Date Sabtu, 2 August 2014 | 11:29 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Banjir Bandang Hantam Malalak

Longsor di Agam, 11 Tewas, 9 Hilang

Senin, 28-01-2013 | 11:01 WIB | 2641 klik
Longsor di Agam, 11 Tewas, 9 Hilang

Kampung Dadok, Kenagarian Sungai Batang rata dengan tanah usai dihondoh longsor

Agam, Padek—Hujan yang mengguyur Kabupaten Agam sepanjang Sabtu (26/1) sore hingga malam, menyebabkan longsor di Kampung Dadok, Kenagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjungraya, Minggu ( 27/1) sekitar pukul 05.30 WIB. Longsor menimbun 12 unit rumah yang dihuni 28 jiwa. Sebelas orang dilaporkan tewas, 9 hilang, dan 8 orang selamat.

Tim Search and Rescue (SAR) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam akan melanjutkan pencarian korban, pagi ini.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari.

Jasad korban pertama kali ditemukan pukul 11.00, yakni Nursinah, 65, Martini, 60, Tarajudin, 65, Asril St Nurdin, 68, Julianti, 26, dan Aldi, 9. Pada pukul 16.00 WIB, tim evakuasi berhasil mengevakuasi Rosda, 55. Terakhir, pada pukul 17.30 WIB, tim evakuasi berhasil menemukan empat jenazah lainnya; Indah, 9, Dila, 8, Erni Astuti, 38, Juliardi, 25.

Seluruh korban ditemukan tertimbun longsor. Pencarian korban dihentikan pada pukul 17.45. Isak tangis keluarga korban pecah saat melihat anggota keluarganya dimasukkan ke kantong mayat.

”Dua rumah di antaranya tak berpenghuni,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam, Bambang Warsito.

Sekadar diketahui, Kampung Dadok, Jorong Tanjungsani adalah zona merah alias rawan bencana. Gempa tahun 2009, daerah ini juga ditimbun longsor. Mujur tak ada korban jiwa saat itu.

Tim evakuasi dari SAR gabungan BPBD Agam, TNI, Polri, PMI, Tagana, Basarnas serta BPBD dari Bukittinggi, Padangpanjang, Pariaman, Padang, Solok Selatan, serta BPBD Sumbar melakukan penggalian secara paralel menggunakan alat berat. Polres Agam juga mengerahkan dua ekor anjing pelacak untuk membantu evakuasi.

“Evakuasi cukup sulit dilakukan, karena jalan menuju ke lokasi bencana, berat. Korban yang ditemukan dalam keadaan tertimbun, kemungkinan sedang tertidur,” tambah Bambang.

Pantauan Padang Ekspres di lokasi kemarin, masyarakat berbondong-bondong melihat proses evakuasi korban meski jalan menuju lokasi terjal. Jarak antara jalan raya Lubukbasung ke lokasi longsor sekitar 5 km.

Kendaraan roda dua dan roda empat baru bisa masuk ke lokasi, setelah satu unit ekskavator dikerahkan untuk membersihkan material longsor yang menutupi jalan menuju lokasi bencana. Jalan baru bisa dilewati kendaraaan pada pukul 12.15. Untuk bisa menembus ke lokasi dengan berjalan kaki, dibutuhkan waktu hampir dua jam.

Asnidar, saksi mata, menuturkan, musibah tersebut terjadi sekitar pukul 05.15. Kala itu, dia baru usai Shalat Subuh. Tiba-tiba saja, ia merasakan ada getaran kuat, lebih dahsyat dari gempa 2009. “Saya merasakan rumah saya terangkat. Saya langsung ambil anak saya dan berlari ke luar rumah dalam keadaan gelap gulita. Dari arah belakang rumah, saya mendengar jeritan minta tolong. Saya tak berani melihatnya karena takut longsor susulan,” ucapnya.

Paginya, Asnidar kaget menyaksikan rumah tetangganya telah rata dengan tanah. “Posisi rumah saya memang di ketinggian, dibanding 12 rumah yang tertimbun itu,” ujar ibu dua anak itu.

Korban lainnya yang selamat, Mariani, 52, menceritakan, saat itu sedang memasak di dapur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah perbukitan. Tapi, Mariani tetap terus memasak. Dia baru kaget ketika rumah kayunya bergetar. “Saya langsung membangunkan suami dan anak-anak. Rumah sudah berguncang. Kami langsung ke luar rumah,” kata Mariani, bersyukur dia sekeluarga selamat.

Korban selamat lainnya, Nurhayati, 50, tidak kalah traumanya. Bagaimana tidak, dia harus kehilangan anak, menantu dan tiga cucunya. Hingga kemarin, belum satu pun jasad keluarganya ditemukan. Rumah Nurhayati berada 300 meter terpisah dari rumah anak, menantu dan cucunya di lokasi longsor. Begitu mendengar teriakan longsor, Nurhayati bergegas menuju rumah anaknya. Namun nahas, rumah anaknya sudah rata dengan tanah.

Anto, 31, korban lainnya, kemarin siang dirujuk ke RSUP M Djamil. Korban menderita cedera kepala, patah di lengan kanan dan luka lebam.

Wali Nagari Sungai Batang, Ahsin Dt Bandaro Kayo menyebutkan, banyaknya korban jiwa karena masih tertidur lelap. “Korban meninggal telah dishalatkan dan dimakamkan,” ujarnya.

Efek Gempa 2009

Manager Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Sumbar, Ade Edwar mengatakan, lokasi longsor adalah zona merah. “Lokasi tersebut bukan tempat hunian layak bagi masyarakat. Gempa 2009 lalu, juga longsor di sana. Pemerintah sudah berencana memindahkan warga di salingka Danau Maninjau, tapi lokasi pemindahan hingga kini belum ada. Longsor di Kampung Dadok, masih efek dari gempa 30 September 2009,” katanya.

Atas musibah itu, Pemkab Agam menetapkan tanggap darurat selama tujuh hari. “Hari pertama, kami akui proses evakuasi belum maksimal. Pada hari kedua ini, proses evakuasi akan lebih maksimal. Bantuan kini telah mulai mengalir. Supaya lebih terarah, kami akan buat nanti satu komando untuk distribusi bantuan,” ujar Kabid Kedarurutan BPBD Agam, Rinaldi.

Data BPBD Agam, tujuh motor juga tertimbun. Longsor juga mengakibatkan padi seluas tiga hektare, jagung 1 haktare dan kasang tanah 1 haktere tertimbun. Diperkirakan kerugian mencapai Rp 500 juta lebih. Longsor dipicu hujan deras yang mengguyur Agam selama tiga hari berturut-turut.

Jalan Sicincin-Malalak Putus

Masih di Agam, galodo menghantam Malalak, Kecamatan Simpang Ampek Koto. Puluhan rumah masyarakat terendam. Banjir bandang tak hanya menerjang permukiman masyarakat, namun juga merusak merusak 10 hektare sawah, menghanyutkan dua sepeda motor dan beberapa ternak.

Darmeli, 53, mengungkapkan, banjir bandang terjadi Sabtu (26/1), sekitar pukul 21.00. “Saat kejadian, saya habis Shalat Isya. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari belakang rumah. Setelah saya lihat, ternyata air setinggi empat meter menerjang rumah warga di sepanjang Batang Sungai Simpang Malalak,” tutur Yulimar, 52, warga lainnya.

Camat Ampekkoto, Herman mengatakan masih mendata jumlah korban dan kerugian. “Informasi yang saya dapatkan, hanya satu rumah yang rusak,” kata Herman.

Akibat banjir bandang, jalan Sicincin-Malalak putus. Satu jembatan penghubung hanyut sehingga tidak bisa dilintasi kendaraan. “Jembatan yang putus itu bukan jembatan utama, dan untuk sementara dipasang jembatan darurat agar warga tidak terisolir dan anak-anak bisa sekolah,” ujar Ade Edward.

Untuk material longsor yang menimbun badan jalan Sicincin-Malalak, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Agam dan provinsi masih melakukan pembersihan.

Akibat putusnya akses transportasi itu, sekitar 200 kepala keluarga (KK) di Nagari Subarang Balingka terisolasi. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA