Date Rabu, 30 July 2014 | 09:55 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

KPK Pastikan Periksa Mentan

Rani Mengaku Ditangkap di Lobi Hotel

Rabu, 06-02-2013 | 11:18 WIB | 1325 klik
Rani Mengaku Ditangkap di Lobi Hotel

Maharani

Jakarta, Padek—Maharani Suciyono, perempuan yang ikut ditangkap KPK bersama tersangka suap Ahmad Fathanah akhirnya muncul ke publik. Dia mengklarifikasi informasi yang beredar soal keberadaan dirinya dan Fathanah di Hotel Le Meridien.

Didampingi pengacaranya, Wisnu Wardhana, dan salah seorang keluarganya bertemu wartawan di Hotel Nalendra Jakarta, tadi malam. Gadis 19 tahun itu menutup kepalanya dengan kerudung warna cokelat. Klarifikasi diawali pernyataan Wisnu.

Menurut Wisnu, perkenalan Rani dan Fathanah diawali di sebuah restoran di Senayan City, mal di sebelah Universitas Moestopo. Saat itu Rani sedang makan bersama beberapa teman.

Fathanah yang juga ada di restoran yang sama, rupanya kepincut dengan Rani. Namun, dia tidak berani berkenalan karena gadis berkulit putih itu tidak sendirian. “Dia menitipkan secarik kertas ke pelayan restoran untuk diberikan kepada Rani,” ujarnya. Pasca menerima kertas yang ternyata berisi nomor telepon dan nama Ahmad itu, Rani pun mengirim SMS.

Setelah itu, mereka janjian bertemu di hotel Le Meridien. Versi Wisnu, Rani datang sekitar pukul 18.30 lalu mengobrol di kafe yang ada di lobi hotel tersebut. Fathanah bercerita kepada Rani jika dia seorang pengusaha. Sebagai bukti, dia mengeluarkan sebuah kartu kredit yang bertuliskan namanya.

Sejurus kemudian, Fathanah menyodorkan uang Rp 10 juta kepada Rani. Gadis itu sempat kaget, dan sempat bertanya untuk apa uang tersebut. Fathanah menjawab, uang itu sebagai hadiah perkenalan. Rani bahkan sempat curiga, dan menanyakan apakah uang itu asli. Setelah diyakinkan, dia pun menerima uang tersebut, hingga akhirnya mereka berdua digerebek KPK.

Selama Wisnu memberikan pernyataan kepada wartawan, Rani hanya terdiam. Sesekali dia tersenyum.

Di akhir kalimatnya, Wisnu menegaskan jika pemberitaan seputar Rani tertangkap di dalam kamar hotel adalah tidak benar. Wisnu juga sempat menunjukkan secarik surat yang ditulis Ibu Rani yang sangat terpukul dengan peristiwa itu. Rani bukanlah perempuan panggilan.

Menurut pihak keluarga, karena Rani masih muda dan belum memiliki pengalaman, dia pun menerima begitu saja uang Rp 10 juta itu. Rani bahkan tidak tahu berapa jumlah uang tersebut, dan dia baru tahu saat diberi tahu penyidik KPK. Dia juga baru tahu jika Fathanah terkait dengan mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq setelah diperiksa di KPK.

Kemudian Rani ikut angkat bicara. Dia minta maaf kepada ibunya, karena pemberitaan seputar dirinya sangat mengganggu psikologis sang ibu. Dia juga minta maaf kepada pihak kampus tempat dia kuliah. “Rani juga minta maaf ke masyarakat Indonesia, terutama kaum perempuan, jika ada pemberitaan yang negative tentang Rani,” tuturnya.

Dia menuturkan, pada dasarnya dia berpikir positif saat memutuskan mendatangi kafe di hotel Le Meridien. “Masa kenalan aja nggak boleh,” tuturnya. Namun, dia tidak sampai bertanya lebih jauh soal Fathanah, dan dia tidak tahu kalau Fathanah merupakan orang dekat tokoh PKS.

Soal pemberian uang, dia sama sekali tidak mengetahui jumlah maupun tujuan pemberian itu. Fathanah hanya mengakui jika itu sebagai hadiah perkenalan sehingga dia menerimanya. “Ngga munafik ya, uang, siapa sih yang ngga mau dikasih uang,” lanjutnya.

Kemudian, dia juga menegaskan jika Fathanah dan dirinya sedang berdua di lobi hotel saat penyidik KPK datang. Bukan di kamar. “Saya sangat terpukul, mental saya, jujur saya tidak kuat,” katanya. Dia akhir pernyataannya, dia mengatakan jika hanya sebentar berada di kafe tersebut, sekitar satu jam.

Pernyataan Rani bertentangan dengan informasi yang disampaikan KPK. Versi KPK, mereka ditangkap di kamar hotel sekitar pukul 22.00. Artinya, Rani sudah bersama Fathanah selama tiga setengah jam sebelum digerebek. Padahal, Rani mengatakan jika dia hanya sekitar satu jam bersama Fathanah.

Ketenangan Rani membeberkan kronologi kisahnya pada malam penangkapan Fathanah itu juga berbeda 180 derajat dengan kondisinya usai menjalani pemeriksaan di KPK selama hampir 30 jam pada Kamis pekan lalu. Rani tampak linglung ketika diantar keluar gedung KPK oleh sejumlah penyidik dan petugas keamanan KPK sekitar pukul 02.30. Dia juga tampak menutupi wajahnya dengan rambut dan tasnya. Foto Rani yang mengenakan kaus hitam dan rok mini berwarna biru dengan muka kusut itu menghiasi halaman depan koran-koran edisi Sabtu (2/2).

Janji Kooperatif

Sementara itu, tersangka kasus suap terkait kuota impor daging sapi Arya Abdi Effendi berjanji bakal kooperatif dengan penyidik. Namun Direktur PT Indoguna Utama, perusahaan importer daging sapi tersebut masih belum menjelaskan detail dugaan suap senilai Rp 1 miliar tersebut. “Nanti apabila sudah tiba waktunya akan kami paparkan. Kami akan kooperatif,” kata pengacara Arya, Harry Ponto, usai mendampingi kliennya yang diperiksa selama tiga jam di Gedung KPK Jakarta, kemarin.

Ia berharap pengungkapan kasus ini bisa memperbaiki birokrasi pemerintahan ke depan. Sambil menebar senyum, ia cukup percaya diri dengan celana jeans robek yang ia kenakan.

Dalam dugaan suap terkait kuota impor daging, KPK menetapkan anggota DPR Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka. Penetapan Luthfi sebagai tersangka dilakukan setelah KPK menangkap tangan Ahmad Fathanah, orang dekat Luthfi, menerima uang Rp 1 miliar dari dua direktur PT Indoguna Utama, Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi.

Kemarin KPK masih memeriksa para pegawai dan pimpinan di PT Indoguna Utama. Kemarin KPK memeriksa Direktur PT Indoguna Soyaya Effendi. Dua pegawai perusahaan tersebut juga diperiksa, yakni Lina (resepsionis) dan Deby (sekretaris pribadi Arya).

Juru Bicara KPK Johan Budi SP mengatakan memang masih belum memeriksa pihak-pihak dari Kementerian Pertanian, instansi yang berkuasa merekomendasikan kuota impor daging. KPK memerlukan informasi untuk pengembangan penyidikan kasus suap itu.”Yang diusut KPK adalah terkait dugaan suap, apakah dalam kasus ini kemudian perlu (memangil Mentan) tentu dipanggil saat nanti diperlukan,” kata Johan kepada pers, di kantor KPK, di Jakarta, Selasa (5/2). Yang jelas, kata Johan, KPK tidak akan berhenti pada empat tersangka yang sudah ditahan saat ini. “KPK belum berhenti di empat tersangka itu,” tegasnya.

Hanya saja Johan mengaku belum mengantongi jadwal panggilan pemeriksaan atas Mentan. Johan juga masih bungkam tentang peran menteri yang juga kader PKS itu dalam kasus dugaan suap hasil operasi tangkap tangan itu. Disebutkannya, kemungkinan Suswono dipanggil pekan ini atau pekan depan.

Johan hanya bisa memastikan bahwa kasus dugaan suap yang menyeret Luthfi memang menyangkut bidang kerja Kementan. “Itu pula kenapa penyidik menggeledah Kementan,” paparnya.

Penetapan kuota impor daging dilakukan dalam rapat di tingkat Menko Perekonomian. Putusan dalam rapat tersebut dilakukan berdasarkan rekomendasi dari Kementan. Rekomendasi itu didasarkan pada data suplai sapi lokal berbanding kebutuhan domestik.

Setelah ada keputusan kuota impor di tingkat Menko Perekonomian, Kementan membagi-bagi kuota tersebut kepada perusahaan importer. Dari rekomendasi Kementan itu, Kemendag akan menerbitkan izin kuota impor. Tahun ini, alokasi kuota daging impor mencapai 80.000 ton (total, termasuk sapi hidup), atau dipangkas 5.000 ton dibandingkan kuota tahun lalu. Untuk kuota impor daging sapi beku, jatah impor tahun ini mencapai 32 ribu ton. PT Indoguna mendapatkan kuota 3.000 ton atau sekira 10 persen dari pangsa impor daging sapi.

SBY Janji Panggil Mentan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ikut angkat bicara terkait kasus korupsi impor daging sapi yang melibatkan Luthfi. SBY memastikan akan memanggil Mentan Suswono yang diduga memiliki keterkaitan dengan kasus tersebut, sepulangnya dari kunjungan di luar negeri.”Begitu sampai di tanah air, saya akan panggil Mentan. Saya akan tanyakan secara lisan untuk memperoleh jawaban sejujurnya, kemudian juga saya akan minta jawaban tertulisnya,” kata SBY dalam jumpa pers di Hotel Hilton, Jeddah, Arab Saudi, Senin (4/2), sebelum bertolak dari Jeddah ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah umrah.

SBY melanjutkan, pemanggilan atas Mentan ini sudah pernah dilakukan sebelumnya. Presiden RI keenam itu pernah memanggil mantan Menpora Andi Malarangeng ketika yang bersangkutan terkait dalam kasus korupsi Hambalang. SBY menegaskan, mekanisme akan bekerja di kabinetnya. Yakni dipanggil, minta penjelasan lisan dan tertulis. Selebihnya, akan menyerahkan semua prosesnya ke KPK.

Terkait rencana pemanggilan dirinya, Mentan Suswono menyatakan kesiapan untuk memenuhi panggilan Presiden terkait dugaan korupsi kasus kuota impor daging sapi yang terjadi di Kementeriannya. “Saya siap dipanggil Presiden. Saya akan beberkan semua kasusnya secara mendetail,” kata Suswono saat ditemui selepas Rapat Koordinasi di Kantor Kemenko Perekonomian, kemarin. (sof/jpnn)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA