Date Selasa, 29 July 2014 | 21:46 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Merasa Upah Dipotong, Buruh Ancam Mogok

Rabu, 06-03-2013 | 11:58 WIB | 418 klik

Padang, Padek—Ratusan pekerja tergabung dalam Koperasi Pekerja Bongkar Muat (Koperbam) di Teluk Bayur yang juga anggota Serikat Pekerja Transport Indonesia (SPTI), mengancam mogok kerja. Pasalnya, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Teluk Bayur Padang dinilainya melakukan pemotongan upah buruh, terutama bongkar muat kontainer dan CPO.

Hal tersebut terungkap setelah puluhan buruh rapat mendadak di kantor Koperbam, di jalan Tanjung Priuk No. 24 Teluk Bayur, sekitar pukul 12.00 WIB kemarin (5/3). Mereka berharap Pelindo memperhatikan nasib buruh yang kian terpinggirkan

Pak Wai, 62, Wakil Ketua SPTI Teluk Bayur didampingi perwakilan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Teluk Bayur, Iwan, 53, menyebutkan seluruh pekerja tergabung dalam Koperbam tidak terima atas putusan pemotongan upah tersebut. ”Upah kami dikurangi, sedangkan kami tidak pernah diajak membicarakan pengurangan upah tersebut,” keluhnya.

Terkait upah pekerja selama ini, sebenarnya telah ada dalam Kesepakaan Kerja Bersama (KKB) antara DPW APBMI dengan Koperbam/SPTI. ”Kami tidak terima jika kesepakatan tersebut diganti atau dirubah tanpa ada keputusan jelas. Kesepakatan pemotongan hanya keputusan sepihak saja,” ungkap Pak Wai kepada Padang Ekspres.

Bentuk pemotongan upah yang dimaksud, pembayaran pekerjaan 20 Ft Ful (kontainer berisi) upah Koperbam seharusnya Rp 74.300/unit, sekarang upah dibayar Rp 15.000/unit. Untuk pekerjaan 20 Fit Emty (kontainer kosong), upah Koperbam Rp 66.890/unit, sekarang hanya Rp 9.000/unit.

Jika Pelindo tidak memberikan solusi terhadap persoalan itu, tambah Pak Wai, buruh Koperbam Teluk Bayur yang juga anggota SPTI ini akan mogok kerja. ”Kami meminta persoalan ini cepat diselesaikan. Jika tidak, maka kami akan melakukan aksi,” ancam Pak Wai.

Terpisah Ganeral Maneger PT Pelindo II Cabang Teluk Bayur, Dalsaf Usman membantah pihaknya memotong upah buruh. Apa yang telah ditetapkan PT Pelindo Teluk Bayur itu, katanya, sudah sesuai dengan mekanisme berlaku.

Sejak 13 Februari 2013 lalu, katanya, pemerintah bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menetapkan Teluk Bayur menjadi terminal peti kemas. Jadi, tenaga buruh angkut dikurangi dan kegiatan bongkar muat peti kemas full mekanik. ”Sejak aktivitas bongkar muat menggunakan full mekanik, pekerjaan buruh hampir 100 persen berkurang. Selain itu, efektivitas kerjanya pun meningkat jauh,” terang Dalsaf Usman. (cr2)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA