Date Kamis, 31 July 2014 | 00:10 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Siap Biayai Semua Kegiatan Partai

Surya Paloh Ketum Partai NasDem

Sabtu, 26-01-2013 | 12:05 WIB | 841 klik

Jakarta, Padek—Surya Paloh tidak perlu bersusah payah untuk mengambil alih jabatan ketua umum (Ketum) Partai NasDem. Bos Media Group itu langsung menerima penyerahan jabatan Ketum dari Patrice Rio Capella dalam pembukaan Kongres I Partai Nasional Demokrat (NasDem), di Jakarta Convention Center (JCC), tadi malam (25/1).

Patrice mengatakan, tugas untuk membangun dan mewujudkan NasDem berawal dari mandat yang diberikan Surya Paloh. “Karena itu, di hadapan Saudara-Saudara sekalian, saya kembalikan mandat ini kepada Bapak Surya Paloh sebagai pemberi mandat,” kata Patrice dalam pidato pembukaan kongres.

Patrice juga menyatakan dukungan kepada Surya Paloh yang kini menjabat ketua Majelis Nasional Partai NasDem untuk diangkat sebagai ketum. “Kami yakin, kepemimpinan beliaulah yang akan membawa Partai NasDem menuju kemenangan dan kejayaan. Apakah Saudara-Saudara sepakat dengan saya?” kata Patrice yang disambut riuh tepuk tangan.

Dalam sambutan, Surya Paloh secara halus menyentil mundurnya bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo dari NasDem. “Kita perlu iklan, benar. Kita perlu logistik besar. Tapi, itu bukan segala-galanya bagi NasDem,” katanya dengan suara bergetar.

Surya Paloh juga memastikan tegar menghadapi guncangan yang tengah menghantam internal NasDem. “Kalau takut dilamun ombak, mengapa berumah di tepi pantai? Sekali layar terkembang, pantang surut sampai ke tujuan,” tegasnya.

Kepada wartawan, Surya Paloh mengatakan, setelah menerima mandat sebagai ketum, dirinya akan meneruskan konsolidasi partai. “Ini partai baru. Kepengin menang, tapi tidak semudah itu merealisasikannya,” ucap dia.

Terkait mundurnya Hary Tanoe, Surya Paloh kembali menegaskan itu tidak membawa pengaruh besar bagi NasDem. Baik secara keanggotaan maupun finansial. “NasDem tidak terganggu keluarnya Hary Tanoe. Nggak ada pengaruh,” tegasnya.

Bahkan, dia mengisyaratkan kesiapan untuk terus mem-back up kebutuhan finansial NasDem. “Saya jadi pengusaha 40 tahun lebih. Istilahnya bukan OKB (orang kaya baru). Tapi, saya nggak perlu menyatakan apa yang saya miliki. Saya kan belum jadi pejabat publik,” ujarnya, lantas tertawa.

Meski begitu, dia mengungkapkan bahwa hubungannya dengan Hary Tanoe masih baik. “Bahkan, sebelum mengundurkan diri, kami bicara bagaimana membeli TV One. Jadi, kami tetap ada relationship. Bukan suasana yang marah-marah,” katanya.

Saat ditanya soal rencana pencapresan, Surya Paloh menegaskan bahwa NasDem adalah partai baru. Karena itu, NasDem harus melihat fakta lapangan seberapa besar perolehan suara saat pemilu legislatif nanti. Kalau hanya menjadi nomor tiga, menurut dia, parpol tidak pantas mengajukan capres. “Itu asas kepatutan,” tegasnya.

Mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) yang hadir dalam acara tersebut tidak mempersoalkan adanya pengambilalihan jabatan ketua umum oleh Surya Paloh. JK optimistis Surya Paloh akan mampu memimpin partai dengan baik. “Waktu saya ketua (ketua umum Partai Golkar), dia ketua dewan pertimbangan Golkar,” ujarnya.

Terkait beberapa kader Golkar yang menyeberang ke Partai NasDem, JK juga hanya berkomentar datar. “Itu pilihan masing-masing,” katanya. Adakah proyeksi untuk bertarung di Pilpres 2014 dari Partai NasDem? “Saya ini menghadiri undangan. Masak diundang tidak hadir. Kami bersahabat,” jawab JK.

Serang Balik Hary Tanoe

Di sisi lain, Ketua DPP Partai NasDem Zulfan Lindan bicara blak-blakan soal konflik Surya Paloh dan Hary Tanoesoedibjo. Menurut Zulfan, bergabungnya CEO MNC Group Hary Tanoe ke Partai NasDem tak terlepas dari peran ipar Surya Paloh, yakni Rosano Barack yang juga komisaris utama MNC Group.

“Karena ipar yang bawa, diterimalah (oleh Surya Paloh, red). Jadi, ini proses kekeluargaan. Apalagi, dilihat Hary Tanoe ini ada potensi. Anak muda, punya bisnis bagus,” kata Zulfan dalam diskusi Partai NasDem Pasca Ditinggal Hary Tanoesoedibjo, di Galeri Cafe Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, kemarin (25/1).

Setelah bergabung, Hary Tanoe memiliki ide untuk membuat 500 billboard alias papan reklame di seluruh Indonesia dengan foto dirinya dan Surya Paloh. Tapi, Surya Paloh tidak setuju. “Surya Paloh menjelaskan tidak boleh memunculkan figur, saya atau siapa pun, baik dalam bentuk billboard, maupun iklan,” ungkap Zulfan.

Meskipun sudah ada penegasan itu, menurut Zulfan, Hary Tanoe tetap memasang billboard dengan fotonya di banyak daerah. “Itu juga kenapa di televisi muncul iklan dengan figur pidato sendiri. Semua di luar komitmen. Padahal, organisasi ini punya sistem,” tegasnya.

Dalam menyikapi Kongres I Partai NasDem, lanjut Zulfan, Hary Tanoe sebenarnya setuju Surya Paloh menjadi ketua umum. Namun, Hary Tanoe minta ditetapkan sebagai ketua majelis tinggi dan posisi Sekjen tetap dipegang Ahmad Rofiq. Belakangan, Rofiq bersama Hary Tanoe menyatakan mundur.

“Hary Tanoe tahu, secara konstitusi partai, ini (ketua majelis tinggi) yang menentukan. Surya Paloh mau dibuat seperti Soekarno era 1945-1958, hanya tukang stempel. Kalau membuat surat tidak diteken Sekjen, diveto Hary Tanoe,” kata Zulfan.

Berbagai manuver Hary Tanoe itu, sambung dia, langsung terbaca. Muaranya adalah momentum politik pada Pemilu 2014. Bahkan, Hary Tanoe sempat mengumpulkan 22 pimpinan DPW secara gelap atau ilegal. “Arahnya jelas. Menyingkirkan Surya Paloh dari Partai NasDem,” ujarnya.

Zulfan menyebut, dalam politik, Hary Tanoe masih sangat mentah. “Kami memberikan pelajaran kepada konglomerat. Tidak bisa karena punya uang ingin seenaknya di parpol. Jangan arogan atau sombong,” ujar Zulfan. Dia optimistis tanpa Hary Tanoe, Partai NasDem akan tetap tumbuh besar.

Otokritik

Di tempat sama, mantan Ketua Bidang Internal dan Pengaderan DPP Partai Nasdem Endang Tirtana menegaskan, mundurnya Hary Tanoe cs seharusnya menjadi otokritik. “Partai ini dibangun atas dasar sistem yang modern,” ucapnya.

Dia melanjutkan, pemasangan iklan di televisi ataupun billboard “apa pun modelnya” tidak semestinya dipermasalahkan sepanjang itu berkontribusi terhadap penguatan partai dan pemahaman publik di tingkat basis.

“Soal adanya komitmen Pak Hary Tanoe dan Pak Surya Paloh, perlu gambar atau tidak, saya tidak mengikuti itu secara detail. Yang jelas, tiap melakukan kegiatan partai di daerah, selalu berdampingan (foto) Pak Hari Tanoe, Pak Surya Paloh, dan pimpinan parpol di daerah,” bantah Endang.

Pengamat politik LIPI Siti Zuhro menyindir Partai NasDem. Menurut dia, sejak awal partai itu tidak dibangun dengan fondasi yang sangat kukuh. Pendirian partai yang diawali dengan pendeklarasian ormas menjadi bara dalam sekam. “Kalau Pak Paloh punya niat yang luhur dan mulia (untuk mendirikan parpol), semestinya tidak perlu pakai muter-muter begini. Di satu sisi, secara politik memang cerdik dan lihai. Tapi, sekarang Pak Paloh menuai hasilnya,” ucap Zuhro.

Friksi internal itu, menurut Zuhro, menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi Partai NasDem. Apalagi, harus diakui, hadirnya Hary Tanoe dengan jaringan televisi nasionalnya memberikan pengaruh yang cukup besar. “Dari finansial sampai networking. Sebagai partai baru, lalu menjadi besar. Tapi, ini benar-benar besar atau besar iklan, ya? Kalau tidak di-back up dua stasiun televisi (Metro TV dan RCTI) yang besar itu apa bisa?” sentil Zuhro.

Sekjen DPR-DPD Bergabung

Sementara itu, kejutan terjadi saat pembukaan Kongres I Partai NasDem di Jakarta Convention Centre (JCC) tadi malam (25/1). Tampak hadir Sekjen DPR Nining Indra Saleh dan Sekjen DPD Siti Nurbaya. Ternyata, keduanya memutuskan bergabung dengan partai yang dipimpin Surya Paloh itu. “Ya, saya gabung dengan Partai NasDem,’ kata Siti lantas tersenyum.

Dia mengaku baru kemarin pagi mengajukan pengunduran diri sebagai Sekjen DPD. Surat pengunduran diri sudah diserahkan kepada pimpinan DPD. “Saya pindah dari jalur birokrat ke jalur politik,” ujarnya. Siti mengungkapkan, berdasar PP No 7/2004, seorang PNS memang dilarang berpolitik. Karena itu, dia mengajukan pengunduran diri.

Kapan terpikir terjun ke politik, khususnya bergabung dengan Partai NasDem? “Sebenarnya sudah lama saya memperkirakannya,” jawab Siti.

Dia menyatakan, sebetulnya baru memasuki masa pensiun pada 2016 atau usia 58 tahun. Sesuai dengan UU, masa pensiun malah bisa diperpanjang dua tahun lagi atau sampai 2018. “Tapi, saya harus melakukan perencanaan untuk diri saya kan,” ujarnya.

Berbeda dengan Siti yang mundur dari status PNS, Nining Indra Saleh yang beberapa hari lalu mengundurkan dari posisi Sekjen DPR memang sudah tergolong memasuki pensiun. Tepatnya, Nining pensiun pada awal April.

Hingga tadi malam, Nining masih berkelit soal partai yang akan menjadi tempatnya berlabuh. “Saya undangan sebagai peninjau,” elaknya. Tetapi, secara terpisah, Siti membenarkan bahwa Nining juga bergabung ke Partai NasDem. “Iya, kami sama-sama di sini,” kata Siti. (pri/c7/agm/jpnn)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA