Date Kamis, 31 July 2014 | 16:26 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Hatta Rajasa Minta Daerah Tuntaskan Pembebasan Lahan

Tol Sumbar-Riau Dibangun 2013

Senin, 12-11-2012 | 11:00 WIB | 3055 klik
Tol Sumbar-Riau Dibangun 2013

-

Padang, Padek—Pemerintah provinsi bersama kabupaten dan kota harus segera menuntaskan pembebasan lahan yang akan dijadikan jalur pembangunan jalan tol Sumbar-Riau. Pasalnya, jalan sepanjang 200 kilometer yang terkoneksi dengan Trans Sumatera itu, bakal dimulai pembangunannya tahun 2013.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pembangunan jalan tol Sumbar-Riau akan membuat pertumbuhan ekonomi Sumbar semakin baik. Proyek ini bagian dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Agar bisa terealisasi sesuai rencana 2013, maka pemerintah provinsi bersama kota dan kabupaten yang dilintasi jalan ini diminta berperan aktif mengawal dalam penyediaan, dan pembebasan lahan.

Dia tidak menutup mata kalau permasalahan yang banyak muncul ketika pembangunan adalah pembebasan lahan. Baik lahan milik masyarakat maupun lahan seperti hutan lindung dan sebagainya.

”Ketersediaan lahan ini kerap jadi kendala dalam pembangunan infrastruktur. Untuk itu perlu kerja sama dalam penyelesaian masalah-masalah itu,” kata Hatta Rajasa di sela-sela menghadiri pelantikan dan deklarasi Rajawali SAR Nusantara Sumbar, di Padang, kemarin (11/11).

Untuk pembiayaan dan pengerjaan, proyek jalan tol ini dilakukan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam hal ini, Hatta menyebutkan PT Hutama Karya. Perusahaan tersebut, sebelumnya masuk daftar satu dari empat perusahaan yang berminat membangun tol Sumbar-Riau.

Dengan telah ditetapkannya pada 2013 jalan tol tersebut dimulai pembangunannya, maka Hatta meminta perusahaan BUMN diminta sudah mempersiapkan diri hingga akhir 2012. “Pembangunan dilakukan secara bertahap, tapi tetap ditargetkan dalam waktu dekat bisa terselesaikan,” tambah Ketua Umum DPP PAN itu didampingi Wali Kota Padang Fauzi Bahar.

Hatta memberikan keyakinan kalau pemerintah pusat akan terus membantu dalam pembangunan di daerah.

Konsorsium Tol

Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto pun menyebutkan, untuk membangun lima ruas tol di Sumatera PT Hutama Karya berencana membentuk konsorsium dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang beroperasi di Sumatera. Dengan adanya pembentukan konsorsium tersebut, diharapkan biaya pembangunan tol dapat ditekan hingga 60 persen.

Jalan bebas hambatan yang digagas pemerintah melalui Kementerian BUMN dengan panjang sekitar 200 km itu, direncanakan dibangun dengan lebar 2 x 25 meter atau 50 meter. Pembangunannya dibagi dalam lima segmen. Tim Teknis dari Bappeda dan Dinas Prasjal Tarkim pada Maret lalu telah meninjau lokasi rencana pembangunan jalan tol tersebut. Bahkan, pembangunan konstruksi jalan tol segmen Duku – Sicincin direncanakan dimulai tahun 2012. Namun karena belum tuntasnya pembebasan lahan, maka diundur dibangun pada 2013.

Kepala Biro Pemerintahan Setprov Sumbar Syafrizal menyebutkan, pihaknya tahun ini berupaya menuntaskan pembebasan lahan di segmen I (Duku-Sicincin) hingga akhir 2012, sehingga pada 2013 bisa dimulai pembangunannya. Saking seriusnya, pemprov pada APBD Perubahan 2012 telah menganggarkan dana sebesar Rp2,5 miliar untuk pembebasan lahan seluas 4 km. “Dari 20 km lahan yang harus dibebaskan, 4 km belum selesai karena pembayaran ganti rugi tanah dan tanaman masyarakat belum tuntaskan,” jelas Syafrizal.

Sebelumnya, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyebutkan, jalan tol merupakan alternatif prasarana transportasi darat dalam upaya mengurangi kepadatan lalu lintas. Berfungsi meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan jasa distribusi produk dari pusat pengolahan ke pusat pemasaran melalui koridor Sumatera, dan sebaliknya menuju Sumbar, khususnya Pelabuhan Teluk Bayur.

Lalu, mendukung percepatan pertumbuhan sektor pariwisata, perekonomian, dan kesejahteraan masyarakat Sumbar di masa datang.

Rencana Pembangunan jalan tol Padang-Riau telah diakomodir secara nasional. Antara lain, pada rencana pembangunan Sumatera Highway 2011- 2029 yang dikeluarkan oleh Bappenas, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 (Perpres No 32 Tahun 2011) serta SK Menteri PU Nomor 631/KPTS/M/2009 tentang Penetapan Ruas Jalan menurut Statusnya sebagai Jalan Nasional.

’Rencana Pembangunan jalan tol juga telah diakomodir dalam dokumen perencanaan daerah, yakni RPJPD Provinsi Sumbar 2005 sampai 2025, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2009 sampai 2029 dan RPJMD Provinsi Sumbar 2010-2015.

Pembangunan jalan tol Padang-Pekanbaru direncanakan melewati Padang, Padangpariaman, Padangpanjang, Tanahdatar, Agam Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

”Jika ini selesai, waktu tempuh Padang-Bukittinggi (dihubungkan feeder jalan tol) dari dua sampai tiga jam menjadi satu setengah jam. Dengan demikian, pengguna jalan tol akan mendapatkan keuntungan berupa penghematan biaya operasional kendaraan (BOK) dan waktu. Hal itu lebih baik dibanding melewati jalan non tol,” kata Irwan.

Tol juga mendukung percepatan pertumbuhan wilayah pembangunan pada sektor pariwisata, sektor perekonomian, sektor pendidikan dan kesejahteraan masyarakat Sumbar. ”Pembangunan jalan tol tersebut akan menghabiskan anggaran Rp10 triliun. Pembangunan jalan tol direncanakan akan selesai selama empat tahun,” ucapnya.

Pembangunan jalan tol didukung Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VIII (Sumbar, Jambi, Riau dan Kepri), Joko Wardoyo. Menurutnya, pembangunan jalan tol Sumbar-Riau dapat memacu perekonomian Sumatera bagian tengah (Sumbagteng).

’Sumbar memiliki keunggulan di sektor pertanian serta perdagangan. Sedangkan Riau kaya sumber minyak dan gas serta kelapa sawit. Jambi unggul di sektor pertanian dan Kepulauan Riau merupakan pusat kawasan industri dan perdagangan. “Nah, jalan tol membuka peluang integrasi pembangunan ekonomi di Sumbagteng. Dengan begitu, inflasi di Sumbar yang biasanya tinggi, akan mudah ditekan karena akses barang ke Sumbar semakin lancar,” jelasnya.

Percepat Perluasan Teluk Bayur

Selain jalan tol, Hatta Rajasa juga mendorong percepatan perluasan dan revitalisasi Pelabuhan Teluk Bayur yang dikerjakan PT Pelindo dengan anggaran sekitar Rp1,6 triliun.

Dari kajian ekonomi, Hatta mengatakan, pelabuhan seluas 544 hektare itu akan menjadi pelabuhan utama di pesisir pantai barat Sumatera yang menghadap ke Samudera Hindia. Pintu keluar masuk logistik perdagangan yang bisa menekan biaya operasional barang sehingga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu, ketika terjadi bencana, pelabuhan ini bisa dijadikan tempat untuk mengakomodir dan menyalurkan logistik dengan baik.

”Tidak ada alasan untuk tidak melakukan pelebaran. Harus kita dorong percepatan dua proyek (jalan tol dan pelabuhan) tersebut. Kita meyakini pelebaran Teluk Bayur akan memangkas atau menekan ongkos. Dengan begitu, akan berpengaruh pada harga barang,” ulasnya.

Hatta menambahkan pembenahan pintu gerbang ekonomi Sumbar itu dinilai bakal mendongkrak nilai ekonomi dan investasi bagi Sumbar. Lancarnya aktivitas bongkar muat di sana membuat tidak lagi terjadi kongesti, apalagi jika semua peralatan sudah lengkap, maka harga jual barang yang dibebankan produsen kepada konsumen bisa ditekan sekecil mungkin. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA