Date Sabtu, 26 July 2014 | 03:34 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Pendidikan

Gara-gara Terlambat Masuk

Oknum Guru Aniaya Dua Siswi

Rabu, 23-01-2013 | 12:55 WIB | 1670 klik

Bukittinggi, Padek—Dunia pendidikan kembali ternoda. Salah seorang guru bidang studi Pendidikan Kewarga Negaraan (PKN) di SMA Negeri 4 Bukittinggi, berinisial “EV” tega menganiaya dua siswinya hanya gara-gara terlambat masuk sekolah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Padang Ekspres Selasa (22/2) di SMA Negeri 4 Bukittinggi, ke-dua siswi yang mendapat tindak penganiayaan oleh “EV” tersebut, yakni Putri Hesti Melani dan Rara Anggita Fela, keduanya duduk di kelas X.

Akibat penganiayaan yang terjadi Senin (21/1) sekitar pukul 08.10 WIB itu, Rara Anggita Fela menderita luka robek pada telingga sebelah kanan hingga mengeluarkan darah. Sementara anting-anting di telinga sebelah kiri Putri Hesti Melani, patah.

Kedua siswi itu memang terlambat masuk sekolah, yang semestinya masuk pukul pukul 07.30 WIB, sementara keduanya masih berada di luar setelah jam belajar berjalan 40 menit, itu pun diketahuinya dari salah seorang murid yang juga terlambat hari itu.

Mendapat laporan demikian, pelaku yang saat itu bertugas sebagai guru piket, langsung pergi ke luar, dan mendapatkan kedua siswinya tersebut sedang berjalan bergandengan, sang guru “EV” pun memanggilnya, kemudian menjewer telingga kedua siswi tadi.

Tidak hanya itu, saat telinga kedua siswi masih dipegang, kemudian kepala kedua siswi saling dibenturkan. Bahkan kedua siswi itu dihina dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang pendidik.

Khabar tidak menyejukkan itu pun sampai kepada anggota dewan. Sehingga, Ketua Komisi B DPRD Kota Bukittinggi, Yontrimansyah, bersama anggota dewan lainnya, yakni Kamasril Katik Nan Kayo dan Muhksin, langsung mendatangi SMA N 4 tersebut.

Kepada anggota dewan, pelaku mengakui perbuatannya dan didengar langsung oleh Kepala SMA Negeri 4, Firdaus, yang juga dihadiri oleh pihak Dinas Pendidikan Pemuda dan OLahraga (Disdikpora) Bukittinggi, diwakili Syahrial Wahid.

Pelaku yang merupakan guru pindahan dari Medan (Sumatera Utara) tersebut mengakui telah berbuat khilaf dan minta maaf. Bahkan Ketua Komsi B Yontrimansyah menilai, tindakan yang dilakukan oleh pelaku tersebut tidak mencerminkan seorang pendidik.

”Dewan merencanakan akan mendesak pihak Disdikpora untuk mengambil tindakan kepada guru tersebut. Apabila Disdikpora tidak memberi tindakan tegas kepada guru bersangkutan, dewan akan mengambil langkah lain agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” katanya.

Kepala SMA Negeri 4 Bukittinggi, Firdaus, mengatakan, peristiwa ini akan dilaporkan kepada Disdikpora, selaku pemberi sanksi kepada pelaku. Mesi siswa yang terlambat masuk sekolah biasanya akan diberi sanksi dengan membesihkan perkarangan sekolah.

”Namun, memukul murid dan menghinanya dengan kata-kata yang tidak sopan, merupakan perbuatan tidak pantas dilakukan oleh seorang guru,” tegasnya. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA