Date Selasa, 29 July 2014 | 23:47 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Kisah Pasukan M, Pelaku Pertempuran Laut Pertama dalam Sejarah RI

Baru Sebulan Lalu Belanda Tahu Dalang Sesungguhnya

Rabu, 05-12-2012 | 11:50 WIB | 841 klik
Baru Sebulan Lalu Belanda Tahu Dalang Sesungguhnya

Almarhum Kol (Pur) Markadi.

Suatu hari pada April 1946, pasukan laut Indonesia yang diwakili Pasukan M (Markadi) berhasil memukul pasukan Belanda di perairan Bali. Itulah pertempuran laut pertama yang dimenangi pasukan Indonesia sejak kemerdekaan. Kisah heroik tersebut tertuang dalam buku berjudul Pasukan M yang menjadi kado Hari Armada 2012 hari ini.

WAJAH Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Soeparno tampak sangat semringah. Di pelataran gedung utama Mabes TNI-AL Cilangkap Senin lalu (3/12), orang nomor satu di Korps Baju Putih itu dengan antusias menyambut seorang ibu sepuh yang masih tampak anggun. Meski berjalan dengan perlahan, ibu itu mengumbar senyum kepada Soeparno. “Bagaimana kabarnya Ibu? Sehat selalu ya?” kata Soeparno.

Tangan laksamana asal Surabaya tersebut menjabat dengan erat. Ibu itu adalah Oni Markadi, istri almarhum Kolonel (pur) Markadi Pudji Rahardjo. Hari itu, keluarga Markadi memberikan bantuan hibah kepada keluarga besar TNI-AL.

Selain KSAL, tampak Wakil KSAL Laksamana Madya Marsetio, Kadispenal Laksamana Pertama Untung Suropati, serta para pejabat teras TNI-AL. Keluarga Markadi memberikan dua unit ambulans dan peralatan ICU untuk RSAL Mintohardjo. “Bapak Markadi adalah senior dan pendahulu kami yang sangat berjasa bagi Angkatan Laut,” ungkap Soeparno.

Keluarga Markadi juga membiayai riset serta penulisan buku tentang Pasukan M, sebuah pasukan lintas laut yang ber_perang kali pertama di tengah laut dengan Belanda pada 1946. Soeparno dan Oni lantas melihat-lihat dua unit ambulans sambil berbincang akrab. “Kami berharap tidak ada anggota TNI-AL yang sampai masuk mobil ini ya. Jadi, semua harus sehat terus,” kata Oni.

Keluarga Markadi memang terus berupaya menjaga nama baik almarhum. Setiap tahun mereka mengadakan bakti sosial di Monumen Operasi Lintas Laut di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. “Kami harap perjuangan para pendahulu, para pahlawan, siapa saja itu, tidak dilupakan,” tegasnya.

Buku berjudul Pasukan M, Menang tak Dibilang, Gugur tak Dikenang diluncurkan pada Senin malam. Penulisan buku itu digagas Wakil KSAL Laksamana Madya TNI Marsetio pada medio 2012 dan ditulis Iwan Santosa serta Wenri Wanhar dengan editor Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Untung Suropati.

Mereka melakukan riset ke berbagai tempat. Di antaranya, Jembrana (Bali), Denpasar, Banyuwangi, Lawang (Malang), Surabaya, serta riset sejarah dan kepustakaan ke Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH) Den Hague, Museum KNIL Bronbeek, Arnhem KITLV Leiden, serta Nederlands Instituut voor Oorlog Documentatie (NIOD) Amsterdam.

Laksamana Soeparno menilai, Pasukan M adalah pasukan pertama yang paling berani melakukan operasi di tengah laut. “Sekarang bayangkan, melempar granat dalam jarak sangat dekat ke kapal Belanda. Itu butuh perhitungan yang sangat cermat dan berani,” ungkapnya.

Buku Pasukan M, lanjut dia, akan digunakan sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah TNI-AL. “Ilmu almarhum Kolonel Markadi harus diturunkan ke generasi muda. Terutama tentang keberaniannya,” katanya.

Uniknya, Belanda baru tahu bahwa insiden April 1946 itu didalangi Kapten Markadi. “Itu baru mereka ketahui sebulan lalu setelah tim riset kami ke Belanda. Jadi, memang sangat hebat pasukan ini,” ujarnya.

Kadispenal Laksma Untung Suropati mengiyakan. “Benar. Saat kami ke Belanda, mereka baru tahu dan paham bahwa dalangnya adalah Kapten Markadi,” katanya. Untung memimpin langsung tim yang melakukan riset ke Negeri Tulip itu.

Pasukan M adalah pasukan yang dibentuk untuk menyelamatkan Bali yang diduduki tentara Sekutu. Pendaratan Sekutu di Bali dimulai pada Oktober 1945 di Kota Singaraja. Terjadi insiden penurunan bendera Merah Putih yang memancing kemarahan pemuda setempat.

Saat Sekutu dan Belanda mendarat di Bali, Overstee (Letkol) I Gusti Ngurah Rai sebagai perwira tertinggi Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk Sunda Kecil sedang berada di Yogyakarta guna berkonsultasi dengan Markas Besar TRI mengenai pembinaan Resimen Sunda Kecil dan cara-cara menghadapi Belanda. Pendaratan Sekutu dan Belanda berlanjut hingga 3 Maret 1946.

Melihat gerak maju pasukan Sekutu dan Belanda di Bali, Resimen Sunda Kecil diperintah untuk menyiapkan serangan di Bali. Semula Overstee Ngurah Rai meminta persenjataan dari Markas TRI di Yogyakarta. Namun, akhirnya diputuskan dikirim Pasukan Kapten Markadi dan Pasukan Kapten Albert Waroka. Mereka dikenal secara umum sebagai Pasukan M yang mengadakan operasi amfibi pertama TNI melintasi Selat Bali dari titik keberangkatan Banyuwangi ke pantai barat Pulau Bali di sekitar Jembrana.

Dalam buku Pasukan M, mengutip kesaksian I Nyoman Nirba, salah seorang anggota Pasukan M yang masih hidup, dikisahkan Kapten Markadi mempersiapkan pasukan secara serius. Anak buahnya secara disiplin berlatih untuk meningkatkan keterampilan, mulai pertempuran perorangan hingga operasi pendaratan.

Mantan komandan Kompi Polisi Tentara (Provos) TRI Laut Malang tersebut hendak memastikan sendiri keberhasilan operasi dengan mengikuti pelayaran survei medan bersama personel ALRI Pangkalan X Banyuwangi. Bahkan, seminggu sebelum pendaratan, dia mengirimkan empat tim intelijen untuk mengumpulkan informasi pantai pendaratan, baik kondisi geografis terutama tempat-tempat yang aman untuk pendaratan maupun kondisi sosial politik masyarakat serta kekuatan, penempatan, dan patroli pasukan Belanda.

Sehari sebelum hari H, Kapten Markadi masih mengirim beberapa anak buahnya ke Bali. Mereka ditugaskan menjadi pemandu untuk menuntun pendaratan rekan-rekannya begitu perahu-perahu Pasukan M sudah terlihat dari pantai. Kodenya berupa api berbentuk segi tiga. Jadi, bila pasukan pendarat melihat api berbentuk segi tiga, berarti pantai itu aman didarati.

Sejumlah literatur menyebutkan, Markadi menghubungkan tanggal penyeberangan itu dengan hari lahirnya, yaitu 9 April 1927. Tampaknya, perwira muda tersebut bermaksud merayakan ulang tahunnya yang ke-19 di Bali. Sore menjelang malam pada 4 April 1946, Pasukan M bergerak dari asrama Sukowidi ke embarkasi Pelabuhan Boom Banyuwangi. Sebagian berjalan menyusuri tepi pantai, sebagian lagi bergerak lewat jalan besar sambil berpura-pura berlatih perang-perangan. Itu dilakukan untuk mengelabui mata-mata Belanda yang diperkirakan berada di Banyuwangi.

Namun upaya mengelabui Belanda tidak berhasil. Malahan terjadi pertarungan heroik berlangsung kira-kira 15 menit. Pertempuran disebut-sebut sebagai pertempuran laut pertama yang dimenangi angkatan perang Indonesia setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam pertempuran tersebut, korban dari Pasukan M adalah satu orang gugur atas nama Sumeh Darsono dan satu orang mengalami luka tembak, yaitu Tamali.

Markadi lahir pada 9 April 1927 dengan nama lengkap Markadi Pudji Rahardjo. Karena Restrukturisasi dan Rasionalisasi (RERA) TNI 1948, Markadi yang semula pentolan Angkatan Laut mau tak mau menjadi Angkatan Darat. Dia wafat pada 21 Januari 2008 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan.

“Itulah jiwa besar beliau. Sebagai prajurit, walau berangkat dari TNI-AL, karena negara memerintahkan, beliau bersedia berpindah baju,” ungkap Laksma Untung Suropati. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA