Date Sabtu, 26 July 2014 | 20:10 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Perjuangan Seorang Ibu Mencari Buah Hati yang Hilang

Karena Miskin, Anak Diambil Teman Majikan

Senin, 31-12-2012 | 13:03 WIB | 694 klik
Karena Miskin, Anak Diambil Teman Majikan

Nengsih tak pernah lelah mencari putrinya, Fitria Handayani.

Hati ibu mana yang tak perih, jika harus dipisahkan dari anak kandungnya. 18 hari sudah Nengsih mencari putrinya, Fitria Handayani, tapi belum berhasil. Wanita berusia 38 tahun ini harus terpisah dengan putrinya karena kemiskinan yang mendera.

Dalam doanya, Nengsih berharap bisa dipertemukan gadis kecilnya yang baru berusia 2 tahun 3 bulan. Sejak diadopsi teman majikannya, Nengsih tak tahu keberadaan sang buah hati.

Di pengujung tahun 2012, Nengsih menahan kerinduan ingin berjumpa bidadari kecilnya. Di rumah shelter Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sumbar di Padang, warga Muaralabuh, Solok Selatan ini tiada henti berdoa bisa bertemu dengan anak ketiganya.

Saat ditemui Padang Ekspres di rumah shelter P2TP2A Sumbar, akhir pekan lalu, Nengsih bercerita kepedihannya. Pada suatu hari, suaminya pamit ke luar rumah. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan tahun, “Bang Toyib” tak pulang-pulang.

Hingga ia mendapat kabar, suaminya berada di Padang. Nengsih pun mencari suaminya ke ibu kota Sumbar, walau ia tak tahu di mana suaminya tinggal. Sesampai di Padang, hidupnya terlunta-lunta, hingga akhirnya tersesat di depan Kantor Pol PP Padang.

Karena dikira gelandangan dan pengemis (gepeng), Nengsih dan anaknya ditangkap Pol PP, meski akhirnya dilepaskan kembali. Selama berkelana, beruntung Nengsih bertemu seseorang yang baik hati, bersedia menolong dan menampungnya. Perempuan itu bernama Yet. “Selama setahun, saya tinggal di rumah shelter P2TP2A. Hingga kemudian, saya dapat kabar suami saya telah menikah lagi,” tutur wanita berkulit hitam itu.

Selama di shelter, Nengsih dan ketiga anaknya diberi makan dan pakaian. “Dia (Yet, red) penolong saya selama di Padang. Setelah setahun di Padang, tentu sudah banyak orang yang saya kenal. Saya tak mau selamanya menggantungkan hidup dengan Yet. Saya mau cari uang sendiri untuk memberi makan anak-anak saya,” ucapnya.

Hingga kemudian, seorang teman yang baru ia kenal mengajaknya untuk bekerja di rumahnya sebagai pembantu. Nengsih pun menyetujui tawaran tersebut. Sejak itulah, dia tinggal di rumah temannya tersebut bersama ketiga buah hatinya. “Sebelum berangkat, saya minta izin ke Yet. Saya katakan, saya ingin mencari uang sendiri. Yet meminta saya untuk tak segan-segan ke rumah, jika saya butuh pertolongan,” kenangnya.

Tiga hari bekerja sebagai pembantu, datang teman majikannya meminta mengasuh anaknya. Perasaan Nengsih kala itu antara rela dan tidak rela. Dia rela karena sadar tak mampu mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Namun di dalam hati, dia tidak ingin berpisah dengan si bungsu.

“Saya bingung kala itu. Kalau saya tak serahkan, nanti majikan marah. Saya masuk ke kamar. Setelah itu, saya kembali ke ruang tamu. Ketika itu saya mendengar mereka bicara agar tidak memberitahu alamatnya kalau jadi anaknya diambil,” tutur Nengsih.

Meski belum ada persetujuan dari Nengsih, setengah memaksa sang majikan dan temannya meminta Nengsih menandatangani kertas bermaterai sembari memberi uang sebesar Rp 1 juta. “Saya terpaksa membiarkan anak saya dibawa pergi. Saya tak mau tanda tangani surat itu karena saya anggap sama saja menjual anak saya. Tapi, uang itu dipegang majikan saya,” bebernya.

Setiap hari, Nengsih terus menanyakan keberadaan anaknya pada sang majikan. Namun, tak pernah diberitahu. Setelah 10 hari dia bekerja, Nengsih pun diusir dari rumah tersebut dengan diberi uang sebesar Rp 1 juta.

Ibu tiga anak ini tak pernah letih mencari anaknya. Ia pun mengadukan persoalan yang dihadapinya ke Polda Sumbar. Saat itu, anggota Polda Sumbar menyarankannya ke P2TP2A Sumbar.

Hatinya bertambah miris ketika orang meragukan Fitria Handayani adalah anaknya. “Saya punya bukti akta kelahirannya. Saya yang mengandung dan menyusuinya selama 2 tahun 3 bulan. Payudara saya sudah bengkak karena tak lagi menyusui,” tuturnya sembari memerah ASI.

”Saya hanya ingin tahu di mana keberadaan anak saya. Saya ingin tahu dia sehat atau sakit. Batin saya sebagai ibu tak bisa menahan kerinduan terhadap anak,” ucapnya sembari menyeka air mata.

Uang Rp 1 juta tersebut dititipkannya kepada salah seorang polwan di Polda Sumbar. “Saya memberikan uang itu ditemani P2TP2A. Saya takut memegang uang itu. Nanti uang itu hilang atau terpakai. Bahkan saat anak saya kedua minta uang jajan, saya tak mau memberikan uang itu. Biarlah dia menangis minta jajan dari pada uang itu harus saya berikan. Saya ingin, anak saya kembali,” ucapnya.

Sekretaris P2TP2A Daslinar ketika dikonfirmasi, mengaku telah memberikan pendampingan pada Nengsih selama ditangani Polda Sumbar.

Ketika Padang Ekspres mengonfirmasi kejadian itu pada Yuliati, mantan majikan Nengsih itu menyangkal telah mengangkat Nengsih sebagai pembantu rumah tangga. “Memang Nengsih yang saya kenal bernama Linda itu, pernah tinggal di rumah saya beberapa waktu lalu. Tapi tidak sebagai pembantu, hanya karena kasihan dengan nasibnya yang menjanda,” kata Yuliati.

Yuliati beralasan hanya sebagai penghubung ketika temannya mengambil anak Nengsih. “Yang mengambil anak Nengsih itu temannya Eli,” imbuhnya.

Eli sendiri adalah teman satu kantor Yuliati di Pol PP Padang.

“Saya menawarkan teman saya untuk mengambil anak angkat, dia pun setuju. Makanya, saya pertemukan teman saya itu dengan Nengsih di rumah Yuliati,” terang Eli ketika dikonfirmasi Padang Ekspres.

Mengenai uang yang diberikan temannya itu, Eli mengaku hanya uang basa-basi kepada Nengsih. “Setelah menerima uang dan melepas anaknya, Nengsih berjanji akan menandatangani surat perjanjian, dan tidak akan menuntut di kantor saya, Senin (10/12), tapi ia tidak pernah datang,” ulas Eli.

Eli sendiri berencana mempertemukan Nengsih dengan temannya yang membawa anak Nengsih. “Hingga sekarang, teman saya itu belum mau mengangkat anak Nengsih sebelum perjanjian dengan Nengsih ditandatangani,” ujarnya.

Eli pun bingung dengan sikap Nengsih. “Jika Linda (Nengsih, red) ingin mengambil anaknya, kenapa ia tidak mendatangi saya ke kantor. Saya kan bisa memanggil teman saya itu untuk dikembalikan. Teman saya juga tidak terima dengan tuduhan seperti itu,” tuturnya. (mg18)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA