menangkap dua sampai lima ekor babi. Babi-babi itu biasanya dibiarkan untuk makanan anjing-anjing mereka. Meski terkadang dibawa ke beberapa pulau tertentu untuk dijual.


Salah seorang peburu dari Nagari Saoklaweh Kecamatan Kubung Kabupaten Solok, Darwin menyatakan, anjing-anjing tersebut telah menjalani serangkaian pelatihan dan persiapan.(***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA