Date Rabu, 23 July 2014 | 00:39 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Indahnya Kebersamaan di YARI School

Berbeda Ras, Suku, Agama, Bangsa, tapi Tetap Satu

Minggu, 07-04-2013 | 06:26 WIB | 691 klik
Berbeda Ras, Suku, Agama, Bangsa, tapi Tetap Satu

Yusticia Katar (kanan) bersama sejumlah murid asing YARI bersama orangtuanya.

Pendidikan multikultural harus dimulai sejak usia dini. Sekolah dalam hal ini, harus bisa memberikan satu pemahaman kepada siswa, bahwa ada banyak (multi) ras, suku, agama, bangsa, untuk bisa saling hidup berdampingan satu sama lain. Berangkat dari hal inilah, Yayasan Anak Republik Indonesia (YARI) School didirikan, sebagai salah satu sekolah internasional (TK-SD-SMP) di Kota Padang.

Di sini, siswa belajar dan diajarkan toleransi. Ada belasan siswa asing bersekolah di sini. Di antaranya dari AS, Selandia Baru, Inggris, India dan Korsel. Selain itu, ada juga siswa dari Aceh, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa. Di dalam lokal, siswa diajarkan dua bahasa (bilingual), yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Karena menganut bilingual, guru yang mengajar di YARI, syaratnya harus pintar berbahasa Inggris.

Warga negara AS, Susan, orangtua Abigail (kelas IV) dan Samantha (kelas I) mengaku senang menyekolahkan kedua anaknya di YARI. ”Ini salah satu sekolah internasional terbaik di Indonesia. Kota Padang harus bangga punya YARI School. Sewaktu saya baru tinggal di Padang, saya sempat khawatir, dimana anak saya akan bersekolah. Saya sudah capek keliling-keliling Padang, buat cari sekolah anak saya yang cocok. Beruntung, akhirnya saya menemukan sekolah YARI ini. Dan saya buktikan sendiri, di sini memang bagus,” ujar Susan sudah fasih berbahasa Indonesia.

Susan menjelaskan, hampir 10 tahun ia tinggal di Padang. Ia ke Padang, ikut suami yang kerja di perusahaan ekspor impor. ”Wilayah kerja suami saya di Sumatera. Tapi lebih banyak fokus di Sumbar. Saya suka tinggal di sini, tak macet seperti Jakarta. Saya juga tak tahu sampai kapan saya tinggal di sini. Yang pasti, saya senang di sini,” ujar perempuan cantik kelahiran Texas ini.

Hal senada dikatakan Abigail. Ia mengaku, tak terkendala sekolah di YARI. ”Saya menikmatinya. Di sini, banyak acara. Teman-teman di sini, juga bersahabat. Saya senang berteman dengan mereka,” tuturnya didampingi adiknya, Samantha.

Dari Korsel, ada dua murid YARI. Yakni Chin Young Gee (panggilan Joshua) dan adiknya, Chin Hea Gee (panggilan Esther). Kepada Padang Ekspres, Joshua bercerita sebelum ke Padang, ia sudah bersekolah di Bandung selama satu tahun. Di Padang sendiri, ia baru tinggal selama dua tahun. Kedua orangtunya: Chin Byung Hak dan Hwang Eun Ju kini sedang mengelola sebuah biro perjalanan wisata di Kota Padang.

”Papa yang cari sekolah ini. Dan saya sangat senang di sini. Apalagi, ada acara Gong Xi Fat Chai kemarin di sekolah. Seru, teman-teman pakai baju merah,” kata Joshua, murid kelas V SD ini. Kepada Padang Ekspres, Joshua mengaku ingin lebih lama tinggal di Padang. Namun tak demikian halnya bagi adiknya. Esther ingin sekolah lebih lama sekolah di daerah asalnya, Korsel. ”Namun, saat ini so far so good. Saya sangat enjoy di sini,” ulas Esther dengan eksen English-Indonesia ini.

Dari India, ada murid TK YARI bernama Aditya. Saat diwawancara Padang Ekspres, Aditya malu-malu. Ibunya, Rejni Sharma menjelaskan, mereka sudah tiga tahun tinggal di Padang. Rejni juga mengikuti suaminya, yang bekerja di usaha ekspor impor. Saat ini, ia tinggal di kawasan Andalas, Perumahan Pola Mas. ”Saya tahu sekolah ini, dari teman. Aditya merasa senang di sini. Di sini, tak mengenal diskriminasi. Ini yang saya suka, semua diperlakukan sama,” kata Rejni Sharma dalam bahasa Inggris.

Tak hanya anaknya, Rejni juga mengaku senang disambut hangat oleh guru dan wali murid lainnya. ”Saya juga sering cerita-cerita sama ibu-ibu lainnya, sembari menunggu Aditya pulang. Pokoknya, semua bersahabat di sini. Kita serasa sudah seperti keluarga. Setiap YARI ada acara, kita semua selalu berkumpul, dampingi anak-anak,” kata ibu muda kelahiran Boombay ini.

Murid asing YARI lainnya yang sangat disenangi teman-teman dan guru, yakni Jude (TK) dan Jemima (kelas khusus bayi), dari Inggris. Kepada Padang Ekspres, orangtua Jude dan Jemima, Zoe bercerita, bahwa ia tahu YARI dari temannya, Susan yang telah lebih dulu menyekolahkan kedua anaknya di YARI. ”Saya sudah tahun empat tahun tinggal di Padang. Di sini, saya ikut suami. Ia kini sedang meneliti untuk menyelesaikan S3-nya di Institut Pertanian Bogor (IPB).

”Saya senang di sini, karena toleransinya. Tak membeda-bedakan warna kulit, agama, ras dan bangsa. Memang sekolah seperti ini, yang saya cari. Saya menemukan kedamaian di sini. Cinta kasih, saling kerjasama, kesederhanaan dan empati. Kita juga ikut berbagi saat acara Ramadhan, mengumpulkan zakat, membantu sesama,” ujar Zoe.

Dari Selandia Baru (New Zealand), YARI punya tiga murid. Yakni Jonathan (kelas II), Justin (kelas I) dan Helen (TK). Kepada Padang Ekspres, Evi Matthew menjelaskan, ia tahu sekolah YARI dari teman suaminya, Michael James. Michael sendiri bekerja sebagai kapten kapal surfing Mentawai. ”Anak-anak saya senang sekolah di sini. Saling menghargai, para gurunya komit menanamkan sejak dini sikap simpatik, respek, apresiasi, dan empati, meski kita berbeda suku, ras, agama dan budaya yang berbeda,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Ketua YARI School, Yusticia Katar mengatakan sekolahnya juga menerima anak-anak berkebutuhan khusus. ”Di sini, juga banyak anak-anak bisu, tuna rungu, autis dan anak inklusi lainnya. Apapun keadannya, mereka berhak mendapat perlakuan yang sama. Semua manusia ini, ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia ini berbeda-beda, dengan tujuan untuk menguji takwa. Jika kita merujuk Al Quran, sebenarnya sekolah seperti ini, disebut sekolah Qurani,” pungkasnya. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA