Date Selasa, 29 July 2014 | 17:42 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Pendidikan

Kurikulum 2013 Disambut Antusias

Guru tak Perlu lagi Bikin Silabus

Senin, 28-01-2013 | 13:36 WIB | 861 klik

Payakumbuh, Padek—Tidak perlu bikin silabus, tidak ada PR dan utamakan kreatifitas siswa kurikulum KBK dan KTSP yang telah di adopsi sekolah dengan sejumlah perubahan sejak tahun 1994, 2004 dan 2006, kini kembali di sempurnakan dengan hadirnya kurikulum 2013 yang mulai di sosialisasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kurikulum pembelajaran yang disebut-sebut sebagai penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya itu, di sambut antusias oleh guru-guru saat sosialisasi di sampaikan langsung Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim, di gedung pertemuan SMKN 2 Payakumbuh, Sabtu (26/1).

Suara tepuk tangan seribu lebih guru membahana di dalam ruang pertemuan SMKN 2 Payakumbuh, saat Wakil Menteri Pendidikan, menyampaikan guru tidak perlu lagi membuat silabus untuk setiap mata pelajaran. Sebab hanya akan menyulitkan dengan kemampuan guru yang tidak merata. "Guru tidak usah lagi membuat silabus, sebab itu hanya menyulitkan dan memberatkan guru, bahkan ada yang copy paste saja dalam membuatnya. Dengan kurikulum 2013 Silabus akan di buat di pusat," ungkap Musliar Kasim di sambut tepuk tangan para guru.

Penggunaan silabus yang di buat secara seragam di seluruh Indonesia, kata Musliar Kasim akan menghasilkan peserta didik dengan kompetensi dan standar yang sama di seluruh daerah manapun di Indonesia. Kondisi itu, juga akan memperbaiki sejumlah kesalahan yang terjadi dalam pemberian materi terhadap peserta didik.

"Jangankan siswa, orang tua saja kadang banyak yang bingung menjawab pertanyaan dalam buku pelajaran siswa. Sebab materi yang di ajarkan terlalu tinggi," tambah mantan Rektor Unand yang akrab di sapa Ayah oleh mahasiswanya itu.

Menurut Musliar Kasim, kompentensi siswa selama ini menitik beratkan pada aspek kognitif semata, sementara kurang bermuatan karakter. Bahkan tidak jarang hal ini membuat siswa menjadi di bebani dengan materi pelajaran yang belum seharusnya di ketahui siswa. Padahal itu, tidak akan membantu siswa untuk menghadapi kompetensi masa depan dengan acuan global dan juga membuat siswa tidak nyaman dalam belajar.

"Jangan sampai siswa membenci hari Senin, sebab bayangan mereka akan menghadapi belajar yang tidak menyenangkan dan nyaman. Sehingga perlu di lakukan upaya belajar yang lebih bisa di nikmati oleh siswa sambil bermain atau menggunakan media alam sebagai tempat belajar," ungkap Wamen di hadapan Wali Kota Payakumbuh, Riza Falevi, Wakil Wali Kota Suwandel Mukhtar, Kepala Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh dan Limapuluh Kota serta ribuan guru.

Pada kurikulum 2013 yang akan menyebakan berkurangnya mata pelajaran yang di ajarkan. Wamen juga menyampaikan, pendekatan pembelajaran dengan sistem tematik integratif. Dimana sujumlah mata pelajaran akan di ajarkan secara terintagrasi, misalnya dalam mata pelajaran IPA langsung di Integrasikan dengan mata pelajaran lain. Sehingga siswa tidak perlu lagi membawa buku hingga mereka kesulitan membawa buku dalam jumlah yang banyak di dalam tasnya.

"Dengan kurikulum ini, kita bisa memberikan porsi yang sama dalam pemebelajaran. Sehingga akan mampu memberikan siswa keseimbangan dalam kemmampuan ilmu pengetahuanya. Jika tidak siswa akan terkesan memiliki perbedaan ilmu pengetahuan yang signifikan antara satu kemapuan dengan kemampuan lainya," jelas Wamen sambil menganalogikanya seperti sebuah kemeja, jika antara lengan dan krah atau depan belakang baju tidak seimbang hasilnya akan lucu. Sehingga akan sulit di terima oleh masyarakat dan dunia kerja.

Satu lagi yang di sebut Wamen akan menyulitkan siswa dan tidak efektif dalam pembelajaran adalah, Pekerjaan Rumah atau PR. Menurutnya hal ini sama sekali tidak akan mendatangkan manfaat bagi siswa. Sebab akan menjadi beban siswa secara psikologis dalam mengahadapi pendidikan. Sebab asusumsi guru selama ini, lebih menitik beratkan kopetnsi siswa pada penguasaan materi yang lebih cenderung pada hafalan bukan kemampuan penalaran.

Padahal yang paling penting saat ini dengan tuntutan zaman dan dunia kerja yang lebih di butuhkan adalah keseimbangan antara kemampuan Hardskill dan softskil. Dua kemampuan ini harus seimbang untuk bisa bersaing di dunia kerja. Sebab kemampuan secara akademik jika tidak di tunjang kemampuan untuk berkomunikasi atau mempresentasikan kemampuan, akan kesulitan dalam dunia kerja.

Selama ini guru kurang memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengembangkan kreatifitas dalam belajar. Sehingga siswa cenderung tidak percaya diri dan takut untuk tampil kedepan umum mempresentasikan sejauh apakah kemampuanya. Padahal percaya diri untuk bisa tampil kedepan umum merupakan hal penting bagi siswa guna mengasah kreatifitas.

"Kita lihat banyak orang yang sukses dengan mengembangkan kreatifitas nya, meski hanya sederhana saja. Kreatifitas sederhana yang bisa membuat seseorang kaya raya misalnya pengusaha Handyplast yang mampu memberikan sedikit sentuhan untuk menyempurnakan penutup luka," jelas profeisonal asal sumbar yang berkiprah di nasional tersebut.

Kurikulum yang masih dalam tahap sosialisasi itu, akan efektrif di gunakan pada Juli mendatang. Sementara evaluasi akan di lakukan sambil berjalan setiap waktu. " Kita akan lakukan evaluasi sambil berjalan, sejak mulai efektifnya di terapkan kurikulum 2013 pada bulan Juli nanti," pungkas Musliar kasim kepada Padang Ekspres di Payakumbuh.

Menyambut baik kurikulum penyempurnaan tersebut, salah seorang guru SMKN 2 Payakumbuh Sukri, 40 menyatakan dukunganya dengan kurikulum baru yang lebih cerdas dan efektif untuk menciptakan siswa-siswa yang memiliki kompetensi masa depan. “Kita sangat setuju dengan penyempurnaan kurikulum pendidikan ini. Sehingga siswa benar-benar siap menghadapi tantangan masa depan,” ungkapnya.

Ditambahkannya, guru-guru yang selama ini kesulitan dalam membuat silabus, sekarang sudah lebih ringan pekerjaanya. Namun yang paling penting, kata Sukri, kompetensi masa depan dengan mengembangkan kreatifitas siswa dalam dunia pendidikan. “Kita memang melihat banyak siswa tidak percaya diri saat mempresentasikan kemampuanya. Sebab selama ini memang lebih banyak hafalan yang mereka pelajari bukan penalaran dan pengembangan kreatifitas. Mudah-mudahan pendidikan kita jadi lebih baik,” tukasnya.(fdl)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA