Date Jumat, 1 August 2014 | 18:50 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Peristiwa

Dulu untuk Ketertiban, Kini untuk Atasi Kemacaten

Pagar Pembatas Jalan Soedirman Akhirnya Dibongkar

Senin, 25-02-2013 | 14:00 WIB | 877 klik
Pagar Pembatas Jalan Soedirman Akhirnya Dibongkar

Pagar pembatas jalan di depan Ramayana

Bagi warga Kota Payakumbuh, pagar pembatas jalan di depan Ramayana, tentu sudah tidak asing lagi. Pagar yang dibangun Dinas Perhubungan pada era kepemimpinan Josrizal Zain-Syamsul Bahri dengan harapan bisa menertibkan arus lalu-lintas itu, sejak Sabtu (23/2) lalu, telah dibongkar oleh petugas suruhan Dinas Perhubungan pada era kepemimpinan Riza Falepi-Suwandel Muchtar, dengan alasan mengatasi kemacetan.

Sama dengan pembangunannya pada tahun 2009 lalu, pembongkaran pagar pembatas jalan yang terbuat dari stainless steel tersebut, menuai pro dan kontra di tengah-tengah warga.

Bahkan di Grup BlackBerry Messenger Warga Gonjong Limo Padang, foto pembongkaran pagar tersebut, menjadi foto yang paling banyak dikomentari sepanjang Minggu (24/2) siang.

”Baru satu tahun dibangun, dibongkar lagi. Siapa yang benar dan salah? Ataukah tidak ada perencanaan?” tulis Nur Kolis, Sekretaris Gonjong Limo Padang yang menautkan foto tersebut. ”Buang-buang anggaran pak. Anggaran Rp2 miliar terbuang. Satu batang besi stainless steel tersebut, harganya sama dengan 1 ekor kambing etawa," komentar Mulyadi, Ketua HIPMI Limapuluh Kota yang tinggal di Kelurahan Ibuah.

Sekadar diketahui, saat pagar pembatas Jalan Soedirman di depan Plaza atau Ramayana Payakumbuh dibangun tahun 2009 silam, Mulyadi memang termasuk aktifis yang paling rajin mengkritisinya pembangunannya lewat media-massa. Pengusaha properti itu menilai, pembangunan pagar pembatas jalan tersebut mubazir bagi anggaran daerah.

Tidak hanya Mulyadi, anggota DPRD Sumatera Barat Supardi yang saat itu menjabat sebagai Ketua Komisi C DPRD Payakumbuh, ikut pula mengkritisi pembangunan pagar pembatas Jalan Sudirman. ”Jalan multifungsi kok dibelah? Ada-ada saja,” ujar Supardi, sebagaimana ditulis Padang Ekspres 23 Juli 2009.

Senada dengan Supardi, intelektual muda Payakumbuh Haji Desra, pernah pula menyorot pembangunan jalan tersebut. ”Dulu, zaman wali kota Darlis Ilyas, telah dibangun jalan dua jalur, kemudian dibongkar Sekarang, kok dibangun lagi? Padahal, proyek ini dibiayai APBD. Hendaknya, proyek APBD bermanfaat untuk rakyat. Bukan untuk kepentingan sesaat, aparat,” ujar Desra saat itu.

Sementara, Dinas Perhubungan Payakumbuh yang saat itu dijabat Harmayunis menyebutkan, pembangunan pagar pembatas Jalan Soedirman atau pekerjaan jalan dua jalur tersebut, selain dilakukan untuk menertibkan arus lalu lintas dan mempercantik keindahan kota, juga dilaksanakan Dinas Perhubungan atas rekomendasi Tim Penilai Wahana Tata Nugraha Pusat.

Setelah mendengar semua kritikan masyarakat dan meminta tanggapan pemerintah kota, Komisi C DPRD pada tahun 2009 merekomendasikan penghentian pembangunan pagar pembatas Jalan Soedirman. Tapi, karena tender sudah dilakukan dan rekanan sudah mulai bekerja, pembangunan yang dihentikan hanya dari bundaran pusat kota atau depan eks Kantor Bupati Limapuluh Kota sampai simpang Masjid Ansharullah Muhammadiyah.

Sedangkan dari depan Bank Nagari sampai Simpang Menteng atau depan mall Payakumbuh, pembangunan pagar pembatas jalan tetap dilanjutkan oleh pemerintah kota. ”Habis, kalau dipaksakan dihentikan semuanya, tentu rekanan yang sudah terlanjur mengerjakan jalan dua jalur tersebut akan rugi dan menggugat pemerintah kota,” begitu komentar Supardi, 2009 silam.

Hampir dua tahun setelah peristiwa tersebut, pagar pembatas Jalan Soedirman, akhirnya benar-benar dibongkar. Hanya saja, tidak semua masyarakat sependapat dengan pembongkaran tersebut, termasuk Mulyadi yang dulu pernah mengkiritisinya. ”Pasang, bongkar, bangun, lalu robohkan, nampaknya menjadi kebiasan baru,” komentar Mulyadi, Minggu sore.

Mulyadi juga mempertanyakan, tingkat urgensi pembongkaran pagar pembatas jalan tersebut. "Kenapa anggaran pembongkaran pembatas jalan itu tidak dipakai untuk memperbaiki irigasi yang rusak? Atau untuk membantu pelajar dan mahasiswa Payakumbuh tidak mampu? Ah, entahlah,” ujar Mulyadi tidak habis pikir.

Disisi lain, Kepala Dinas Perhubungan dan Komunikasi Payakumbuh Adrian menyebut, pembongkaran pagar pembatas Jalan Soedirman, dilakukan untuk mengatasi kemacetan. ”Selama ini, terutama pada hari-hari libur serta pada jam padat, ruas jalan di depan Ramayana, sering macet. Karena, di kawasan itu, juga terdapat perempatan jalan menuju SD dan SMP Islam Raudhatul Janah,” ujar Adrian dalam siaran pers yang diterima Padang Ekspres, Minggu sore.

Selain mengatasi kemacetan, pembongkaran jalan itu menurut Adrian juga dilakukan untuk memenuhi permintaan publik dan perantau. ”Dalam pertemuan Wali Kota Riza Falepi dengan perantau Gonjong Limo Pekanbaru Desember 2012, banyak perantau meminta pemko untuk membongkar median jalan tersebut. Karena, pagar stainless steel yang tingginya mencapai 1,5 meter lebih itu, menganggu pandangan pengemudi. Karena itu, pemko responsif dengan permintaan masyarakat dan perantau,” sebut Adrian.

Menurut Adrian, pagar stainless steel yang dibongkar, bukan tidak bermanfaat atau menjadi barang rongsokan. Melainkan, dipindahkan untuk pagar lingkungan SMAN 4 Payakumbuh di Kelurahan Padang Tangah Koto nan Ampek, Kecamatan Payakumbuh Barat. “Terhadap pembongkaran pagar dan pemindahan stainless steel ke SMAN 4 Payakumbuh, juga teklah dikoordinasikan dengan pihak terkait,” jelas Adrian. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA