Date Kamis, 31 July 2014 | 20:30 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Peristiwa

Merasa Dirugikan Kredit Mobil

Konsumen Adira Ngadu ke BPSK

Kamis, 07-03-2013 | 12:55 WIB | 2372 klik

Bukittinggi, Padek—Merasa dirugikan oleh Adira Finance, sebagai konsumen, Zulfikar melapor ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Bukittinggi. Pihak BPSK pun memproses pengaduan konsumen tersebut dengan memanggil kedua belah pihak.

Dalam proses penyelesaian sengketa yang diajukan Zulfikat (penggugat) terhadap Adira Finance (tergugat), menurut Kasi Perlindungan Konsumen dan Kemetrologian, Refda Ningsih, majelis pun telah memintai keterangan kepada penggugat.

Rabu (6/3), kasusnya pun disidangkan. Dari keterangan yang diberikan penggugat, majelis BPSK masih membutuhkan sejumlah bukti dari penggugat, berupa bukti pembayaran angsuran, dan dimintai untuk memperbaiki laporan pengaduan kepada BPSK.

Selain meminta keterangan dari penggugat, BPSK juga meminta keterangan dari tergugat. Keterangan yang diberikan masing-masingnya diminta satu persatu masuk ke ruang persidangan. “Dari tergugat dihadiri Robi Apriandi dan Julyanto,” katanya.

Untuk memproses penyelesaian sengketa yang diajukan penggugat kepada tergugat tersebut, majelis BPSK meminta kedua belah pihak untuk melengkapi dokumen paling lambat Kamis (7/3) ini. Majelis BPSK yang memproses pengaduan konsumen Adira Finance itu, diantaranya Nasrul M. Phietra, Ali Rahman, Zulkifli Johneva dan lainnya.

Kepada pihak Adira Finance, majelis BPSK meminta supaya mereka membawakan bukti perjanjian kontrak dengan konsumen dan kontrak pidusia. Selaku konsumen Adira Finance, Zulfikar menggugat perusahaan leasing itu ke BPSK karena merasa dirugikan.

Kejadian itu berawal, ketika dirinya melakukan kesepakatan dengan pihak Adira Finance dalam pembelian satu unit mobil Toyota Avanza G M/T warna abu-abu pada Maret 2011.

Dalam kesepakatan awal mobil dibeli secara kredit dengan nilai Rp182.279.402 yaitu berupa utang pokok tambah bunga. Uang muka Rp31.240.000 Pembelian secara kredit itu disepakati selama 48 bulan dengan angsuran perbulan Rp3.798.000.

Namun, ketika kredit sudah berjalan selama 19 bulan dengan pembayaran lancar, permasalahan muncul pada bulan ke-20 ketika pengugat bermaksud ingin melunasi kredit. Saat itu, penggugat mengkalkulasikan harus membayar sekitar Rp80 juta lagi untuk melunasi kredit dengan hitungan bunga per tahun sebesar 6,997 persen.

Namun berdasarkan hitungan pihak Adira, jumlahnya jauh lebih tinggi yakni Rp101.373.000. Anehnya, pada memo draft pre-termination kedua yang dikirim Adira jumlahnya kembali naik mencapai Rp101.511.000.

Setelah melakukan penelusuran lebih lanjut, Zulfikar menyimpulkan, Adira dinilai telah melanggar kesekapatan awal dalam hal penentuan bunga cicilan. “Awalnya disepakati bunga cicilan mobil yang harus dibayar 6,997 persen per tahun, namun naik mencapai 7,13 persen,” jelasnya.

Atas dasar kenaikan tersebut, Zulfikar berusaha menyelesaikan permasalahan itu secara baik dengan cara menyurati pihak Adira Finance. “Beberapa kali saya menyurati pihak Adira, tetapi tidak pernah digubris,” ujar Zulfikar.

Bahkan, katanya, ketika bermaksud membahas permasalahan itu ke pimpinan cabangnya, ia tidak diberikan kesempatan untuk bertemu dan petugas di sana selalu memberikan alasan-alasan tak jelas, sehingga persoalan itu dilaporkan ke BPSK. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA