Date Selasa, 29 July 2014 | 23:46 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Serang 2-3 Persen dari Populasi

Mengenali Gejala Penyakit Hydrocephalus

Rabu, 18-05-2011 | 12:18 WIB | 1026 klik
Mengenali Gejala Penyakit Hydrocephalus

HYDROCEPHALUS: Seorang ibu sedang menunggui anaknya yang menderita hydrocephalus

Kasus hydrocephalus, yaitu akumulasi cairan yang berlebihan dalam otak sudah semakin tidak asing lagi. Di RSUP M Djamil Padang, kemarin saja (17/5), ada lima pasien yang dirawat di bangsal bedah anak mengidap hydrocephalus sejak dilahirkan.


BANGSAL bedah anak RSUP M Djamil Padang, siang kemarin tampak lebih ramai dari biasanya. Selain keluarga pasien, dan pengunjung yang kebetulam membesuk keluarga mereka di rumah sakit terbesar di Sumbar itu, bangsal tersebut juga diramaikan awak pers. Ada apa gerangan?
Selidik punya selidik, ternyata di ruangan itu tengah dirawat lima orang anak yang kesemuanya berjenis kelamin perempuan, menderita hydrocephalus. Kepalanya jauh lebih besar dari ukuran normal. Melihat kondisi bocah mungil itu, memang sungguh menyentuh perasaan.


Anak-anak yang cantik dan mungil itu tidak bisa menggerak-gerakkan kepalanya seperti anak normal lainnya.
Sementara itu, orangtua dan keluarga pasien hanya bisa memandang iba pada anak-anak tak berdosa ini. Tidak banyak keluar kata-kata dari mulut keluarga bocah malang itu. Sementara para pengunjung hanya tampak bisik-bisik sesama mereka. Raut belas kasihan dan prihatin, terbayang jelas di wajah mereka.


Sesaat kemudian, salah seorang perempuan berusia sekitar 55 tahunan, tiba-tiba membuka suara. Perempuan setengah abad lebih yang diketahui salah seorang nenek dari bocah yang dirawat menuturkan, saat baru lahir, cucunya terlihat normal. Namun dalam perkembangannya, keanehaan mulai terlihat di kepalanya yang membesar. ”Kami bingung dan tidak tahu jenis penyakit ini. Kata tetangga, ini penyakit aneh. Entahlah!” ujar nenek itu sembari mengusap kepala si bocah.


Memang, menurut Dr Julius July SpBS, ahli bedah syaraf anak, indikasi yang paling nyata dari Hydrocephalus adalah pembesaran kepala yang abnormal. Hal ini dikarenakan pada ubun-ubun bayi masih terbuka, sehingga adanya penumpukan cairan otak dapat dikompensasi dengan melebarnya tulang-tulang tengkorak tersebut. Cairan yang banyak mengisi kepala bayi juga mempengaruhi mata. Akibatnya, mata turun ke dalam kelopak mata bawah, sehingga tidak terlihat seluruhnya.
Bayi atau anak penderita hydrocephalus dapat juga mengalami muntah, kejang, tidur terus-menerus, rewel. Pada kasus yang berat anak dapat gagal tumbuh atau tidak berkembang sesuai usianya.


Ahli bedah syaraf anak di RS Siloam Jakarta itu, kepada Padang Ekspres, di sela-sela seminar sehari ’Bedah Syaraf’ yang diselengarakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumbar, mengatakan, hydrocephalus memang semakin meningkat di Indonesia. Jika dipersentasekan, jumlahnya sekitar 2-3 persen dari populasi. Karena banyaknya penduduk Indonesia, maka otomatis penderitanya juga jadi banyak.


Menurutnya, penyakit yang sering menimpa bayi ini bisa disebabkan beberapa hal. Di antaranya, infeksi, kelainan bawaan, ada tumor di otak. Karena banyaknya penyebab, penanganannya juga sesuai dengan penyebabnya. ”Secara umum yang harus dilakukan adalah pengalihan cairan yang menumpuk di otak. Bisa dengan pemasangan selang ke rongga tengkorak, dialirkan ke perut. Dengan tujuan cairannya tidak menumpuk di kepala,” ujar dokter yang berkesempatan belajar di Western Toronto Kanada ini.


Kemudian, tambah pria asal Bandung ini, setelah cairan bisa diatasi, baru penyebabnya akan diatasi. Jika hydrocephalus didapati sejak bayi, yang harus dilakukan adalah menjaga kepala anak tersebut. ”Jangan sampai kepalanya tergesek-gesek, karena anak pengidap penyakit ini kulitnya akan lebih lunak, kemudian orangtuanya harus segera membawa anak untuk ditangani lebih lanj ut. Karena tidak ada obatnya selain ditangani secara medis,” ujarnya.


Murid Prof Nakagawa itu menambahkan, semakin canggihnya teknologi pengobatan membuat penyakit ini sudah bisa diatasi. Apalagi sekarang kesadaran masyarakat semakin tinggi, ketika mendapati anaknya mengidap kelainan orangtua langsung membawa ke rumah sakit.(***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA