Date Selasa, 29 July 2014 | 19:42 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Akibat Perburuan dan Penjualan Ilegal Solok, Padekā€”Populasi berĀ¬bagai jenis burung berkicau teran

Burung Murai Terancam Punah

Sabtu, 01-12-2012 | 11:58 WIB | 1408 klik

Solok, Padek—Populasi berbagai jenis burung berkicau terancam punah. Hal itu disebabkan maraknya penangkapan ilegal di sejumlah kawasan di Kabupaten Solok. Yang paling banyak diburu adalah jenis kacer hitam putih alias murai kampung (copsychus saularis).

Menurut warga, sudah dua tahun jarang terdengar bunyi kicauan burung murai di areal perkebunan maupun hutan. Burung lainnya seperti cendet, pentet alias burung paek-paek keluarga turdidae, kutilang, branjangan, serta berebah di lembah, juga jarang terdengar kicauannya.

Para peburu dengan berbagai peralatan terus mengincar satwa bernilai ekonomis itu. Dari penuturan sejumlah peburu burung, satu ekor murai kampung yang baru didapat bisa dipasarkan minimal Rp 100 ribu.

Selain murai, jenis burung berkicau lainnya seperticucak hijau alias murai daun bertopeng hitam, robin, cucak jenggot yang lazim berhabitat di dalam hutan, juga terancam punah. Murai batu sebagai salah-satu endemik Sumatera di hutan Kabupaten Solok kian langka.

“Burung berkicau bernilai tinggi sekarang sudah sulit dijumpai. Meskipun ada, sangat sedikit jumlahnya.Seperti di hutan Hilirangumanti, Tigolurah, dan hutan belahan utara sekitar Kecamatan X Koto Diatas, kondisinya sama saja,” ujar Solin,40, salah-seorang pemikat burung dalam perbincangannya dengan Padang Eksres, Selasa (27/11).

Pemikat burung yang berpengalaman ini menjelaskan, dari sekian banyak jenis burung berkicau yang paling diminati konsumen adalah varietas burung berkicau pendendang, angresif, dan berbirahi tinggi. Biasanya varietas ini kerap berpopulasi di pedalaman hutan dengan arena bermain paling disukai adalah pohon-pohon besar dan tinggi. Terlebih bila ada pohon besar sedang berbuah, biasanya mengundang banyak jenis burung untuk bermain di sana.

Selain di pepohonan tinggi, keluarga burung berkicau juga suka berhabitat di lembah-lembah yang dibawahnya mengalir anak sungai.

Dari pengamatan Solin yang mengaku telah 10 tahun menekuni pemikat burung, ternyata pekicau di areal lembah suka mencelupkan badan ke air di saat pukul 12.00 siang. “Untuk menangkapnya, perlu kesabaran dan strategi khusus sembari mengandalkan burung pikat sejenis,” imbuhnya.

Ketua Himpunan Pelestarian Hutan Andalan (HPHA) Sumbar, Syafrizal Ben mengatakan, menurunnya jumlah populasi burung hingga di ambang kepunahan, disebabkan kurang agresifnya instansi terkait dalam melaksanakan fungsi pengawasan. Sementara penangkapan tanpa kontrol terus terjadi, sejalan kian meningkatnya jumlah pecandu burung berkicau di berbagai daerah.

“Mengantisipasi kondisi terburuk, instansi berwenang perlu melakukan penangkaran satwa liar/dilindungi, serta memperkuat jaringan kerja sama dengan organisasi terkait lainnya. Bila tidak diantisipasi, murai kampung suatu saat bakal langka,” jelasnya. (t)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA