Date Sabtu, 26 July 2014 | 12:06 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Bidik Ekspor ke Inggris

Potensi Ikan Nila

Senin, 16-05-2011 | 12:33 WIB | 555 klik
Potensi Ikan Nila

keramba jala apung: Bupati Pessel, Nasrul Abit (dua kanan) bersama Kepala Dinas

Painan, Padek—Pesisir Selatan (Pessel) selaku daerah yang memiliki potensi pengembangan ikan nila, siap mendukung program pemprov untuk mengembangkan ikan nila untuk kebutuhan ekspor dunia. Saat ini, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pessel bersama DKP Sumbar tengah melirik pasar ekspor ikan nila ke Thailand dan Inggris.


“Untuk itu, DKP Pessel akan mengembangkan budidaya ikan nila untuk menyokong produksi. Pengembangan ikan nila ini nantinya akan dilakukan berdampingan dengan ikan mas,” ujar Kabid Perikanan Budidaya DKP Pessel, Zaitul Ikhlas kepada Padang Ekspres, kemarin (15/5).


Program pengembangan budi daya ikan nila ini dilakukan melalui sistem keramba jala apung (KJA). Sedangkan untuk skala besar, akan diterapkan pula sistem budi daya mina padi. Saat ini, KJA ikan nila berjumlah 50 unit. Sedangkan untuk jenis ikan mas, ada 45 unit yang tersebar di lima kecamatan.
“Selama ini, Pessel menyumbang kebutuhan ekspor Sumbar selain dari Danau Maninjau dan Danau Kembar,” jelasnya.


Selain itu, DKP Pessel juga sudah merancang pengembangan budi daya ikan nila dengan sistem pengembangan mina padi. Ini menindaklanjuti program nasional Kementrian Kelautan Perikanan dan Kementerian Pertanian.


“Program mina padi ini dapat dikembangkan melalui potensi sawah padi masyarakat yang memiliki jaminan pasokan air yang berkelanjutan, dengan kerja sama antara pemilik sawah dengan pemodal. Dimana lahan persawahan yang akan ditanami padi itu dijadikan sebagai wadah kolam ikan nila,” terangnya.


Sebelum lahan sawah ditanami padi, oleh pemodal dilakukan perlakuan dulu dengan cara membangunan tali bandar selebar 1 meter di sekeliling pematang. Ini bertujuan agar di saat panen nanti, ikan bisa dipisahkan dan masuk ke dalam saluran tali bandar itu.


Agar ikan tidak tercemar akibat pemupukan, sehingga pemupukan lahan dilakukan di awal. Sebelum padi ditanam, setelah itu baru diisi air, dilanjutkan dengan penyemaian bibit.


“Pola ini akan sangat menguntungkan. Di samping menghasilkan produksi padi, petani juga bisa memproduksi ikan. Sedangkan bila melalui kerja sama dengan pemilik modal, petani tidak harus repot lagi untuk mengolah lahan dan pemupukan, sebab sudah dijamin semuanya oleh pemodal,” terangnya.


Berdasarkan survei awal yang dilakukan DKP Pessel di 12 kecamatan, ternyata potensi pengembangan budi daya ikan nila yang menerapkan pola mina padi ini terbesar di Kecamatan Lengayang. Luas potensi pengembangannya sebanyak 300 hektare di Kampung Koto Kandis, Tampunik, Ganting, Koto Saiyo dan sebagian lagi di Kota Rawang.


“Sedangkan untuk kecamatan lainnya, DKP rencananya melakukan survei, Selasa (17/5). Tentunya juga dengan melibatkan petugas dari Dinas Pertanian,” tuturnya.
Dengan tercapainya program pengembangan budi daya ikan nila dengan menerapkan sistem mina padi ini pada tahun 2012, Pessel akan dapat menyumbang kebutuhan ekspor Sumbar untuk memenuhi permintaan negara Thailand dan Inggris. Dalam hal pendanaan akan dibantu oleh pusat melalui anggaran APBN tahun 2011 dan 2012.


Sedangkan untuk pengembangan budi daya jenis ikan mas, tahun ini juga Pessel melakukan pengembangan dengan sistem keramba besi di samping sistem KJA yang sudah ada sebanyak 45 unit.


“Keramba ini akan dikelola anggota kelompok budidaya yang tersebar di empat kecamatan. Di antaranya, Kecamatan Lengayang 1 kelompok dengan 20 keramba dengan lokasi di kampung Koto Kandis, Nagari Kambang Timur, Kecamatan Ranah Pesisir 1 kelompok dengan 10 keramba, Sutra 1 kelompok dengan 10 keramba dan Bayang 1 kelompok pula dengan 10 keramba,” jelasnya.


Program pengembangan budi daya ikan mas menerapkan sistem keramba besi ini terlaksana sebagaimana diharapkan, sehingga kepada anggota kelompok yang mendapat bantuan pembinaan ini diminta harus memiliki kreatifitas pula.


Budi daya ikan mas dengan menggunakan keramba besi ini merupakan program pertama yang diluncurkan DKP Pessel. Peluncuran sistem ini diawali karena besarnya potensi yang bisa kembangkan. Sebab daerah itu memiliki banyak sungai yang tersebar di 12 kecamatan. Seluruh sungai juga tidak tercemar sehingga sangat cocok untuk pengembangan budi daya ikan mas.


“Dengan berkembangnya budi daya ikan nila dan ikan mas ini, diharapkan nanti Pessel bukan saja dikenal sebagai pengekspor ikan laut, tapi juga ikan air tawar,” tutupnya. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA